DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pengembangan energi berbasis pertanian sebagai langkah menuju kemandirian energi nasional di tengah tekanan geopolitik global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sektor pertanian kini tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi pilar penting dalam penyediaan energi alternatif.
Menurut dia, arahan Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya percepatan hilirisasi, terutama dalam pengembangan biofuel berbasis sawit dan bioetanol dari komoditas pertanian.
“Dalam situasi global yang tidak menentu, kita harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri,” ujar Amran dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, salah satu langkah konkret yang didorong adalah pengurangan ketergantungan impor solar melalui implementasi biodiesel berbasis sawit, termasuk program campuran B50.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pengembangan bioetanol melalui program E20, yakni campuran bensin dengan etanol yang bersumber dari jagung, tebu, dan ubi kayu.
Amran menilai, potensi bahan baku dalam negeri sangat besar, termasuk dari produk turunan industri gula seperti molase yang selama ini sebagian masih diekspor.
“Ini peluang besar. Bahan baku tersedia, tinggal bagaimana kita mengoptimalkan agar memberikan nilai tambah di dalam negeri,” katanya.
Senada, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebutkan bahwa peran sektor pertanian kini semakin strategis dalam mendukung transisi energi nasional.
Menurut dia, setelah capaian di sektor pangan semakin stabil, pemerintah mulai mengarahkan fokus pada penguatan energi berbasis sumber daya domestik.
“Pertanian tidak hanya bicara pangan, tetapi juga energi. Ini bagian dari strategi besar menuju kemandirian nasional,” ujarnya.
Untuk mempercepat realisasi program, Kementan menggandeng badan usaha milik negara (BUMN) guna memperkuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat implementasi program bioenergi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan kesejahteraan petani.
Dengan langkah tersebut, pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya tangguh dalam menghadapi gejolak global, tetapi juga mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor. [in]