Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Ketika Bupati Menyemat Harapan di Pamar

Ketika Bupati Menyemat Harapan di Pamar

Kamis, 27 Agustus 2020 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar saat mengunjungi Pamar, sebelum negeri ini dilanda Covid-19. Ketika wabah corona melanda, Shabela kembali ke sana, memberikan bantuan untuk pertanian. ( Foto/dok)

Membutuhkan fisik dan waktu untuk mencapai ibukota kabupaten Aceh Tengah. Harus bermalam di tengah hutan belantara. Menyiapkan perbekalan. Kalau ancaman binatang buas, sudah merupakan bagian dari hidup.

Bila membawa beban, harus diangkut dengan kuda. Transpotasi ke sana sangat sulit. Hasil pertanian yang digarap masyarakat tidak mampu dibawa keluar. Namun warga di sana hidup makmur, serba berkecukupan, kebutuhan hidupnya terpenuhi, walau mereka tidak kaya.

“Saya ke sini dengan berjalan kaki. Naik turun bukit diantara gunung. Selama perjalanan harus ada perbekalan. Namun karena warga Pamar adalah rakyat saya, walau harus berjalan kaki, saya harus ke Pamar,” sebut Shabela Bupati Aceh Tengah.

Dari Pamar untuk menuju Takengon, ibukota Aceh Tengah harus bermalam di perjalanan, dalam hutan. Namun Pamar adalah sumber kehidupan, lahan pertanianya subur. Sawahnya terbentang luas. Perkebunan masyarakat juga menjanjikan. “ Saya suka durian pamar yang rasanya legit, enak,” sebut bupati Aceh Tengah.

“Kini, dari dan ke Pamar untuk mencapai Takengon, ibu kota kabupaten tidak lagi harus bermalam di jalan, di hutan. Sekarang sudah tembus tiga jam. Karena sarana transportasi sudah bagus. Saya jadi ingat ketika menjabat Camat Silih Nara, saya ke sini berjalan kaki,” sebut Bupati Aceh Tengah, yang mengenang kembali masa lalu.

Hal itu disampaikan Shabela Abubakar ketika melakukan kunjungan kerja ke Pamar, sebuah kawasan ujung Barat Aceh Tengah yang berbatasan dengan Pidie Jaya. Shabela bersama sejumlah kepala Dinas, menyambangi warga Pamar dan memberikan bantuan. Rabu (26/8/2020).

“Saya berharap Pamar menjadi lumbung pangan. Hamparan sawah, perkebunan rakyat, serta hasil alam lainya dari Pamar kualitasnya bagus. Apalagi sarana transportasi tidak lagi sesulit dulu,” jelasnya.

Dalam kunnjunganya ke Pamar, bupati beserta rombongan memberikan bantuan bersumber dari DAK untuk perbaikan sarana irigasi. Ada dua kelompok tani yang mendapatkan bantuan pintu air, yakni Poktan Mangat Seujahtera desa Meurandih Paya dan Poktan Bintang Kejora desa Paya Tampu

“Kita rencanakan, tahun depan dua kelompok tani lainya akan mendapatkan bantuan. Demikian dengan bibit dan bantuan lainya,” sebut Nasrun Liwanza, Kadis Pertanian Aceh Tengah, menjawab Dialeksis.com.

Kemukiman Pamar adalah kawasan petanian dan perkebunan. Letaknya berbatasan dengan kabupaten Pidie Jaya. Ada empat desa di kemukiman ini. Merandeh Paya, Tanjung, Paya Tampu dan Kuala Rawa. Alamnya dipenuhi hamparan, bukit dan gunung. Air di sana berlimpah. Sangat tepat untuk pertanian.

Melihat potensi alam ini, Bupati Shabela menaruh harapan kepada Pamar agar menjadi kawasan lumbung pangan. Untuk itu jangan ada lagi lahan tidur. Hamparan yang luas ini harus dimanfaatkan, jangan dibiarkan terlantar, pinta bupati.

Soal hawa di sana semi panas, tidak terlalu panas seperti kawasan pesisir di pinggir laut. Namun sejumlah tanaman yang berbuah di kawasan pesisir seperti durian, kakoa, kelapa, tumbuh dan berkembang di Pamar.

Selain itu, untuk beras, butiran “peluru” dari tanah Pamar dikenal enak. Lebih didimoniasi jenis beras lokal. Selain itu di Pamar juga dapat dikembangkan perikanan air tawar, sumber air untuk pengembangan ikan ini memang menjanjikan.

Menurut Nasrun, Kadis Pertanian, lahan sawah produktif di sana mencapai 121 hektar. Ada peluang potensi untuk percetakan sawah baru seluas 100 hektar. Selain tanaman pangan, di Pamar juga sangat berpotensi dikembangkan tanaman perkebunan yaitu kemiri dan nilam, serta tanaman horti kultura berupa durian dan langsat.

Nasrun menambahkan, pada tahun 2020 ini pemerintah pusat melalui Dinas Pertanian Aceh Tengah, memberikan bantuan berupa bibit padi parietas chiherang sebanyak 2,5 ton dan 2 pintu air. Semoga dengan adanya bantuan ini, perkembangan pertanian di sana semakin membaik.

 “Bila dikaji potensi, Pamar memang memeliki potensi. Durianya saya suka, rasanya khas. Pengalaman saya ketika menjadi camat Silih Nara 30 tahun yang lalu, sempat berjalan kaki ke Pamar, sebuah nostalgia yang menyenangkan,” sebut Shabela.

Kini Pamar menjadi kawasan yang maju, karena alamnya memiliki potensi untuk dikembangkan, makanya kita menaruh harapan Pamar bisa menjadi lumbung pangan. Karena tidak semua daerah di Aceh Tengah punya potensi sumber pangan, jelasnya.

Dulu kawasan ini dikenal terisolir. Untuk dan dari Pamar bukan hanya membutuhkan persiapan, fisik untuk berjalan, tidur di tengah hutan, namun harus menyiapkan mental menghadapi tantangan alam. Kini Pamar diharapkan menjadi lumbungnya pangan. Semoga. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda