Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Feature / Memperkuat Diplomasi Aceh-Turki dari Cinta Sejoli

Memperkuat Diplomasi Aceh-Turki dari Cinta Sejoli

Selasa, 03 September 2019 12:29 WIB

Font: Ukuran: - +
Refika Angkasa dan Muhammad Akbar Angkasa. [FOTO: Makmur/Dialeksis.com]

DIALEKSIS.COM - Cinta memang kekuatan tak terhingga. Ia bisa menyatukan dua peradaban berbeda.  

Siapa menyangka, ketika Muhammad Akbar Angkasa (26) dan Refika Angkasa (24), mendekatkan jarak antara Aceh dan Turki dari 7.233 km menjadi sekian mili, tatkala keduanya bersatu dalam ikatan suci pada awal tahun ini.

Adalah perkara jodoh, salah satu misteri Ilahi, yang akan menukilkan kisah baru diplomasi Aceh dan Turki di masa kini, melalui hubungan cinta suci dua sejoli.

Refika, gadis Istanbul bermata bulat, bersama suaminya Akbar putra Banda Aceh berdarah Meulaboh, hadir di tengah-tengah masyarakat dalam acara Hari Ulang Tahun (Haul) 494 Teungku Chik Dibitai di Kompleks Makam Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Rabu (28/8/2019) lalu.

“Di acara itu, Refika menjelaskan bahwa pergi ke Aceh mengikuti suaminya seperti pulang kampung. Katanya, jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Hati keduanya telah menyatu,” kata salah seorang panitia acara tersebut, Teuku Zulkhairi, kepada Dialeksis.com.

Dia melihat kehadiran pasangan muda Aceh-Turki itu bukan sekedar nostalgia cinta dua insan. “Ini adalah pertemuan cinta kasih yang mewakili dua peradaban yang agung. Peradaban Kerajaan Aceh Darussalam dan Turki Usmani,” sebutnya.

Sejarah mencatat, Kerajaan Aceh Darussalam memiliki hubungan spesial dengan Kerajaan Turki Usmani pada abad 16. Tahun 1547 di era Sultan Suleiman I, utusan Aceh bertandang ke Istanbul meminta bantuan militer untuk menghadapi serangan Portugis di Selat Malaka.

Penyelenggara Haul 494 Teungku Chik Dibitai di Kompleks Makam Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Rabu (28/8/2019). [FOTO: IST/Portalsatu.com]

Sang Sultan mengabulkan. Sejak itulah, hubungan diplomatik Aceh-Turki terjalin hingga berlanjut ke masa Sultan Selim II, putranya Sultan Suleiman I.

Teungku Chik Dibitai sendiri merupakan seorang Jenderal Perang Turki Usmani yang dikirim ke Aceh untuk melatih ilmu pedang dan perang, yang kemudian mangkat di Aceh.

Hubungan kedua negara ini secara emosional terus berlanjut. Saat Aceh dilanda tsunami tahun 2004, Turki salah satu negara pendonor terbesar. Semenjak itu pula, anak-anak Aceh banyak mendapat peluang beasiswa ke sana.

Sebagaimana di masa Turki Usmani yang ringan tangan melindungi negara muslim lainnya, pun dengan masa sekarang, di bawah tangan dingin Presiden Recep Tayyip Erdoğan, Turki juga membantu negara mayoritas muslim lainnya di belahan dunia.

Mari lihat kisah Akbar Angkasa. Dia meraih beasiswa melanjutkan SMA di Turki melalui program Türkiye Diyanet Vakfı. Sebuah proyek sekolah internasional milik Kementerian Agama Turki.

Program ini memberikan kuota 50 persen beasiswa kepada siswa dari negara-negara muslim, terutama daerah yang terikat hubungan sejarah dengan peradaban Islam dan Ottoman khususnya, seperti Aceh di Indonesia.

“Program Türkiye Diyanet Vakfı sudah berjalan sepuluh tahun saya rasa. Dan sekarang pendaftarannya bisa melalui online, tidak seperti saya dulu harus ikut seleksi di Kantor Kementerian Agama RI,” katanya kepada Dialeksis.com, Kamis (29/8/2019), saat dijumpai di sebuah cafe di Banda Aceh.

Pulau Panggeran di Kota Istanbul yang mengapung di Laut Marmara. [FOTO: turketurki.com]

Usai SMA di sana, Akbar merasa betah. Visi dan misi hidupnya berubah. Ia seperti menapaktilasi hubungan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Turki Usmani.

Melalui program Türkiye Bursları atau dikenal Beasiswa YTB, pada 2013, Akbar menyambung studi ke jenjang S1 di İstanbul 29 Mayıs Üniversitesi atau Universitas 29 Mei Istanbul.

Dari bangku kuliah sarjana itu lah, Akbar bertemu dengan Refika Yanık--nama asli gadis itu sebelum dinikahi. Hatinya sudah tertambat. Pria kelahiran 1993 ini pun menyampaikan niatnya pada Refika begitu selesai kuliah: menikah.

“Di sana kan tidak boleh pacaran. Kalau suka, sampaikan ke orangtuanya untuk menikah,” katanya.

Pada Januari 2019, Akbar meminang Refika. Perjuangan cinta meluluhkan hati orangtua gadis berkacamata itu pun dimulai.

Menurut kajian antropologi, sangat sulit bagi orang Turki menikah dengan orang asing, terutama wanita Turki. 

Tapi sebaliknya, sering ditemui pria Turki mempersunting gadis asing, apalagi keturunan Asia yang khas dengan kelembutan.

Sebelum bertemu Refika, Akbar mengaku tak harus menikahi wanita asal negara yang dibelah Laut Marmara. Bahkan ia sendiri tak menyangka bisa terpikat oleh mahasiswi Ilmu Filsafat itu.

“Saya dulu idealis. Saya melihat perempuan dengan karakter tertentu. Saya suka akademisi seperti Refika apalagi dia double major, kuliah di dua jurusan,” ujar Akbar.

Merasa jatuh hati, Akbar menjelma bak Sultan Muhammad Al Fatih saat memimpin pasukan Turki Usmani menaklukkan Konstantinopel pada 1453 Masehi.

Putra dari Marhamah dan Abdul Gani ini akan mendobrak mitos bahwa pria asing sulit mendapatkan gadis Turki hingga ke pernikahan.

“Kamu boleh menikahi anak saya dengan satu syarat, harus tinggal di Turki. Itu syarat dari orangtuanya,” tutur Akbar, mengutip persyaratan dari orangtua Refika.

Bagi Akbar, itu bukan perkara sulit. Hampir satu dekade hidup di Turki, telah mengubah karakter dan pandangan hidupnya. Pun dia sudah menyatu dengan kehidupan di negara Eurasia--pertemuan benua Eropa dan Asia--itu.

Pemuda yang juga berkacamata itu menyempurnakan kalimatnya: “Syarat itu pun saya terima.”

Seminggu usai lamaran, mereka melaksanakan Nikah Imam, yaitu pernikahan tidak resmi menurut ketentuan negara di sana walau sudah sah secara hukum islam, atas persetujuan orangtua kedua mempelai.

“Di sana kalau cuma Nikah Imam, kita tidak tercatat dalam catatan sipil negara. Kalau kita meninggal misalnya, kita tidak punya ahli waris.”

Prosesi pernikahan di Turki, antara putri bungsu Presiden Turki Erdogan, Sumeyye dan Bayraktar, 2016. [FOTO: bersamaislam.com]

Lalu pada 29 Mei, tanggal penaklukan Konstantinopel oleh pasukan Turki Usmani, keduanya melakukan Nikah Pemerintah, sehingga diakui secara resmi oleh Pemerintah Turki. Sah, Akbar taklukkan gadis Turki itu.

Anak ketiga dari empat bersaudara itu menjelaskan, “Kalau sudah Nikah Pemerintah, kita sudah tercatat di istilahnya Disdukcapil Turki.”

Menurut catatan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, Akbar Angkasa pemuda Aceh kedua yang menikahi gadis Turki. 

Sebelumnya pada 2017, Rizky Albiruni menjadi diaspora Aceh pertama dengan menikahi gadis dari bangsa Rum itu.

Menurut Zulkhairi, Akbar adalah contoh pemuda yang berani berdiaspora di negeri Eurasia. Setelah 8 tahun di Istanbul, ia menetap secara sempurna dengan menikahi gadis Turki.

“Jadi, kita berharap agar pemuda Aceh lainnya seperti Muhammad Haykal (Ketua Ikatan Masyarakat Aceh-Turki/IKAMAT_red), Darlis Aziz, dll. agar berani lah berdiaspora secara sempurna, seperti halnya Muhammad Akbar Angkasa, hehehe.”

Zulkhairi berkelakar tapi juga serius. Karena menurutnya, mengikat hati gadis Turki bukan sekadar menautkan dua hati, namun juga untuk merajut kembali dua peradaban besar, Ottoman dan Kesultanan Aceh.

Nasip kısmet, kata orang Turki,” ujar Darlis Aziz, Ketua PPI Turki 2019-2020 saat ditanyai Dialeksis.com, Kamis (29/8/2019), menanggapi saran Zulkhairi agar ia mengikuti langkah Akbar dan Rizky. “Biarlah takdir yang menentukan,” sambungnya segera seraya terkekeh.

Namun Darlis bicara terang-terangan soal membangun diplomasi kembali antara Aceh dan Turki. Bahkan, menurutnya, peringatan Haul Dibitai kemarin sebagai upaya awal membangan diplomasi di masa kini.

Tertarikkah Turki pada Aceh?

Darlis melihat Aceh punya banyak kesamaan (similarity) dengan Turki. Tak hanya dalam bidang sejarah, tapi juga dalam hal lainnya, seperti keagamaan ada tarekat Naqsabandi, dimana Turki merupakan pusat Naqsabandi dunia.

