DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, harga emas di Banda Aceh justru menunjukkan turun. Pada Kamis (5/3/2026), harga emas di kawasan Pasar Aceh, Banda Aceh tercatat berada di angka Rp8,7 juta per mayam.
Penurunan harga ini menjadi perhatian para pelaku pasar, mengingat secara teori kondisi konflik global biasanya mendorong harga emas naik karena dianggap sebagai aset aman (safe haven).
Salah seorang pedagang emas di kawasan Pasar Aceh, Daffa, mengatakan harga Rp8,7 juta tersebut merupakan harga emas murni per mayam yang berlaku di pasaran saat ini dan belum termasuk ongkos pembuatan perhiasan.
“Kalau sekarang harga emas di pasar itu Rp8,7 juta per mayam. Itu harga emasnya saja, belum termasuk ongkos pembuatan,” kata Daffa saat ditemui di Pasar Aceh oleh media dialeksis.com.
Ia menjelaskan, untuk ongkos pembuatan perhiasan emas saat ini berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per mayam, tergantung model dan tingkat kerumitan desain yang diinginkan pembeli.
“Kalau ongkosnya sekarang sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Dulu memang pernah lebih rendah, tapi sekarang sudah naik karena biaya produksi juga meningkat,” ujarnya.
Menurut Daffa, harga emas di Banda Aceh sebelumnya sempat berada di kisaran Rp9 juta per mayam. Namun dalam beberapa hari terakhir terjadi penurunan harga yang cukup terasa di pasar.
Ia menyebut kondisi tersebut bukan semata-mata dipengaruhi oleh konflik internasional, melainkan juga oleh situasi perdagangan emas di dalam negeri yang sedang tidak stabil.
“Secara teori kalau ada konflik besar seperti sekarang, harga emas harusnya naik. Tapi kenyataannya di pasar sekarang justru turun karena kondisi jual beli emas di Indonesia sedang tidak stabil,” jelasnya.
Daffa mengungkapkan bahwa situasi pasar emas dalam negeri turut dipengaruhi oleh pengetatan pengawasan aparat terhadap perdagangan emas, termasuk praktik penampungan emas dalam jumlah besar.
Menurutnya, sejumlah pihak yang selama ini menampung emas dalam skala besar atau dikenal di kalangan pedagang sebagai toke besar kini sudah tidak lagi aktif beroperasi setelah adanya penindakan aparat terkait kasus yang mencuat di Jakarta beberapa waktu lalu.
“Sekarang para penampung emas besar itu sudah tidak ada lagi. Banyak yang sudah ditangkap terkait kasus besar di Jakarta kemarin. Karena itu pasar jadi agak terganggu,” katanya.
Dampaknya, kata Daffa, para pedagang maupun masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi emas, baik untuk menjual maupun membeli.
“Sekarang orang mau menjual emas saja sudah agak ragu. Bukan cuma menampung, yang jual pun mulai hati-hati karena banyak aturan dan pasal yang dikenakan,” ungkapnya.
Selain emas lokal, Daffa juga menyebut harga emas Antam di pasaran saat ini berada di kisaran Rp3,4 juta per gram. “Kalau emas Antam sekarang sekitar Rp3,4 juta per gram. Itu memang naik dibanding beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai pergerakan harga emas ke depan masih sulit diprediksi. Menurutnya, harga emas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk kebijakan ekonomi dan politik negara-negara besar.
Daffa menilai pelepasan cadangan emas dalam jumlah besar oleh China menjadi salah satu faktor yang membuat harga emas tidak melonjak meskipun situasi geopolitik sedang memanas.
“Daya beli masyarakat juga tidak stabil. Ada hari orang banyak menjual, ada hari orang banyak membeli. Jadi pasarnya memang sedang tidak menentu,” pungkas Daffa. [nh]