Minggu, 04 Oktober 2026
Beranda / Gaya Hidup / Makan Sambil Menikmati Danau di Tengah Kota, Angkringan Danau Mutiara Hadirkan Cita Rasa Berbeda

Makan Sambil Menikmati Danau di Tengah Kota, Angkringan Danau Mutiara Hadirkan Cita Rasa Berbeda

Sabtu, 03 Oktober 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pemilik sekaligus pengelola Angkringan Danau Mutiara, Iswandi. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menikmati makanan sambil bersantai di tepi danau mungkin bukan pengalaman yang mudah ditemukan di tengah Kota Banda Aceh. Namun, suasana berbeda itu kini hadir di Angkringan Danau Mutiara, kawasan Desa Lueng Bata, Banda Aceh.

Berada di sisi danau yang sebelumnya terbengkalai, Angkringan Danau Mutiara menawarkan konsep kuliner yang memadukan suasana pedesaan, pemandangan air, taman bunga, serta aneka makanan bercita rasa khas Aceh dan Nusantara.

Pemilik sekaligus pengelola Angkringan Danau Mutiara, Iswandi mengatakan ide membuka usaha tersebut berawal dari rumahnya yang berada tepat di pinggir danau.

Menurut Iswandi, kawasan tersebut dulunya merupakan area persawahan yang mulai tergenang air sejak sekitar 1990-an. Luas kawasan yang tergenang diperkirakan mencapai hampir empat hektare dan dalam waktu cukup lama tidak dimanfaatkan secara optimal.

“Awalnya kawasan ini terbengkalai. Karena rumah saya memang di pinggir danau, saya melihat ada potensi yang bisa dikembangkan,” kata Iswandi kepada media dialeksis.com, Sabtu (3/10/2026).

Ide tersebut mulai diwujudkan menjelang Ramadan tahun lalu. Saat itu, Iswandi hanya membuat tempat duduk sederhana di sekitar rumah untuk digunakan bersama keluarga dan teman-temannya.

Tak disangka, teman-teman yang datang justru tertarik dengan suasana di sekitar danau. Tempat tersebut dinilai nyaman untuk bersantai, sehingga muncul gagasan untuk menjadikannya sebagai tempat makan yang bisa dinikmati masyarakat umum.

Dari yang awalnya hanya memiliki dua tempat duduk, perlahan fasilitas terus dikembangkan. Area bersantai ditambah dan konsep tempat makan pun dibuat lebih menarik.

“Awalnya hanya dua tempat duduk. Setelah dibuka, ternyata respons masyarakat cukup bagus, sehingga kami terus menambah tempat duduk dan fasilitas,” ujarnya.

Menikmati Kuliner dengan Suasana Danau

Angkringan Danau Mutiara tidak sekadar menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman menikmati kuliner di tengah suasana alam.

Pengunjung dapat duduk santai sambil menikmati pemandangan danau. Taman bunga yang berada di sekitar lokasi turut memperkuat kesan asri dan sejuk.

Iswandi menyebut konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari angkringan pada umumnya. Meski berada di kawasan perkotaan, pengunjung dapat merasakan suasana seperti berada di pedesaan.

“Konsepnya tempat makan dengan suasana danau di tengah kota. Kalau kita duduk di sini, suasananya seperti di kampung, padahal sebenarnya masih di Banda Aceh,” katanya.

Bahkan, Iswandi menggambarkan kawasan tersebut seperti miniatur Danau Laut Tawar di Aceh Tengah dalam versi perkotaan Banda Aceh.

Salah satu daya tarik lainnya adalah keberadaan rakit yang berada di tengah danau. Rakit tersebut dapat digunakan pengunjung untuk menikmati makanan dengan pengalaman yang berbeda.

Rakit dilengkapi sistem katrol sehingga pengunjung dapat ditarik dari dermaga menuju bagian tengah danau, kemudian kembali lagi ke tepian.

Konsep itu menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung yang ingin menikmati suasana danau secara lebih dekat.

Meski menggunakan nama “angkringan” yang identik dengan konsep kuliner Jawa, menu yang disajikan justru banyak mengangkat cita rasa khas Aceh.

Beberapa menu yang tersedia antara lain ikan sambal sunti, sambal ganja, terong geprek sambal sunti, berbagai olahan ikan, ayam, serta menu Nusantara lainnya.

Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah ikan segar sambal sunti. Menu tersebut menggunakan ikan seperti kakap, kerapu, dan jenis ikan lainnya sesuai ketersediaan.