Turki dan Indonesia saat ini juga memiliki hubungan bilateral yang kuat, hampir 70 tahun sudah berjalan.

“Saya kira ini perlu kita pererat lagi. Karena saya lihat Turki belum terlalu dalam mengenal Indonesia. Bahkan dalam satu event kami di Turki, ada orang sana yang menanyakan, ‘Indonesia itu di benua mana?”

Karena itu, Darlis bilang, acara Haul 494 Teungku Chik Dibitai kemarin menjadi bekal local cultural proximity atau membangun kedekatan budaya.

“Kita ingin ada efek langsung terhadap hubungan pariwisata, ekonomi, dan bidang lain. Bahkan Indonesia dan Turki saat ini punya hubungan di bidang pertahanan.”

Darlis Aziz, Ketua PPI Turki asal Aceh. [FOTO: suaradarussalam.co.id]

Kenapa tidak, dia menyela, dengan Aceh yang punya modal cukup kuat di masa lalu, hubungannya bisa dikencangkan lagi sekarang. Setidaknya bisa dimulai dari sektor pariwisata.

“Alhamdulillah kemarin kami sudah MoU dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, mereka akan bikin pameran manuskrip di Istanbul bulan Oktober nanti,” beber alumni UIN Ar-Raniry itu.

Menurutnya, event tersebut menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pariwisata Aceh. Sehingga nantinya, turis dari Turki ketika ke Indonesia juga menjadikan Aceh sebagai destinasi wisata.

Ia mengharapkan Pemerintah Aceh, terutama Disbudpar, membuat program-program wisata yang dapat mengundang orang Turki asli nantinya, dengan mereproduksi kedekatan budaya tadi.

Tahu apa? Ternyata Akbar Angkasa pun tertarik menanggapi dirkursus membangun diplomasi Aceh-Turki dari hubungan cinta.

Bahwa dengan memperbanyak pemuda Aceh menjadi diaspora di Turki saat ini, dapat membuka kesempatan menyatukan kembali hubungan Aceh-Turki seperti di masa lalu.

Lalu, apakah pemerintah Turki akan tertarik bekerjasama dengan Aceh, dengan kondisi Aceh (Indonesia) sekarang?

Dari bilik chat WhatsApp dengan Dialeksis.com, Jumat (30/8/2019), Akbar Angkasa mengatakan, “sebenarnya Turki itu sangat tertarik dengan Aceh.”

Ketertarikan itu karena beberapa hal. Pertama, sejarah. Aceh dan Turki punya hubungan sejarah yang kuat pada abad 16. Para akademisi di sana sangat paham soal sejarah itu.

Kedua, dalam hubungan diplomatik saat ini pun sudah terjalin antara Aceh dan Turki. 

Buktinya, Akbar menyebut kunjungan Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Işık ke Aceh pada 13 Oktober 2017, membalas lawatan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebulan sebelumnya.

Wakil PM Turki Fikri Işık saat berkunjung ke Banda Aceh, 13 Oktober 2017. [FOTO: Agus Setyadi/detikcom]

“Dia (Fikri) langsung datang ke Aceh, tidak ke provinsi lain. Itu saya pikir sesuatu yang luar biasa,” kata Akbar.

Namun di sisi lain, kedatangan Wakil PM Turki langsung ke Aceh juga menggambarkan sesuatu yang tidak mengenakkan. “Pemerintah Pusat bertanya, kenapa langsung ke Aceh?” ujarnya.

Terlepas dari hal itu, Akbar menggarisbawahi, secara umum masyarakat Turki senang ketika membahas tentang Aceh. Mereka simpatik.

“Turki merasa simpati kepada Aceh, artinya begini ‘kalian itu saudara kami, bagaimana cara kami bisa membantu kalian’ gitu,” kata pemuda yang sedang menempuh Magister di Universitas Ibn Haldun.

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia khususnya Aceh harus melihat peluang tersebut. Lalu, kebijakan pemerintah sangat menentukan dalam menjalin kerjasama dengan Turki.

Dalam perdagangan misalnya, hubungan Indonesia-Turki tidak sebagus dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia.

“Padahal Indonesia populasinya lebih banyak, tapi dari sisi ekspor ke Turki sangat kurang. Ini juga menjadi PR bagi Kedutaan Besar Turki di Jakarta untuk memperbaiki hubungan bilateral.”

Menurut Akbar, rencananya Presiden Turki akan berkunjung ke Indonesia pada tahun 2020, untuk mempererat hubungan kedua negara tersebut.

Tentu saja ini kesempatan bagus bagi Aceh untuk menyambutnya di tahun depan, dengan gagasan yang coba ditawarkan Ketua PPI Turki di atas, seraya berharap akan terus bertambah pemuda Aceh yang berdiaspora di negara transkontinental itu.(Makmur Emnur)


Editor :
Makmur Emnur

Komentar Anda