Rabu, 24 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Kedelai Impor Naik, Pengusaha Tahu Tempe Aceh Bertahan dengan Kurangi Ukuran Produksi

Kedelai Impor Naik, Pengusaha Tahu Tempe Aceh Bertahan dengan Kurangi Ukuran Produksi

Selasa, 23 Juni 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Aktivitas produksi tahu di sebuah industri rumahan di Desa Geuceu Kayee, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Selasa (23/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kenaikan harga kedelai impor akibat menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah semakin menekan pelaku usaha tahu dan tempe di Aceh. Untuk bertahan, para pengusaha terpaksa mengurangi ukuran produksi tanpa menaikkan harga jual.

Sekretaris Asosiasi Tahu Tempe Aceh, Mulizar, mengatakan harga kedelai impor yang sebelumnya berkisar Rp9,2 juta hingga Rp9,5 juta per ton kini telah mencapai sekitar Rp11,16 juta per ton.

“Dolar naik terus, sementara harga bahan baku juga ikut naik. Sekarang harga kedelai sudah sekitar Rp11,16 juta per ton,” kata Mulizar kepada Dialeksis.com di Banda Aceh, Selasa (23/6/2026).

Menurut pemilik usaha Tahu Tempe Rizjaya di Seutui itu, kenaikan harga bahan baku tidak bisa langsung diikuti dengan kenaikan harga jual karena persaingan antarprodusen cukup ketat.

“Kalau kami naikkan harga sementara yang lain tidak, pelanggan bisa beralih. Karena itu kami memilih mengurangi sedikit ukuran produk,” ujarnya.

Meski biaya produksi meningkat, Mulizar memastikan tidak ada pengurangan tenaga kerja. Saat ini usahanya mempekerjakan tujuh pekerja yang berasal dari berbagai daerah di Aceh.

“Pekerja tetap seperti biasa, gajinya juga tidak kami kurangi,” katanya.

Harga jual tempe juga masih dipertahankan. Satu papan tempe dijual sekitar Rp50 ribu, sedangkan satu ember tempe di pasaran berkisar Rp120 ribu.

Selain kenaikan harga bahan baku, pelaku usaha juga menghadapi penurunan permintaan. Produksi harian yang sebelumnya mencapai sekitar 500 kilogram kini turun menjadi sekitar 200 kilogram per hari.

“Kalau ada program Makan Bergizi Gratis (MBG), tentu sangat membantu karena ada tambahan permintaan,” ujarnya.

Meski demikian, pasokan kedelai impor hingga saat ini masih lancar. Kedelai diperoleh melalui distributor di Aceh yang mendatangkan pasokan dari Medan.

“Alhamdulillah pasokan tidak ada kendala. Yang menjadi masalah hanya harga yang terus naik,” kata Mulizar.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga, pengusaha biasanya menambah stok saat mendapat informasi akan terjadi lonjakan harga. Dalam kondisi tertentu, pembelian bisa mencapai 10 ton.

Mulizar berharap pemerintah dapat segera merealisasikan program bantuan atau stabilisasi harga kedelai untuk membantu pelaku usaha kecil.

“Kami berharap harga kedelai bisa lebih stabil agar produksi tetap berjalan dan harga jual kepada masyarakat bisa dipertahankan,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes