DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah musibah bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh dengan cakupan 200 kecamatan, kerusakan lahan sawah menjadi persoalan krusial. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mengancam ketahanan pangan Aceh, khususnya pada sektor agroindustri penggilingan padi. Dalam konteks tersebut, akses pembiayaan dan permodalan menjadi isu strategis yang perlu disinergikan dengan skema pembiayaan berbasis syariah.
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry menjalin kolaborasi penelitian melalui skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 10 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi dua perguruan tinggi yang dikenal sebagai jantong hatee rakyat Aceh ini berhasil meraih pendanaan RIIM berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Nomor 105/II.7/HK/2025 yang ditetapkan pada 12 Desember 2025. Penelitian tersebut mengusung judul “Pengembangan Model Pembiayaan Syariah Industri Penggilingan Padi di Provinsi Aceh: Resiliensi dan Integrasi Sasaran Pembangunan Asta Cita.”
Ketua Tim Penelitian, Dr. T. Saiful Bahri, M.P., menyampaikan bahwa program riset ini merupakan kolaborasi lintas kampus yang menjadi langkah strategis dalam memperkuat agroindustri beras di Aceh.
“Riset kolaborasi ini menjadi sangat penting, terlebih kita masih berada dalam kondisi darurat bencana hidrometeorologi,” tegas Dr. T. Saiful Bahri, M.P., yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian (PERHEPI) Aceh.
Ia menambahkan, penelitian ini diperkuat dengan pembangunan jejaring kelembagaan lintas sektor yang melibatkan perbankan syariah serta pelaku usaha industri penggilingan padi di Aceh.
Sementara itu, Wakil Ketua Tim Penelitian, Hafiizh Maulana, S.P., S.H.I., M.E., menegaskan bahwa ketahanan pangan Aceh membutuhkan dukungan nyata dari sektor jasa keuangan syariah.
“Riset kolaborasi RIIM ini diharapkan menjadi pengembangan kajian strategis yang tidak hanya relevan bagi Aceh, tetapi juga menjadi road map keuangan syariah sektor pertanian di Indonesia, sejalan dengan gagasan Asta Cita Pangan dari sisi hilirisasi pertanian,” ujarnya.
Tim peneliti kolaboratif ini turut melibatkan Muksal, S.E.I., M.E.I. (Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah FEBI UIN Ar-Raniry), Litna Nurjannah Ginting, S.P., M.Si., dan Ummy Qalsum, S.P., M.Si. dari Program Studi Agribisnis USK.
Penelitian ini memiliki urgensi besar dalam memetakan secara komprehensif ekosistem perberasan di Aceh, mulai dari subsistem hulu hingga hilir. Fokus kajian meliputi analisis kondisi input usahatani, seperti kualitas dan kepemilikan lahan, benih, serta infrastruktur irigasi.
Selain itu, tim peneliti juga akan mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya produktivitas pada subsistem budidaya melalui evaluasi sumber daya manusia dan penerapan teknologi produksi.
Riset diharapkan memiliki dampak nyata bagi penguatan industri penggilingan padi melalui akses pembiayaan Syariah, sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan yang tepat guna mendorong terwujudnya industri perberasan yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat perekonomian daerah Aceh. [*]