DIALEKSIS.COM | Kolom - Dunia kerja birokrasi hari ini tidak lagi sama seperti dulu. Cara ASN membangun karier mulai berubah, termasuk dalam memandang jabatan fungsional. Jika dahulu jabatan fungsional kerap dianggap sebagai pilihan setelah seseorang tidak berada dalam struktur, sekarang pandangan itu perlahan bergeser. Jabatan fungsional justru memberi ruang untuk membangun kompetensi, bekerja lebih mandiri, dan menghasilkan output yang dapat diukur.
Jabatan struktural tentu tetap penting. Ada kewenangan, ruang koordinasi dan pengambilan keputusan yang lebih luas. Bagi sebagian ASN, jalur struktural juga tetap menjadi bagian dari cita-cita karier. Itu wajar. Namun ukuran keberhasilan seorang ASN seharusnya tidak berhenti pada jabatan apa yang diduduki, tetapi juga pada pekerjaan apa yang mampu dihasilkan.
Di sinilah judul Menghapus Jejakmu menemukan maknanya. Bukan menghapus jejak seseorang dan bukan pula menghapus peran struktural. Yang perlu perlahan dihapus adalah jejak kebiasaan lama: merasa harus menunggu seseorang mengatakan apa yang harus dikerjakan, padahal tugas, target dan kalender kerja sudah jelas.
Pagi itu, seorang fungsional perencana muda Bappeda Aceh datang ke kantor seperti biasa. Motor diparkir, laptop dinyalakan, lalu bekal dari chef andalan keluarga dikeluarkan dari tas. Bekalnya mungkin tidak masuk dalam tabel statistik, tidak punya indikator kinerja, dan tidak perlu diverifikasi dengan data BPS. Untuk menilai hasil masakan rumah sendiri, rasanya tidak perlu membaca angka inflasi, menghitung indeks harga konsumen, apalagi membuat kajian dampak terhadap kesejahteraan keluarga.
Cukup satu indikator: ketika ditanya, “Enak?” jawabannya harus tepat. “Mantap, di atas rata-rata.” Tidak perlu survei kepuasan masyarakat. Tidak perlu FGD. Apalagi membuat rekomendasi kebijakan. Dalam rumah tangga, satu kalimat yang salah bisa membuat program bekal sekolah untuk hari berikutnya masuk status pending.
Sebab bekal itu bukan sekadar makanan yang dibawa ke kantor. Ia adalah hasil kerja sama lintas sektor dalam skala rumah tangga: ada chef, ada penyedia bahan baku, ada bagian logistik, ada pengguna akhir, dan ada satu evaluator yang biasanya tidak perlu diberi tahu metodologinya. Maka apresiasi tetap harus maksimal. Yang penting hubungan tetap harmonis dan program bekal untuk besok tetap berjalan.
Di samping laptop sudah ada tumbler kopi. Lebih hemat dan praktis. Apalagi warung kopi pada jam dinas kadang bukan tempat paling aman untuk ASN. Kalau kebetulan ada razia Satpol PP, niat “ngopi sambil diskusi” bisa berubah menjadi sesi menjelaskan tupoksi. Laptop boleh dibuka, kopi boleh tersedia, tetapi pertanyaan “sedang tugas apa di sini?” tetap sulit dijawab dengan senyum.
Di kantor pun, niat keluar lima menit membeli kopi kadang berujung panjang. Baru sampai lorong, ketemu teman, ngobrol sedikit, lalu muncul kalimat, “Sekalian bahas yang kemarin.” Kopi belum terbeli, tetapi agenda baru sudah terbentuk. Jadi, membawa kopi sendiri bukan sekadar hemat, tetapi juga strategi agar tetap dekat dengan meja kerja dan jauh dari rapat yang tidak direncanakan.
Setelah kopi aman, bekal tersimpan dan laptop siap, barulah pekerjaan dimulai.
Di balik rutinitas sederhana itu, tentu ada perjalanan karier yang ingin terus tumbuh. Hari ini mungkin masih berada pada jenjang fungsional muda, tetapi ada harapan suatu saat bisa melangkah menjadi fungsional madya. Semoga saja. Bukan sekadar naik jenjang dan mengganti tulisan di tanda pengenal, tetapi benar-benar bertambah kompetensi, pengalaman, tanggung jawab dan kualitas kontribusi.
Sebab semakin tinggi jenjang fungsional, semakin besar pula tuntutan untuk tidak hanya mampu mengerjakan pekerjaan, tetapi memahami persoalan, membaca arah pembangunan dan memberikan solusi. Kalau hari ini masih belajar membaca banyak dokumen, mudah-mudahan ke depan semakin mampu membaca arah kebijakan. Kalau hari ini masih banyak bertanya, semoga suatu saat semakin banyak memberikan jawaban.
Namun untuk sampai ke sana, tidak ada jalan pintas. Yang ada adalah pekerjaan hari ini. Kompetensi yang terus dibangun. Output yang harus diselesaikan. Dan tanggung jawab yang tidak boleh menunggu.
Salah satu yang dibuka bukan hanya laptop, tetapi juga e-Kinerja. SKP yang disusun sejak awal tahun bukan sekadar administrasi. Bagi seorang fungsional, SKP adalah semacam peta kerja. Dari sana pekerjaan dikaitkan dengan kalender perencanaan, tahapan penyusunan dokumen, fasilitasi, telaahan, koordinasi dan target output.
Maka ketika target sudah jelas, tidak ada alasan untuk menunggu disposisi atas pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab sendiri.
Agenda kerja hari ini adalah melakukan fasilitasi dokumen perencanaan pemerintah kabupaten/kota, termasuk RKPD Tahun 2027 dan Perubahan RKPD Tahun 2026. Artinya, pekerjaan tidak berhenti pada membuka dokumen lalu membacanya sekilas. Seorang perencana harus masuk lebih jauh: melihat permasalahan yang diangkat, memeriksa target dan indikator, mencermati program dan kegiatan, kemudian memastikan semuanya tetap sejalan dengan arah kebijakan dan ketentuan yang berlaku.
Dari agenda itulah pekerjaan dimulai. Dokumen dibuka, bagian demi bagian ditelaah, catatan mulai dibuat. Ketika ditemukan indikator yang belum tepat, dicari bagian yang perlu disesuaikan. Ketika target belum konsisten dengan arah kebijakan, diberikan catatan perbaikan. Ketika program dan kegiatan belum cukup menjawab permasalahan, substansinya diarahkan agar lebih kuat. Jika ada bagian yang belum sesuai regulasi, dasar ketentuannya ditunjukkan.
Di sinilah seorang fungsional bekerja. Bukan menunggu dokumen sempurna baru bergerak, tetapi bergerak untuk membantu dokumen menjadi lebih baik. Bukan sekadar menemukan kekurangan, tetapi memberikan jalan keluar atas kekurangan tersebut.
Fasilitasi akhirnya bukan sekadar aktivitas membaca dan memberi catatan. Ia menjadi proses untuk memastikan dokumen perencanaan memiliki logika yang jelas, indikator yang dapat diukur, target yang masuk akal, program yang relevan, serta arah kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah pembahasan selesai, pekerjaan belum selesai. Catatan fasilitasi dirapikan, hasil pembahasan didokumentasikan, rekomendasi disusun dan seluruh proses menjadi bagian dari evidence kinerja. Inilah bagian pekerjaan yang sering tidak terlihat.
Tidak ada tepuk tangan setelah puluhan halaman dokumen selesai dibaca. Tidak ada panggung ketika sebuah indikator berhasil diperbaiki. Sering kali setelah rapat selesai, seorang perencana kembali ke meja kerja dan melanjutkan pekerjaan berikutnya.
Silent working
Bekerja dalam diam bukan berarti tidak berkomunikasi. Artinya, tidak semua pekerjaan membutuhkan panggung. Ada pekerjaan yang cukup dibuktikan melalui hasil. Membaca dokumen, melakukan telaahan, berdiskusi, memberi masukan, menyusun rekomendasi, mendokumentasikan proses, lalu memastikan semuanya dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah budaya kerja fungsional berbeda. Seorang fungsional tidak cukup hanya terlihat sibuk. Pekerjaannya harus memiliki output dan evidence. Bukan sekadar mengunggah dokumen ke e-Kinerja, tetapi menunjukkan bahwa ada kontribusi yang memang dikerjakan. Jangan sampai menjadi sekadar copy-paste with confidence.
Perubahan ini sebenarnya sederhana, tetapi cukup mendasar. Dari budaya “menunggu pekerjaan” menjadi “mengelola pekerjaan”. Dari pertanyaan “apa perintah hari ini?” menjadi “apa target yang harus diselesaikan hari ini?”. Dari “siapa yang menyuruh?” menjadi “apa tanggung jawab kita?”. Dari “sudah dikerjakan?” menjadi “apa output dan evidence-nya?”.
Tentu bukan berarti fungsional tidak membutuhkan arahan. Arahan tetap diperlukan untuk pekerjaan strategis, lintas unit, keputusan yang membutuhkan kewenangan pimpinan atau tugas yang memang berada di luar tanggung jawab rutin. Tetapi untuk pekerjaan yang sudah menjadi tugas dan target sendiri, terlalu lama menunggu justru membuat pekerjaan tertinggal.
Maka Menghapus Jejakmu bukan tentang meninggalkan siapa-siapa. Ini tentang meninggalkan kebiasaan lama.
Meninggalkan budaya “tunggu arahan”. Meninggalkan kebiasaan “nanti kalau sudah diperintah”. Meninggalkan cara berpikir bahwa pekerjaan baru bernilai ketika terlihat oleh pimpinan.
Karena dalam dunia perencanaan, pekerjaan yang penting sering kali justru berlangsung tanpa suara. Di depan layar, di balik dokumen, di antara tabel indikator, di tengah telaahan regulasi, dalam rapat yang kadang ditemani nasi kotak, kemudian kembali ke meja kerja untuk dirapikan menjadi evidence.
Tidak ada panggung. Tidak selalu ada apresiasi. Tetapi hasilnya ada.
Mungkin di situlah ukuran baru seorang fungsional: bukan seberapa sering namanya dipanggil, tetapi seberapa jelas jejak pekerjaannya tertinggal dalam kualitas pembangunan.
Dan kalau suatu hari nanti benar-benar sampai pada jenjang fungsional madya, semoga perjalanan itu bukan sekadar tentang naik satu tingkat. Semoga yang ikut naik adalah kapasitas berpikir, kualitas kerja dan keberanian mengambil tanggung jawab. Sebab jenjang hanyalah penanda; kontribusilah yang memberi makna.
Untuk sekarang, tidak perlu terlalu jauh mengejar titel. Kopi sudah tersedia, laptop sudah menyala, SKP sudah terbuka dan agenda hari ini sudah jelas.
Kalau hari ini belum ada disposisi, jangan buru-buru bingung. Cek SKP. Lihat kalender kerja. Buka dokumen. Lalu mulai bekerja.
Sebab disposisi boleh datang belakangan, tetapi tanggung jawab tidak pernah menunggu.
Pada akhirnya, kita tidak perlu selalu terlihat sedang bekerja.
Biarkan hasil kerja yang membuat kita terlihat. [**]
Penulis: Khairul Ridha (Perencana Muda Bappeda Aceh)