DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Geliat transaksi nontunai di Aceh terus menanjak seiring ekspansi layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang digarap PT Bank Aceh Syariah. Bukan sekadar mengejar jumlah merchant baru, bank pembangunan daerah ini menaruh perhatian lebih pada bagaimana membuat merchant yang sudah terdaftar benar-benar aktif bertransaksi.
Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah Fadhil Ilyas, melalui Sekretaris Perusahaan Ilham Novrizal, mengatakan strategi tersebut menjadi kunci agar manfaat ekonomi digital tidak berhenti pada angka pendaftaran semata.
"Fokus kami tidak hanya meningkatkan jumlah merchant yang menggunakan QRIS, tetapi juga mendorong agar merchant tersebut semakin aktif bertransaksi, sehingga manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara nyata oleh pelaku usaha maupun masyarakat," ujar Ilham kepada Dialeksis, Rabu.
Data yang dihimpun Bank Aceh menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup tajam. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS Bank Aceh tercatat sebanyak 24.869 merchant. Angka ini melonjak dibandingkan posisi 2023 yang hanya 14.026 merchant -- setara pertumbuhan sekitar 77 persen dalam tiga tahun terakhir.
Kenaikan jumlah merchant itu berbanding lurus dengan volume transaksi. Sepanjang 2024, Bank Aceh mencatat 1,38 juta transaksi QRIS senilai Rp157,31 miliar. Setahun berselang, jumlahnya melompat signifikan menjadi 5,30 juta transaksi dengan nilai sekitar Rp277,03 miliar. Adapun hingga pertengahan 2026, transaksi sudah menembus 4,85 juta kali dengan nominal sekitar Rp230,57 miliar -- dan diperkirakan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.
"Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan QRIS Bank Aceh semakin diterima sebagai salah satu instrumen pembayaran utama di berbagai sektor usaha," kata Ilham.
Lima Jurus Genjot Transaksi
Untuk menjaga tren positif itu, Bank Aceh menempuh sejumlah langkah. Pertama, memperluas jangkauan merchant dengan mempercepat akuisisi di sektor UMKM, pasar tradisional, pusat kuliner, retail modern, layanan kesehatan, pendidikan, pariwisata, hingga instansi pemerintah. Implementasi QRIS pada layanan publik turut didorong sebagai bagian dari digitalisasi transaksi daerah.
Kedua, bank ini tak berhenti pada pemasangan QRIS di lapak-lapak usaha, melainkan juga melakukan pendampingan agar merchant aktif memakainya. Monitoring transaksi dilakukan berkala, dan merchant yang belum aktif akan mendapat edukasi serta pembinaan lanjutan.
Ketiga, program edukasi dan literasi digital digelar rutin kepada masyarakat dan pelaku UMKM, mencakup manfaat pembayaran nontunai, keamanan transaksi digital, hingga kemudahan penggunaan QRIS.
Keempat, Bank Aceh menggandeng Bank Indonesia, pemerintah daerah, komunitas UMKM, serta penyelenggara berbagai event untuk menghadirkan program promosi, bazar UMKM, festival kuliner, dan kegiatan ekonomi digital lain yang mendongkrak penggunaan QRIS.
Kelima, bank ini turut menyokong program nasional Bank Indonesia, di antaranya implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan berbagai inisiatif digitalisasi lain, sehingga penggunaan QRIS kian meluas baik di lingkungan pemerintah maupun masyarakat umum.
Ilham menyebut, ke depan Bank Aceh akan terus memperkuat ekosistem pembayaran digital lewat peningkatan kualitas layanan, perluasan jaringan merchant, integrasi dengan berbagai layanan digital, serta program promosi yang lebih masif.
"Harapannya, QRIS Bank Aceh dapat menjadi pilihan utama masyarakat Aceh dalam bertransaksi secara cepat, aman, dan efisien, sekaligus mendukung percepatan transformasi ekonomi digital di Provinsi Aceh," ujarnya.
Menurut Ilham, transformasi digital pada akhirnya bukan sekadar soal menghadirkan teknologi baru, melainkan membangun kebiasaan masyarakat bertransaksi secara aman, cepat, dan efisien.
"Bank Aceh akan terus memperluas ekosistem QRIS melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, sehingga manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara merata di seluruh Aceh," pungkasnya. []