Logo Dialeksis
Bank Aceh (pelantikan ketua DPRA)
Beranda / Kolom / Masyarakat Kopi Tubruk

Masyarakat Kopi Tubruk

Senin, 26 Agustus 2019 11:55 WIB

Font: Ukuran: - +
Foto: Tagar/Fahzian Aldevan


Oleh: Otto Syamsuddin Ishak


“Hei bang, apa kabar?” Belum sempat saya jawab, kawan itu berucap lagi: “Saya ingin dengar opini Abang. Gimana menurut Abang potret masyarakat Aceh sekarang?”

“Waduh! Mana saya tahu…sudah lama saya tak mengikuti dinamika kehidupan di Aceh. Saya baru 2 tahun kembali sehingga saya masih harus fokus adaptasi diri, khususnya dengan kehidupan di kampus!”

Lalu, saya usul: “Mari kita ke warkop di pojok itu.”

Kawan: “Kenapa ke warkop itu?”

Saya: “Di situ masih ada menu kopi tubruk…! Dah lama kan tidak kena kopi tubruk?”

Tak lama kami duduk dan bercakap-cakap tentang situasi atau fenomena (social) paska konflik di Aceh, kemudian tiba 2 gelas kopi tubruk.

Coba kita perhatikan gelas ini, apa yang terjelaskan pada kita. Bahwa bubuk kopi yang kasar dan halus yang pada awalnya berada di dasar gelas, tapi begitu disiram air panas, maka sebagian besar naik ke permukaan gelas.  Singkatnya, pada satu fase, cairan kopi berada di dasar gelas (yang lazimnya berada di bagian permukaan); dan bubuk kopi berada di lapis atas atau permukaan (yang lazimnya berada di bagian dasar gelas).

(Pada salah satu warkop di Meulaboh, orang mengambil piring, lalu meletakkan di mulut cangkir, dan membalikkan cangkir itu sehingga mulut gelas berada di bawah menempel pada piring. Akibatnya bubuk kopi itu ikut membalik, tetap saja berada di bagian atas. Lalu, kopi yang bersih dari bubuk mulai merembes dari celah-celah mulut gelas dan piring, baru kemudian diseruput).

Kembali ke kopi tubruk. Sejalan dengan semakin mendinginnya kopi di cangkir, maka bubuk kopi yang berada di permukaan gelas pelan-pelan turun ke dasar gelas. Kopi yang kita teguk semakin terpisah dari bubuk.

Agaknya, segelas kopi tubruk ini dapat menjadi analogi atau iktibar yang dapat menjelaskan proses transformasi yang terjadi dan struktur sosial yang sedang terbentuk di Aceh selama hampir 15 tahun belakangan ini. Naik-turunnya bubuk menggambarkan dinamika sosial dan politik yang terjadi.

Lalu, apa beda kenikmatannya bilamana kita minum kopi ketika bubuk masih di permukaan gelas dengan manakala bubuk telah mengendap di dasar gelas? Hanya peminum kopi tubruk itu sendiri yang bisa menjawabnya.

Memang, perdamaian di Aceh digerakkan secara transformatif, dengan segala pasang surutnya. Awalnya, Deklarasi Aceh Merdeka (1976), masuk status DOM hingga dicabut (1998), lalu GAM menguat, masyarakat sipil bergerak, dan operasi militer menggelembung. Kedua, proses perdamaian di mulai dengan Jeda Kemanusiaan (2000), bercampur dengan operasi militer, dan Rezim Gus Dur rebah digantikan Megawati, lalu muncul Penghentian Permusuhan (2002), lalu masuk darurat yang dimulai dengan Darurat Militer (2003). Terakhir, Perjanjian Helsinki (2005) sehingga Aceh masuk fase transformasi politik dan sosial hingga saat ini.

GAM sebagai sebuah organisasi politik perlawanan bersenjata ditransformasikan menjadi KPA (ormas). Kemudian KPA bertransformasi menjadi PA (sebuah partai politik lokal) hingga memunculkan PNA.

Setelah rentetan pilkada dan pemilu, maka transformasi struktural ikut bergerak. Pada awalnya, ada dominasi dari partai politik baru. Mereka secara kuantitatif dominan di DPRA. Mereka menjabat sebagai penguasa (eksekutif). Artinya, mereka berada pada posisi puncak piramida struktur politik dan sosial di Aceh. Dalam lain kata, masyarakat berada dalam fase peralihan dominasi politik di parlemen lokal, dan berada di dalam rezim politik yang baru, serta muncul agen-agen baru yang mempengaruhi komposisi dan dinamika birokrasi.

Lalu, bagaimana kita melihat situasi sekarang. Kopi tubruk dingin pelan-pelan. Bubuk kopi yang berada di permukaan bergerak turun, dan sebagian mulai mengendap di dasar gelas. Komposisi anggota parlemen berubah, dan yang menjabat gubernur bertukar, yang berefek pada dinamika birokrasi pemerintahan Aceh. Akhirnya, sudah tentu efek dominonya mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat Aceh secara keseluruhan.

Jadi, dinamika politik, ekonomi dan sosial di Aceh bergerak seperti kaidah kopi tubruk.*     


 


Editor :
Pondek

Diskominfo (pelantikan ketua DPRA)
humas exspo
Komentar Anda