Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Ie Bu Peudah, Sajian Khas Ramadan Asal Aceh Sarat Rempah dan Kebersamaan

Ie Bu Peudah, Sajian Khas Ramadan Asal Aceh Sarat Rempah dan Kebersamaan

Jum`at, 20 Februari 2026 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Seorang pemuda memasak hidangan tradisional Ie Bu Peudah (air bubur pedas) di Meunasah Desa Krueng Anoi, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (20/2/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ramadan 1447 Hijriah kembali menghadirkan denyut tradisi yang sarat makna di berbagai pelosok Aceh. Di Gampong Krueng Anoi, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, warga secara turun-temurun menjaga tradisi memasak Ie Bu Peudah, bubur khas Aceh yang menjadi ikon serba-serbi kuliner Ramadan.

Amatan media dialeksis.com, sejak setelah Jumat (20/2/2026), suasana Meunasah desa setempat tampak lebih hidup dari biasanya. Sejumlah pria meracik daun-daunan dan rempah pilihan yang telah ditumbuk secara bersama-sama kemudian dimasak dalam kuali besar. Aroma khas rempah yang menguar seluruh meunasah.

Ie Bu Peudah dikenal sebagai bubur bertekstur lembut dengan rasa kompleks sedikit pedas, berpadu manis dan asin, serta memiliki aroma yang kuat dan unik.

Bahan dasarnya terdiri atas beras, kacang hijau, jagung, serta aneka rempah dan dedaunan seperti daun tahe peuha, daun nekuet, daun teumpheung, dan daun saga.

Kombinasi inilah yang membedakan Ie Bu Peudah dari bubur biasa. Jika bubur umumnya berwarna putih dan bercita rasa netral, Ie Bu Peudah justru kaya warna dan rasa akibat dominasi bumbu serta proses pengolahan tradisional yang panjang.

Kepala Desa Krueng Anoi, Ridwan, menjelaskan bahwa seluruh bahan dipersiapkan jauh hari sebelum Ramadan. Daun-daunan dipetik menjelang bulan puasa, kemudian dijemur hingga kering sebelum ditumbuk bersama kunyit, lada, dan rempah lainnya.

“Prosesnya tidak sebentar. Setelah ditumbuk, dijemur lagi sampai benar-benar kering. Baru kemudian dibagi dan digunakan setiap hari selama Ramadan,” ujar Ridwan saat ditemui di lokasi oleh media dialeksis.com.

Pembuatan Ie Bu Peudah dilakukan secara bergilir. Setiap hari, sekitar tujuh orang bertugas memasak, dari kalangan pemuda dari umur 17 tahun hingga warga berusia 50 tahun terlibat aktif secara bergantian.

“Mulai selepas Zuhur, sekitar pukul satu siang, proses sudah dimulai. Biasanya butuh lebih kurang empat jam sampai siap dibagikan menjelang berbuka,” jelas Ridwan.

Setiap warga yang mendapat giliran memiliki kewajiban membawa kelapa, minimal empat butir per orang. Bahkan, tak jarang ada yang membawa lebih banyak sebagai bentuk sedekah.

Beras yang digunakan pun berasal dari sumbangan masyarakat. Dalam satu hari, sekitar 15 kilogram beras dicampur dengan bumbu tumbuk dan garam untuk menghasilkan bubur dalam jumlah besar.

Secara keseluruhan, lebih dari 300 kepala keluarga dari desa menikmati hidangan ini setiap hari, belum termasuk warga dari desa tetangga yang turut datang mengambil.

Menariknya, tradisi ini bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan juga mekanisme distribusi sedekah kolektif. Warga membawa beras, jagung, atau bahan lain sesuai kemampuan, lalu semuanya dicampur menjadi satu.

“Kalau ada yang membawa setengah bambu beras atau sedikit jagung, itu tetap kita campur. Artinya sedekah dia bisa dinikmati semua orang setiap hari,” tutur Ridwan.

Ia menyebut, dalam satu kali penumbukan bahan, jumlah beras yang terkumpul bisa mencapai 60 hingga 70 bambu semuanya berasal dari sumbangan sukarela masyarakat.

Model gotong royong ini menciptakan kontrol sosial yang unik. Setiap kelompok yang bertugas memasak berupaya menghasilkan rasa terbaik.

"Orang berlomba-lomba supaya yang dia masak lebih enak. Itu bedanya dengan kalau hanya satu orang yang bekerja,” katanya.

Bagi sebagian warga, Ie Bu Peudah bukan sekadar takjil pembuka puasa. Kandungan beras dan rempah membuatnya cukup mengenyangkan sekaligus menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa.

“Saya sendiri kadang hanya buka dengan Ie Bu Peudah dan sedikit daun cincang. Sudah cukup. Nanti selesai tarawih baru makan lagi,” ujar Ridwan.

Tradisi ini, menurutnya, telah berlangsung sejak ia kecil. Kini di usia lebih dari 60 tahun, ia masih menyaksikan semangat yang sama diwariskan lintas generasi.

“Seingat saya, dari kecil memang sudah ada. Ini warisan nenek moyang kita,” ucapnya.

Keunikan rasa dan konsistensi kualitas membuat Ie Bu Peudah Krueng Anoi dikenal luas. Warga dari desa sekitar bahkan dari kawasan perkotaan kerap datang khusus untuk membawa pulang bubur ini.

“Kalau tidak enak, tidak mungkin orang luar datang ambil. Mungkin karena rempahnya lebih banyak dan karena semangat gotong royong itu,” kata Ridwan.

Distribusi dilakukan hingga menjelang waktu berbuka. Bahkan setelah sebagian petugas pulang, warga tetap datang mengambil hingga menjelang azan Maghrib.

Di tengah arus modernisasi dan maraknya makanan instan, tradisi Ie Bu Peudah menjadi simbol ketahanan budaya lokal. Ia bukan hanya kuliner, melainkan juga medium pendidikan sosial mengajarkan nilai berbagi, kerja kolektif, serta keberlanjutan tradisi.

"Dalam kegiatan kami acapkali mengajak anak muda desa untuk berpartisipasi, ini penting agar generasi muda kedepan paham dan mau melestarikan tradisi ini," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI