Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Ramadan 1447 H, Generasi Muda Aceh Diimbau Perkuat Iman dan Kepedulian Sosial

Ramadan 1447 H, Generasi Muda Aceh Diimbau Perkuat Iman dan Kepedulian Sosial

Jum`at, 20 Februari 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pidie–Pidie Jaya, M. Rizqi Rahmadhani. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Momentum Ramadan 1447 Hijriah dimaknai sebagai panggilan untuk memperkuat kualitas keimanan sekaligus memperluas kepedulian sosial generasi muda Aceh.

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pidie-Pidie Jaya, M. Rizqi Rahmadhani, mengingatkan agar bulan suci tidak berhenti pada dimensi ritual, melainkan menjadi titik tolak pembentukan karakter dan tanggung jawab publik.

Menurut Rizqi, Ramadan adalah bulan penuh ampunan yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai sayyidussyuhur, pemimpin dari dua belas bulan. Kehadirannya, kata dia, harus disambut dengan kesiapan spiritual dan kesadaran sosial yang utuh.

“Ramadan hadir seperti tamu mulia yang singgah dalam waktu terbatas. Karena itu, generasi muda Aceh tidak boleh menjadikannya sekadar rutinitas tahunan. Ini momentum memperkuat iman sekaligus memperbaiki kualitas kepedulian kita terhadap masyarakat,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Jumat (20/2/2026).

Ia merujuk firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang-orang beriman sebagai jalan menuju takwa. Baginya, takwa bukan hanya identitas spiritual, tetapi harus terlihat dalam perilaku sosial.

“Takwa itu terlihat dari kepedulian. Mahasiswa dan pemuda yang beriman harus peka terhadap persoalan kemiskinan, akses pendidikan, hingga isu lingkungan di sekitarnya,” kata Rizqi.

Rizqi menilai generasi muda hari ini berada di tengah arus digitalisasi yang cepat, budaya instan, serta tantangan etika di ruang publik. Dalam situasi itu, Ramadan menjadi ruang latihan pengendalian diri.

“Puasa melatih kita menahan diri dari hal-hal yang dilarang, bahkan dari sesuatu yang halal di luar waktu puasa. Itu pendidikan karakter yang sangat kuat. Jika selama 30 hari kita konsisten, maka itu menjadi fondasi perubahan jangka panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebiasaan baik yang dilakukan berulang akan membentuk pola pikir dan kesadaran baru. Disiplin salat berjamaah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, membatasi konsumsi konten negatif, serta meningkatkan aktivitas sosial, menurutnya, dapat menjadi kebiasaan yang menetap jika dilatih secara konsisten.

“Awalnya mungkin terasa berat. Tetapi jika dijalankan terus-menerus, kebiasaan baik itu akan berubah menjadi kebutuhan,” tambahnya.

Rizqi menegaskan bahwa memperkuat iman tidak cukup hanya dengan menambah amalan individual. Perubahan harus dimulai dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan memperbaiki sikap dalam kehidupan sosial.

“Banyak orang ingin menjadi baik tanpa meninggalkan kebiasaan lama yang merusak. Ramadan mengajarkan kita berani memutus rantai itu. Dari sana lahir pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab,” katanya.

Sebagai organisasi kaderisasi, PC PMII Pidie-Pidie Jaya memanfaatkan Ramadan untuk memperkuat pembinaan spiritual sekaligus menggerakkan kegiatan sosial. Agenda yang disiapkan meliputi kajian keislaman, bakti sosial, dan program berbagi kepada masyarakat kurang mampu.

“Spirit Ramadan harus diterjemahkan dalam aksi nyata. Kepedulian publik adalah wujud konkret dari iman yang kokoh,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan memiliki batas waktu dan tidak ada kepastian setiap orang akan bertemu kembali dengannya pada tahun berikutnya. Karena itu, setiap hari dalam bulan suci harus dimanfaatkan secara optimal.

“Jika selama sebulan kita mampu mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat kepedulian sosial, maka kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih bertakwa, tetapi juga lebih siap berkontribusi bagi Aceh,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI