Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Pesona Alpukat dari Negeri Di Atas Awan

Pesona Alpukat dari Negeri Di Atas Awan

Jum`at, 10 Juli 2020 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

alpukat yang dihasilkan dari bumi Gayo (foto/dok)


Hawanya sejuk, alamnya mempesona. Pelukan gunung dan hamparan, menjadikan negeri subur ini dikenal dunia. Ada aroma khas dari tanaman yang terlahir dari perut bumi di sentral Aceh ini.

Siapa yang tidak mengenal kopi Gayo dengan ciri khas rasa dan aroma. Bahkan para buyer dunia harus mencampur kopi dari belahan dunia lainya dengan kopi Gayo untuk mendapatkan aroma dan menambah cita rasa.

Sebenarnya Gayo bukan hanya dikenal dengan kopi arabika yang menjadi incaran dunia. Apakah Anda pernah menikmati alpukat super dari Gayo? Alpukat mentega, rasanya khas. Warna dagingnya kuning dilapisi hijau muda.

Dagingnya tebal, tanpa serat. Buahnya yang matang sempurna, bila dikupas tanpa dibubuhi “penyedap” seperti gula atau susu, rasa enak dan khas dari alpukat ini akan terasa di lidah. Lemak. Rasa alpukat murni.

Kini di Gayo, alpukat juga sudah menjadi tanaman primadona. Banyak petani yang sudah membudidayakan alpukat, ada yang menanamnya khusus alpukat, ada yang dijadikan sebagai pelindung tanaman kopi.

“Menanam dan merawat alpukad tidak serumit menanam dan merawat kopi. Demikian dengan waktu perawatan, alpukad jauh lebih sederhana,” sebut Awan Syifa, salah seorang petani alpukat di Kala Segi, Bintang, menjawab Dialeksis, Jumat (10/07/2020).

Aplukat, sebutnya, setelah ditanam perawatanya mudah, asalkan tidak semak, ditumbuhi rumput, dia akan tumbuh dengan baik. Setelah ukuranya sekitar 2 meter, tanaman yang kaya protein ini akan tumbuh dengan sendirinya.

Umur antara 5 sampai 6 tahun (bila bibitnya dari biji, bukan bibit stek), tanaman dengan buah bergelantungan ini akan mulai berbunga memasuki masa panen. “Baru kita menimbang batu untuk dijual,” sebutnya.

Tanaman alpukat yang sudah berumur 10 tahun, setiap batangnya dalam setahun akan menghasilkan antara 300 sampai 400 kilogram. Bisa jadi lebih bila dirawat dengan baik, sebut lelaki yang mengakui di kebunya Kala Segi, Pinggiran Danau Lut Tawar ada 20 pohon pokat dari berbagai jenis.

“Di Indonesia ada 10 jenis tanaman alpukat, termasuk alpukat tanpa biji. Di Gayo sudah berkembang beragam jenis alpukat, bahkan alpukat tanpa biji juga sudah ada yang menanamnya, namun sampai kini saya belum mendapat kabar apakah sudah panen,” sebut Nasrun Liwanza, Kadis Pertanian Aceh Tengah.

Menurut Nasrun, tanaman alpukat di Gayo digemari konsumen karena memiliki citarasa yang khas, apalagi alpukat mentega, ada berbagai jenis alpukat mentega. Untuk Aceh Tengah sendiri, kawasan pinggiran Danau merupakan area yang dikenal dengan tanaman alpukat super.

Menurutnya, dari berbagai sumber, tanaman alpukat berasal dari dataran rendah/tinggi Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah & Amerika Serikat.

Kalau di Gayo, tanaman ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Berkembanglah alpukat di negeri subur ini. Dari beragam jenis alpukat yang ada, di Gayo ada beberapa jenis alpukat yang berkembang.

Seperti jenis alpukat mentega, Wina, Miki, Pluwang, Has, alpukat kendil, serta beberapa jenis lainya. Alpukat ini tersebar hampir di seluruh wilayah Aceh Tengah Bener Meriah. Satu wilayah bagus tanaman alpukat, belum tentu ketika benihnya dibawa ke daerah lain, akan menghasilkan alpukat yang sama.

Alpukat super di pinggiran Danau Lut Tawar, belum tentu akan berkembang sama baiknya bila ditanam di daerah lain, ada perubahan, bisa jadi tekstur tanah, cuaca, dan ketinggian. Namun dengan pola stek, alpukat super ini berpeluang mengikuti induknya.

Menurut Awan Syifa, salah seorang petani di Kala Segi, kebun kopinya selain dihiasi dengan pelindung jenis pete, dia juga membudayakan tanaman alpukat. Rata rata setiap batang (berbeda musim) akan menghasilkan 200 sampai 300 kilogram.

“Namun ada juga yang lebih dari jumlah itu. Dalam setiap batang diperkirakan, bila harga alpukat Rp 4000 perkilo, maka satu pohon alpukat akan menuai rupiah antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta,” sebut lelaki yang menanam sekitar 20 pohon alpukat ditengah area kebunya setengah hektar di pinggiran danau.

Kini, sebagian petani disana khusus mengembangkan alpukat, bahkan ada yang membuka lahan belasan hektar, khusus menenami alpukat. Ada juga yang menanam alpukat disela tanaman kopi.

“Hampir setiap daerah sudah mengembangkan alpukat, ratusan hektar sudah ditanam, namun kebutuhan alpukad tidak pernah turun. Saya sering kehabisan stok, ketika konsumen meminta dikirim,” sebut Mus, salah seorang agen alpukat di Simpang Balek, Bener Meriah.

Toke alpukad ini mengakui ketika musim pokat habis, dia kewalahan mendapatkan barang memenuhi permintaan konsumen. Saat itulah harga alpukad mahal, petani yang mendapatkan tanaman alpukatnya pada saat salah musim ini, akan mendapatkan nilai jual dua kali lipat dari harga biasa.

Mus mengakui, semakin banyak yang menanam alpukad, tidak mempengaruhi permintaan konsumen, bahkan naik. Dia mengakui alpukat walau saat panen besar, tetap habis terjual dan tetap diminati para konsumen, di luar Aceh, di Sumatra, bahkan di Pulau Jawa, alpukad dari Gayo sudah diminati.

Gayo bukan hanya dikenal alamnya indah mengundang pesona, tanahnya subur. Di negeri ini menghasilkan tanaman berkelas dunia. Sayur mayur di sana dikenal konsumen, kopi apalagi sudah mendunia, demikian dengan alpukat.

Negeri dalam pelukan gunung ini menyimpan ciri khas yang digemari manusia. Buah buahan yang dihasilkan negeri berhawa sejuk ini mengundang pesona. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda