Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Feature / Ketika Bupati Singkil Mengarungi Sungai Buaya

Ketika Bupati Singkil Mengarungi Sungai Buaya

Selasa, 06 Agustus 2019 11:10 WIB


DIALEKSIS.COM | Sungai ini airnya keruh. Hutan bakau dan rawa menghiasi aliran air yang bertumpu ke muara. Tidaklah heran kalau buaya menjadikan kawasan ini sebagai tempatnya bersemayam. 

Sudah ada manusia yang menjadi korban hewan reptil berbigi gergaji yang tajam ini. Bahkan seorang kakek, Usuluddin, 69, pada tahun 2016 lalu menjadi berita hangat.

Sang kakek harus bertarung dengan buaya di kegelapan malam, ketika pahanya tertancap gigi tajam dari hewan pemangsa ini. Dia bertarung berdarah darah dan ahirnya terlepas dari maut, walau penuh luka.

Awal Januari tahun 2019, warga di sana digemparkan dengan pemunculan seekor buaya putih. Ukuranya besar, panjangnya diperkirakan mencapai 4 meter. Raja sungai itu terlihat berjemur di pantai. Berita tentang buaya putih ini menjadi viral.

Lokasi sungai yang menjadi sarang buaya ini, berada di Kuala Baru, Aceh Singkil. Sebuah kecamatan yang harus dilalui via sungai. Perahu boat adalah sarana transportasi utama, yang menghubungkan pemukiman ini dengan dunia lain.

Kawasan dalam lingkaran sungai itu kini dipimpin Dulmusrid. Sebagai Bupati di Aceh Singkil, dia berkewajiban menyambangi warganya, untuk melihat dan mendengarkan bagaimana penghidupanya.

Pada Minggu (4/8/2019) ditemani Atmah, sang istri tanpa diikuti pengawal, Dulmusrid membelah sungai yang menjadi sarang buaya ini. Dia bersilaturahmi ke Kuala Baru, menghadiri takziah, sekaligus bersilaturahmi dengan warga di sana.

Perahu yang ditumpanginya tidak tergolong besar, namun sudah lumanyan untuk transportasi sungai. Perjalanya dengan menggunakan perahu mesin ini tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter.

Dulmusrid dalam mengarungi sungai berair keruh ini bagaikan sepasang remaja. Tempat duduk di bagian depan yang terbuat dari papan di perahu ini hanya muat untuk mereka berdua.

Perjalanan diantara riak air itu mereka nikmati sambil bercanda melepas tawa. Seperti melupakan sungai yang menjadi sarang buaya. Ketika berpapasan dengan perahu lainya yang mengangkut penumpang,mereka tak lupa melambaikan tangan.

“Kami bersilaturahmi, menjenguk saudara yang tertimpa musibah. Agenda takziah ini juga kami pergunakan untuk menyapa dan berbagi dengan saudaraka kami di pemukiman dalam aliran sungai ini,” sebut Dulmusrid kepada media.

Tanpa aral melintang Bupati Aceh Singkil bersama ibu ketua PKK di sana, sukses mengarungi sungai Kuala Baru. Hanya ketika kembali ada sedikit persoalan, perahu yang mereka tumpangngi bermasalah.

Kipas pengendali lajunya perahu terlepas tenggelam ke dasar sungai, mereka sempat terombang ambing. Terpaksa bupati beserta istri mengganti perahu untuk melanjutkan perjalanan pulang dari sungai sarang buaya ini.

Kuala Baru, merupakan negeri nelayan. Tidaklah heran, saat kembali dari sana Dulmusrid mendapatkan buah tangan berupa ikan yang ukuranya lumanyan besar. Ketika ikan itu berpindah tangan, Dulmusrid dan Atmah, terlihat melepaskan senyum yang ceria.

Sebagai pemimpin Dulmusrid harus melintasi sungai walau dikenal sebagai sarang buaya. Apapun tantangan harus dia hadapi untuk menyapa dan melihat rakyatnya .Kali ini dia bagaikan sedang memadu asmara ketika melintasi sungai buaya. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

Komentar Anda