Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Boom! Penjualan Kondom di Indonesia Meledak di Tengah Stigma Sosial

Boom! Penjualan Kondom di Indonesia Meledak di Tengah Stigma Sosial

Jum`at, 13 Februari 2026 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Group Brand Manager DKT Indonesia, Michael Suwito. Foto: doc pribadi/linkedin.com


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Penjualan kondom di Indonesia terus mencatat pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir menurut data dari DKT Indonesia, salah satu penyedia utama alat kontrasepsi termasuk kondom. Pertumbuhan ini terjadi di tengah tren pasangan muda yang cenderung menunda atau memilih untuk tidak memiliki anak.

Group Brand Manager DKT Indonesia, Michael Suwito, menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan kondom tetap menunjukkan double digit growth meskipun penetrasi pasar secara keseluruhan masih tergolong rendah.

“Selama beberapa tahun terakhir kami masih menikmati double digit growth,” ujar Michael dalam diskusi kampanye ‘Mau Kalau Pakai Kondom’ yang digelar di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Michael menambahkan bahwa meskipun penjualan meningkat, tingkat penggunaan kondom di masyarakat nasional masih kecil karena berbagai faktor sosial budaya.

Menurutnya, hambatan utama edukasi dan pembelian kondom masih berasal dari faktor budaya, agama, tekanan sosial, serta stigma yang melekat pada penggunaan alat kontrasepsi ini.

“Konsumen seringkali merasa malu saat membeli kondom. Mereka menunggu sampai toko sepi dan bahkan menyembunyikan pembelian di balik snack agar tidak terlihat orang lain,” katanya mengungkapkan fenomena yang masih kerap terjadi di Indonesia.

Berbeda dengan beberapa negara Barat, DKT Indonesia bahkan mencatat tidak ada lonjakan signifikan penjualan kondom saat momen seperti Hari Valentine, yang biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas hubungan intim. Michael menilai perbedaan ini menunjukkan bahwa budaya dan stigma masih sangat kuat memengaruhi perilaku konsumen, terutama generasi muda di Indonesia.

Di sisi lain, Michael menilai bahwa edukasi seks yang aman mulai meningkat seiring dengan keterbukaan informasi di media sosial dan platform digital. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mencapai penetrasi yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Upaya edukasi masih perlu diperluas agar angka kehamilan yang tidak direncanakan dapat ditekan dan infeksi menular seksual bisa diminimalkan,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Clinical Training Manager DKT Indonesia, dr. Erika Indrajaya, menegaskan bahwa penggunaan kondom memiliki nilai penting dalam konteks kesehatan masyarakat.

“Kondom itu ada tiga fungsi: pertama untuk mencegah kehamilan, kedua melindungi dari infeksi menular seksual termasuk HIV, dan ketiga dapat membantu kenikmatan seksual karena teknologi kondom sudah berkembang dengan banyak varian,” jelas dr. Erika.

Dr. Erika juga menyinggung kebiasaan sebagian pasangan yang masih mengandalkan metode ‘keluar di luar’ (withdrawal) untuk mencegah kehamilan, yang menurutnya memiliki tingkat kegagalan cukup tinggi.

“Kalau tidak dilakukan dengan benar, metode withdrawal sangat berisiko. Anggapannya, 1 dari 5 pasangan bisa tetap menyebabkan kehamilan,” jelasnya.

Menurut laporan pasar, penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi diprediksi terus meningkat seiring dengan modernisasi edukasi kesehatan seksual, penggunaan platform digital, dan variasi produk kondom yang terus berkembang.

Meski demikian, budaya tabu seputar seks dan kontrasepsi masih menjadi hambatan utama bagi penetrasi lebih luas, sebagaimana diungkap berbagai kajian sosial yang menunjukkan bahwa nilai budaya dan norma sosial seringkali menghambat keterbukaan terhadap produk kesehatan reproduksi semacam kondom.

Dengan berbagai tantangan yang masih menghadang, DKT Indonesia menilai bahwa perlu sinergi lebih kuat antara edukasi masyarakat, dukungan kebijakan kesehatan, serta kampanye yang lebih efektif untuk mendorong keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan pemahaman yang sehat terhadap pemakaian kondom di masyarakat.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI