DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan proyek percontohan pengolahan air baku dan air limbah terpadu di lima kawasan industri sebagai bagian dari percepatan transformasi industri hijau di Indonesia.
Proyek ini menggandeng perusahaan asal China, Qiaoyin City Management Co., Ltd., bersama Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).
Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman terkait penerapan teknologi pengolahan air baku dan air limbah secara sirkular di Jakarta, Senin (11/5/2026). Pemerintah menilai pengelolaan air menjadi tantangan utama di tengah pertumbuhan kawasan industri yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan infrastruktur pengolahan air menjadi langkah penting untuk mendukung operasional kawasan industri yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung target net zero emission (NZE).
“Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, khususnya pengolahan air baku dan air limbah, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,” ujar Agus dalam Keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data Kemenperin, hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare. Kawasan tersebut dihuni sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai investasi mencapai Rp 6.744,58 triliun serta menyerap 2,35 juta tenaga kerja. Dalam lima tahun terakhir, jumlah kawasan industri tercatat tumbuh 49,15 persen.
Dalam proyek ini, Qiaoyin memperkenalkan teknologi pengolahan limbah bernama Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB). Teknologi tersebut diklaim mampu menekan biaya pembangunan instalasi hingga 20 persen dan menghemat penggunaan lahan sampai 60 persen dibanding metode konvensional.
Penggunaan sistem prefabrikasi membuat fasilitas pengolahan air limbah dapat beroperasi lebih cepat, sehingga fasilitas pengolahan juga dapat beroperasi empat kali lebih cepat dibanding sistem biasa. [in]