Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Ramadhan dan Geliat Wirausaha Muda Mahasiswa

Ramadhan dan Geliat Wirausaha Muda Mahasiswa

Jum`at, 06 Maret 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Rahmat Fadhil

Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc, Direktur Direktorat Kewirausahaan dan Alumni Universitas Syiah Kuala. Foto: doc pribadi/Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Haha Ramadan - Ramadhan merupakan bulan yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, refleksi diri, dan peningkatan kualitas ibadah. Namun di balik suasana religius tersebut, Ramadhan juga sering menghadirkan dinamika ekonomi yang sangat menarik. Aktivitas masyarakat meningkat, khususnya dalam sektor kuliner, perdagangan kecil, dan berbagai usaha kreatif yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa dan sahur. Momentum ini menjadi peluang yang sangat baik bagi generasi muda untuk belajar berwirausaha secara langsung.

Di lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Ramadhan juga menghadirkan suasana yang penuh dengan semangat kreativitas dan kemandirian ekonomi mahasiswa. Salah satu kegiatan yang menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa adalah Expo dan Peukan Mahasiswa (EXSIS) Ramadhan. Kegiatan ini berlangsung selama bulan Ramadhan, tepatnya dari 1 hingga 20 Ramadhan, dan dipusatkan di kawasan Jalan Teungku Syik Di Lamnyong atau di samping Lapangan Gelanggang USK.

Kegiatan EXSIS Ramadhan menghadirkan puluhan tenant yang sebagian besar dikelola oleh mahasiswa. Berbagai produk dijajakan, mulai dari aneka kuliner berbuka puasa, minuman segar, makanan tradisional Aceh, hingga berbagai produk kreatif lainnya. Suasana yang ramai setiap sore menjelang berbuka puasa menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk belajar menjalankan usaha.

Melalui kegiatan seperti EXSIS Ramadhan, mahasiswa dapat merasakan secara langsung dinamika dunia usaha. Mereka belajar mengelola produksi, menghitung biaya dan keuntungan, melayani pelanggan, hingga mengembangkan strategi pemasaran. Pengalaman ini sangat penting karena kewirausahaan pada dasarnya tidak hanya dapat dipelajari secara teoritis di ruang kelas, tetapi juga harus dilatih melalui praktik nyata.

Perguruan tinggi perlu terus berupaya menumbuhkan ekosistem kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Berbagai program pembinaan mestilah dilakukan, mulai dari kuliah kewirausahaan, pelatihan, pendampingan usaha, kompetisi bisnis mahasiswa, hingga dukungan pembiayaan untuk pengembangan usaha rintisan mahasiswa.

Namun demikian, upaya menumbuhkan dan mengembangkan wirausaha di kalangan mahasiswa tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang cukup nyata adalah masih lemahnya kemauan sebagian mahasiswa untuk terjun dalam kegiatan kewirausahaan. Banyak mahasiswa yang masih memandang usaha sebagai aktivitas sampingan, bukan sebagai pilihan karier yang menjanjikan.

Karena itu, dorongan dan stimulasi dari berbagai pihak menjadi sangat penting. Kampus perlu terus menghadirkan ruang belajar kewirausahaan yang lebih nyata melalui kuliah, bimbingan, pendampingan usaha, kompetisi bisnis, hingga akses pembiayaan bagi mahasiswa yang memiliki ide usaha. Dengan cara ini, mahasiswa diharapkan semakin percaya diri untuk mencoba dan mengembangkan usaha sejak masih berada di bangku kuliah.

Tantangan lainnya datang dari faktor sosial, khususnya pandangan sebagian orang tua. Tidak sedikit orang tua yang masih beranggapan bahwa tujuan utama menyekolahkan anak ke perguruan tinggi adalah agar mereka memperoleh pekerjaan yang baik setelah lulus. Akibatnya, ketika mahasiswa ingin mencoba berwirausaha, terkadang muncul kekhawatiran atau bahkan larangan dari orang tua.

Padahal realitas di lapangan menunjukkan bahwa daya serap tenaga kerja, baik di Aceh maupun di berbagai daerah lainnya di Indonesia, masih cukup terbatas. Setiap tahun ribuan lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja, sementara peluang kerja yang tersedia tidak selalu sebanding dengan jumlah lulusan tersebut. Kondisi ini menuntut adanya perubahan pola pikir dalam memandang masa depan generasi muda.

Dalam konteks ini, kewirausahaan sebenarnya merupakan salah satu solusi yang sangat strategis. Dengan berwirausaha, mahasiswa tidak hanya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Semangat inilah yang perlu terus ditumbuhkan di lingkungan kampus.

Ramadhan menjadi momentum yang sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Selain mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial, Ramadhan juga mengajarkan pentingnya kerja keras, kedisiplinan, dan semangat berbagi. Nilai-nilai ini sejatinya merupakan fondasi penting dalam membangun karakter seorang wirausahawan yang tangguh.

Kita tentu saja sangat berharap bahwa geliat kewirausahaan mahasiswa yang terlihat dalam berbagai kegiatan saat ini tidak hanya berlangsung selama bulan Ramadhan semata. Momentum ini diharapkan dapat menjadi titik awal lahirnya lebih banyak wirausahawan muda dari kampus yang kreatif, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, mahasiswa tentulah diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga berani mengambil peran sebagai pencipta peluang, inovator, dan penggerak ekonomi masa depan. Para Dosen, masyarakat dan pelaku usaha perlu memberi andil yang nyata bagi upaya yang baik ini. Mari bergandengan tangan, bahu membahu, mewujudkan kemandirian anak bangsa kita melalui wirausaha muda yang semakin maju dan berdaya.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc, Direktur Direktorat Kewirausahaan dan Alumni Universitas Syiah Kuala

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI