DIALEKSIS.COM | Feature - Di tengah riuh dinamika politik Aceh, nama Bunda Salma hadir dengan karakter yang berbeda. Ia tidak membangun pengaruh lewat retorika keras atau panggung politik yang gemerlap, melainkan melalui konsistensi kerja yang senyap namun terasa dampaknya. Bagi banyak warga, ia bukan sekadar legislator perempuan, tetapi figur penghubung antara harapan masyarakat dan kebijakan yang nyata.
Kiprahnya semakin dikenal luas ketika ia aktif mengawal bantuan pendidikan bagi anak-anak sekolah pascabencana. Dari tingkat SD hingga SMA, program bantuan yang ia dorong tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar, tetapi juga memberi motivasi bagi siswa berprestasi. Salah satu langkah yang menuai perhatian adalah dukungan kendaraan ramah lingkungan bagi pelajar, sebuah simbol bahwa perhatian pada generasi muda harus berjalan seiring dengan kesadaran masa depan.
Meski publik mengenalnya sebagai istri Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, Bunda Salma membangun jalur politiknya dengan identitas yang mandiri. Ia lebih sering terlihat di lapangan daripada di balik protokoler resmi. Menyusuri wilayah terdampak bencana, menembus lumpur dan hujan, ia memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan warga. Bagi masyarakat yang ditemuinya, kehadiran itu bukan sekadar simbol jabatan, melainkan bukti empati yang hidup.
Di ruang legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, ia dikenal sebagai sosok yang tegas namun tetap konstruktif. Fokusnya pada peningkatan pendapatan daerah melalui kepatuhan pajak kendaraan memperlihatkan cara pandang yang praktis: pembangunan membutuhkan fondasi fiskal yang kuat. Ia bahkan turun langsung mengampanyekan kesadaran pajak di kantor Samsat, mengajak perusahaan yang beroperasi di Aceh untuk ikut bertanggung jawab terhadap daerah yang memberi mereka ruang usaha.
Namun wajah kepemimpinannya tidak berhenti di meja sidang. Sebagai Sekretaris Palang Merah Indonesia Aceh, perannya terasa kuat dalam kerja kemanusiaan. Dari wilayah tengah hingga pesisir utara, ia terlibat dalam berbagai aksi pascabencana. Banyak relawan mengenalnya sebagai pekerja lapangan yang tak mencari sorotan. Ia datang, bekerja, lalu berpindah ke titik berikutnya -- meninggalkan jejak bantuan, bukan publikasi.
Kepeduliannya terhadap mahasiswa, pemuda, dan komunitas sosial memperluas jangkauan pengaruhnya. Ia kerap menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, sekaligus sumber dukungan bagi kegiatan sosial. Dalam berbagai kesempatan, pendekatannya tetap sama: mendengar lebih dulu sebelum bertindak.
Bagi sebagian masyarakat Aceh, Bunda Salma merupakan gambaran legislator perempuan yang memadukan ketegasan politik dengan kehangatan kemanusiaan.
Bunda Salma memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak harus keras untuk menjadi kuat. Ada ketegasan yang lahir dari empati, ada pengaruh yang tumbuh dari konsistensi.
Di tengah berbagai tantangan, ia hadir sebagai wajah perempuan Aceh yang bergerak pelan, pasti, dan penuh makna --mengikat harapan masyarakat dengan kerja nyata yang terus berjalan. [*]