Minggu, 25 Oktober 2026
Beranda / Kolom / Otak, Otot, Lalu Kentut

Otak, Otot, Lalu Kentut

Minggu, 25 Oktober 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Fahmi Yunus

Dosen FEBI, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Fahmi Yunus, PhD. Foto: dok pribadi


DIALEKSIS.COM | Kolom - Pada suatu era, tubuh manusia dipimpin oleh rezim bernama otak. Rezim otak terdiri dari komposisi sel-sel yang pernah menempuh pendidikan hingga ke level paling top, memiliki jam terbang dalam dalam hingga luar negeri, serta punya skill leadership yang mumpuni. Hal ini menjadi mungkin karena otak sering memanjakan dirinya dengan bacaan-bacaan berbobot seperti buku, jurnal, atau karya-karya penting pakar di bidangnya, dan sumber pengetahuan lainnya. Rezim otak membatasi konsumsi media sosial atau konten-konten receh yang dianggap dapat mengurangi fungsi syaraf-syaraf di dalamnya. 

Manajemen dan cara pengambilan keputusan otak berkutat di ranah logika, rasionalitas, olahan pancaindera hingga aspirasi atau data dari bagian tubuh lain. Intelijensi dan sensibilitasnya berasal dari kemampuannya mengalah segala informasi dan data secara cepat dan akurat. Rezim otak paham ia tak bisa mengambil keputusan sendiri, maka ia juga mengajak kaum bijak dari kelompok hati nurani untuk menentukan apa yang terbaik untuk tubuh. Intinya, pemerintahan di era otak bergelimang dengan kebijakan analisis dan pemikiran yang tajam plus mendalam. Kapasitas otak digunakan semaksimal mungkin untuk memastikan tubuh berjalan dengan baik dan nyaman. 

Walaupun kepemimpinan otak mampu mengelola tubuh dengan segala rasionalitas dan logika, ternyata ada kelompok yang anti dan cemburu. Mereka menyebut dirinya dengan ‘genk otot’. Genk ini mulai mengatur strategi dan kekuatan untuk menumbangkan rezim otak yang dianggap terlalu ilmiah. Dengan keahlian mereka di bidang olah otot, genk ini berhasil mengkudeta rezim otak dengan menggunakan kekuatan fisik. Dengan segala kekuatannya mereka mulai merontokkan dominasi otak. Otot juga paling keras kalau berbicara, walau sering tanpa substansi alias tak ada makna. Ia tak malu teriak-teriak di depan organ tubuh yang lain memamerkan kehebatan vokal dan orasi. Otak, walaupun logis, tapi tak mau menggunakan kekuatan fisik untuk melawan. Mungkin karena otak merasa berada di dalam satu tubuh dengan sodaranya itu. “Yang waras ngalah aja” gumam otak. Dus, otak tumbang, diganti dengan rezim baru bernama otot. 

Di era ‘genk’ otot, tubuh dipaksa bekerja keras untuk memperbesar diri. Alasannya, otot yang besar dan kuat akan menjadikan tubuh hebat. Masalahnya, eksploitasi tubuh menjadi kebablasan. Semua makanan masuk ke tubuh tanpa seleksi, karena rezim ini tak punya ilmu bagaimana mengelola tubuh yang sehat. Otot mulai mengkondisikan semua organ tubuh untuk tunduk dan takut padanya. Organ-organ lain tak punya pilihan saat mereka diancam dan dihambat dengan peraturan-peraturan oleh otot yang tidak masuk akal dan cenderung menguntungkan mereka sendiri. 

Organ-organ tubuh pun mulai gelisah. Misalnya, lambung dipaksa untuk menampung segala jenis makanan dan minuman. Akibatnya lambung kelebihan kapasitas, alias full tank tak ada tempat lagi, bahkan untuk udara sekalipun tak bersisa. Usus juga berbanding lurus. Tak ada waktu untuk rileks, otot-otot di dalam usus dipaksa untuk bekerja terus menerus untuk berproduksi tanpa henti. Karena rezim otot tak peduli dan tak sudi mengukur hitung-hitungan konsumsi idel untuk tubuh. Alih-alih membangun dan menjaga otot, justru praktik ini makin merugikan tubuh karena otot, tanpa ia sadari, mulai tergerus oleh lemak, gula, dan penyakit-penyakit yang mulai berdatangan. 

Organ lain juga yang juga terkena getah yaitu paru-paru. Rezim ini memasukkan segala jenis zat termasuk yang berbahaya seperti rokok hingga narkoba. Alasannya, dua zat ini mampu membuat tubuh rilek dan bahagia. Jahatnya, otot punya strategi busuk dengan ‘asap surgawi’ narkoba yang ditujukan untuk membungkam sel-sel otak dengan membuatnya selalu dalam kondisi ‘fly’ dan penuh mimpi. Ini adalah salah satu konspirasi otot dalam melemahkan fungsi otak agar ia tak mampu berfikir kritis dan kehilangan akal sehatnya. Rezim otot kini menjadi licik dan culas karena semua yang dilakukan adalah demi kepentingan diri dan kroninya. Walaupun tanpa ia sadari, melemahnya fungsi otak, baik karena menyusut atau kehilangan fungsi, justru menjadi boomerang baginya sendiri. Alih-alih melanggengkan kuasa, kebenciannya terhadap otak, justru membuat fungsi tubuh berpotensi menjadi lumpuh. 

Di era kekuasaan otot, hukum berjalan sesuka otot mereka. Lama-kelamaan organ tubuh mulai lelah dan jengah. Asap di paru-paru makin menunjukkan level tak sehat. Organ ini mulai menghitam, seiring dengan fungsinya yang mulai menurun dan sesak serta butuh obat untuk meredakan perihnya. Sering ia batuk sambil sesekali mengeluarkan darah.

Sejalan dengan ginjal dan usus yang mulai protes. Tapi apa daya mereka tak mampu berbuat melawan kekuatan otot yang saban hari bertindak tanpa menggunakan ilmu dan perasaan. 

Protes dan kekacauan mulai terjadi di dalam tubuh. Dorongan gas akibat konsumsi berlebihan mulai semakin masif yang dimanifestasikan melalui manifestasi aspirasi organ tubuh yang bernama ‘kentut’. Sebenarnya kentut dalam frekuensi dan kadar tertentu itu adalah sehat dan dianjurkan. Namun tubuh karena over capacity maka produksi kentut juga di luar kapasitas dan tak terkontrol. Lebih parah saat kentut mulai bergerak dan mencari jalan keluar, ia ikut membawa limbah dalam bentuk banjir bandar yang tak terbendung, bernama diare. 

Kini segala macam penyakit mulai menggerogoti tubuh. Otak yang dulunya memimpin juga sudah lumpuh tak berdaya sehingga ia tak bisa memberikan saran dan wejangan untuk membuat tubuh kembali sehat. Ia mengalami stroke berat. Saat otak ingin bersuara, otot dengan sigap membungkam baik menggunakan kekerasan atau menghambat dengan memberlakukan aturan agar otak tak berfungsi normal lagi. 

Kini tubuh manusia makin tak berdaya karena mengalami banyak kegagalan fungsi organ. Bahkan untuk menghadap Allah pun jadi tak mudah karena ia semakin lemah. Yang lebih parah, tubuh mulai meninggalkan kewajiban shalat. Alasannya malas untuk berwudhuk lagi dan lagi, akibat tak kuasa menahan kentut. 

Penulis: Dosen FEBI, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Fahmi Yunus, PhD

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
esdm 3