Menu tersebut juga terinspirasi dari cita rasa khas wilayah Barat Selatan Aceh dan disebut mendapat respons positif dari pengunjung setelah diluncurkan.

Selain itu, menu yang menjadi salah satu pilihan favorit pengunjung adalah meramin dengan berbagai pilihan lauk, mulai dari ikan nila, lele, ayam hingga ikan laut. Untuk minuman, tersedia pula es teler buah dan berbagai pilihan minuman lainnya.

Iswandi mengatakan pihaknya sengaja menyediakan menu yang beragam karena setiap pengunjung memiliki selera berbeda.

“Tidak semua orang suka makanan yang sama. Jadi kami juga menyediakan menu Nusantara seperti ikan asam manis, udang asam manis, kepiting asam manis dan menu lainnya,” jelasnya.

Bagi pengunjung yang melakukan reservasi, pilihan menu juga dapat disesuaikan dengan permintaan.

Selain suasana, kesegaran makanan menjadi salah satu hal yang ditekankan pengelola.

Iswan mengatakan makanan tidak sengaja disiapkan sejak pagi untuk kemudian disajikan kepada pelanggan beberapa jam setelahnya. Ikan dan sejumlah menu lainnya dimasak setelah dipesan.

“Nasi juga kami siapkan baru. Memang pelanggan mungkin harus menunggu sedikit, tetapi kami ingin makanan yang disajikan benar-benar dalam kondisi segar,” katanya.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola menjaga kualitas makanan yang diterima pengunjung.

Antusiasme masyarakat terhadap tempat tersebut membuat pengelola harus terus melakukan penyesuaian.

Iswandi mengaku pada awalnya tidak memperkirakan jumlah pengunjung akan cukup banyak. Namun setelah dibuka, kapasitas tempat duduk mulai dirasakan kurang sehingga perlu dilakukan penambahan.

“Awalnya kami kira dua tempat duduk sudah cukup. Ternyata setelah ramai, kami harus menambah lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, tingginya kunjungan juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait ketersediaan lahan parkir.

Beberapa calon pengunjung bahkan disebut harus kembali karena kesulitan mendapatkan tempat parkir. Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian bagi pengunjung lanjut usia atau orang tua yang kesulitan berjalan terlalu jauh dari lokasi parkir.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pengelola berencana menyiapkan area parkir tambahan di bagian belakang rumah. Penambahan tersebut ditargetkan dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu.

Keberadaan Angkringan Danau Mutiara tidak hanya menjadi tempat makan. Kawasan tersebut juga mulai menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat dan keluarga.

Warga dapat datang bersama keluarga maupun kerabat untuk menikmati makanan sambil melihat pemandangan danau.

Di sekitar kawasan tersebut, aktivitas masyarakat mencari ikan juga masih berlangsung. Sebagian warga bahkan telah puluhan tahun menggantungkan aktivitas mencari ikan di kawasan danau tersebut.

Keberadaan aktivitas masyarakat itu membuat suasana di sekitar angkringan terasa semakin alami. Pengunjung tidak hanya mendapatkan pemandangan danau, tetapi juga dapat melihat kehidupan masyarakat yang masih memanfaatkan kawasan tersebut.

Bagi Iswandi, pengembangan Angkringan Danau Mutiara merupakan bagian dari upaya memanfaatkan kawasan yang sebelumnya terbengkalai agar memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap menjaga lingkungan.

Ia ingin kawasan tersebut tetap bersih, asri dan nyaman, tanpa menghilangkan karakter alami danau.

“Harapannya tempat ini bisa menjadi tempat masyarakat bersantai, berkumpul bersama keluarga, sekaligus ikut menghidupkan kawasan yang sebelumnya terbengkalai,” tuturnya.

Angkringan Danau Mutiara buka setiap hari mulai sekitar pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Pengunjung dapat menikmati suasana danau pada siang maupun malam hari, dengan taman bunga dan panorama air menjadi bagian dari pengalaman bersantap.

Dari sebuah kawasan yang sebelumnya terbengkalai, danau tersebut kini perlahan berubah menjadi ruang kuliner dan pertemuan masyarakat. Angkringan Danau Mutiara pun menawarkan sesuatu yang sederhana namun berbeda: makan, duduk santai, dan menikmati suasana alam tanpa harus meninggalkan hiruk-pikuk Kota Banda Aceh. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI