Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Kolom / Puasa

Puasa

Senin, 06 Mei 2019 22:11 WIB


Oleh Otto Syamsuddin Ishak

“Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan kepada kamu, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjaga diri dari kejahatan.” (Al-Baqarah: 183).

Sungguh puasa merupakan tradisi yang sangat tua. Hampir semua kepercayaan memiliki aturan untuk berpuasa. Tradisi tua ini dilakukan bila sedang berkabung dengan menahan haus dan lapar. Islam membaharukan puasa sebagai sebuah metode untuk merekonstruksi akhlak yang tinggi dan rohani suci (menjaga diri dari kejahatan).

Abu Nashr as-Sarraj, dalam kitab Al-Luma’, Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf, dalam Bab Adab Berpuasa, merujuk pada Hadits Qudsi: “Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalaskannya.” Hal ini menjelaskan keistimewaan kedudukan puasa di antara ibadah-ibadah yang lain.

Makna pertama, kata As-Sarraj, “puasa bukanlah ibadah gerakan badan.” Lalu, ia mengacu pada firman: “Puasa itu adalah untuk-Ku.”

Makna kedua, As-Sarraj, “Maka barangsiapa berperilaku dengan akhlak-Ku, maka Akulah Yang Bakal membalasnya dengan balasan yang tidak pernah terbersit dalam benak manusia.”

Lapar, kata Al-Qusyairi, merupakan sebuah varian cobaan dalam ujian Allah swt, dengan merujuk pada firman: “Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan suatu cobaan, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Al-Baqarah: 155).

Karena itu, lapar dan sabar menunjukkan maqam atau jalan pendakian para salik, sehingga menjalankan ibadah tersebut merupakan metode di dalam tasawuf. Bila puasa di bulan suci Ramadhan adalah wajib, maka penempuh tasawuf menambahkan dengan puasa sunat. Mereka merujuk pada Nabi Saw: “Sebaik-baik puasa adalah puasa saudaraku, Daud a.s. Ia sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.”

Oleh karena itu, ada banyak kisah tentang orang-orang yang menjalani tasawuf berkenaan dengan bagaimana mereka berpuasa. Al-Hujwiri mengisahkan tentang Syaikh Ahmad Bukhari dan muridnya. Pada saat itu Syaikh sedang berada di depan satu talam kue manis (hlwa):

+ Syaikh memberi isyarat pada orang muda agar mendekat.

Murid: aku sedang berpuasa.

+ Mengapa?

Serupa dengan yang dilakukan si Fulan.

+ Tidak dibenarkan bagi manusia meniru manusia lainnya.

(Ketika murid ingin berbuka).

+ Karena engkau ingin berhenti menirunya, jangan meniruku, karena aku juga seorang manusia!

Al-Hujwiri menjelaskan bahwa puasa pada intinya adalah berpantangan, yang mengandung seluruh metode tasawuf (thariqat). Puasa wajib bagi setiap muslim selama sebulan penuh (Ramadhan).

Ia pun bermimpi bertemu Rasul saw dan memohon nasihat. Rasul berpesan: “Tahanlah lidahmu dan indera-inderamu.” Hal ini termasuk mujahadat di jalan tasawuf, yang dilanjutkan dengan musyahadat. Bila yang pertama adalah penundukan hawa nafsu, maka yang kedua adalah kontemplasi tentang Tuhan.

Al-Hujwiri berpesan: “Kenyang yang dipadu dengan musyahadat lebih baik daripada lapar yang berpadu dengan mujahadat.”(osi)


Editor :
Makmur Dimila

Komentar Anda