DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, secara resmi menutup kegiatan BSI Ramadhan Fest 1447 H yang berlangsung di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Minggu (15/3/2026).
Penutupan festival menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang memadukan nuansa religius Ramadhan dengan geliat ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Banda Aceh.
Dalam sambutannya, Afdhal Khalilullah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan BSI Ramadhan Fest, khususnya kepada Bank Syariah Indonesia sebagai penyelenggara kegiatan.
Ia berharap semangat yang lahir dari festival tersebut tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi terus berlanjut dalam bentuk dukungan nyata terhadap produk lokal.
“Kita berharap semangat BSI Ramadhan Fest ini tidak padam seiring berakhirnya acara. Mari kita terus mencintai dan membeli produk-produk lokal hasil karya masyarakat kita sendiri,” ujarnya.
Afdhal juga mengajak masyarakat untuk terus memanfaatkan transaksi digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari demi mendukung kemajuan Banda Aceh.
“Selama lebih kurang tiga hari, Masjid Raya ini telah menjadi saksi hidupnya denyut ekonomi dan kebersamaan masyarakat kita. Kegiatan BSI Ramadhan Fest ini tidak hanya menghadirkan suasana Ramadhan yang semarak, tetapi juga membuka ruang produktif bagi pelaku UMKM untuk tumbuh, berkreasi, dan memperluas pasar mereka,” kata Afdhal.
Dalam kesempatan tersebut, Afdhal menegaskan bahwa sektor UMKM merupakan pilar penting dalam perekonomian Banda Aceh. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 47.640 pelaku UMKM aktif di kota tersebut.
Menurutnya, sektor ini terbukti berkontribusi nyata dalam menekan angka kemiskinan di Banda Aceh.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi kota kita. Dari data yang ada, sektor ini berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan di Banda Aceh dari 6,95 persen menjadi 5,45 persen. Artinya, sekitar empat ribu jiwa berhasil keluar dari garis kemiskinan,” ujarnya.
Meski demikian, Afdhal mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. Dari puluhan ribu pelaku usaha tersebut, masih banyak yang menghadapi kendala, terutama dalam hal akses pasar dan peningkatan kualitas produk.
“Selama ini banyak program pelatihan diberikan, tetapi sering kali kita lupa menjamin akses pasar bagi produk mereka. Padahal itu yang paling dibutuhkan,” tambahnya.
Ia menyebut kegiatan seperti BSI Ramadhan Fest menjadi salah satu solusi konkret dalam membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal. Festival ini dinilai mampu mempercepat perputaran modal masyarakat sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk UMKM.
“Acara seperti ini memberikan kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka secara langsung kepada masyarakat. Ini bukan hanya meningkatkan transaksi ekonomi selama Ramadhan, tetapi juga memperluas jaringan pasar bagi mereka,” katanya.
Selain itu, Pemerintah Kota Banda Aceh juga berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku UMKM melalui program pendidikan dan pelatihan di Banda Aceh Academy.
Program ini akan memberikan berbagai kelas pelatihan bagi pelaku usaha, mulai dari literasi keuangan, peningkatan kualitas produk, manajemen operasional, hingga penyusunan proposal bisnis.
“Melalui Banda Aceh Academy, kita ingin pelaku UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan bersaing secara global,” ujarnya.
Afdhal juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam ekosistem ekonomi modern. Ia menilai pasar tradisional yang masih mengandalkan metode konvensional berisiko tertinggal di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola transaksi masyarakat.
Karena itu, pemerintah kota mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah, perbankan, dan komunitas kreatif untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih modern namun tetap berlandaskan nilai-nilai religius yang menjadi identitas Banda Aceh.
“Pembangunan kota tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Harus ada kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas kreatif,” jelasnya.
Sebagai bagian dari inovasi kebijakan, Pemerintah Kota Banda Aceh juga sedang mengembangkan aplikasi digital bernama Usaha Teman.
Aplikasi ini dirancang untuk memperbaiki sistem pendataan UMKM yang selama ini masih manual dan kurang akurat. Melalui platform tersebut, pemerintah dapat memetakan potensi ekonomi di setiap gampong secara lebih presisi dan real-time.
“Aplikasi ini akan membantu kita mengetahui usaha apa yang berkembang di setiap gampong, berapa tenaga kerja yang terserap, dan siapa saja pelaku usaha yang membutuhkan dukungan pemerintah,” kata Afdhal.
Selain itu, aplikasi tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antar pelaku usaha, termasuk dalam hal berbagi peluang pasar hingga membuka akses investasi.
“Kadang ada orang yang ingin berinvestasi tapi tidak tahu ke mana harus menyalurkan modalnya. Di sisi lain, banyak pelaku usaha yang membutuhkan dukungan modal. Melalui aplikasi ini kita ingin menjembatani hal tersebut,” jelasnya.