Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Kedaulatan Pangan dalam Perspektif Mitigasi Bencana Aceh

Kedaulatan Pangan dalam Perspektif Mitigasi Bencana Aceh

Selasa, 24 Februari 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Koordinator Terminal Urban Farming, Reza Gunawan. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah ancaman bencana yang terus membayangi Aceh, isu kedaulatan pangan kembali mengemuka sebagai strategi mitigasi jangka panjang.

Koordinator Terminal Urban Farming, Reza Gunawan mengatakan kemandirian pangan bukan sekadar soal produksi dan distribusi bahan pokok, melainkan fondasi utama membangun daya tahan masyarakat saat krisis melanda.

Dari desa-desa rawan banjir hingga kawasan pesisir, upaya memperkuat kebun komunitas dan pertanian organik kini dipandang sebagai langkah konkret merawat keberlanjutan sekaligus mengurangi risiko bencana.

“Kedaulatan pangan dalam perspektif ketahanan bencana berarti masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan ketika krisis terjadi. Mereka punya kemampuan memproduksi pangan sendiri, bahkan dari sisa-sisa bencana,” ujar Reza Gunawan kepada media dialeksis.com, Selasa (24/2/2026).

Ia mengatakan di Desa Dayah Leubue, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, konsep itu dipertemukan dengan perspektif ketahanan bencana dan pemulihan trauma sosial.

Melalui program Mahasiswa Berdampak 2026, komunitas Terminal Urban Farming berkolaborasi dengan Institut Seni Budaya Indonesia Aceh menghadirkan ruang inovatif bertajuk Eco-Art Healing Garden.

Yang membuat Eco-Art Healing Garden berbeda adalah pendekatannya. Lahan yang digarap merupakan tanah lumpur bekas banjir yang sebelumnya dianggap sebagai residu bencana. Kini, lumpur itu dipulihkan menjadi media tanam sekaligus medium seni rupa berbasis ekologi.

“Kami tidak melihat tanah sebagai objek yang dieksploitasi, tetapi sebagai subjek yang diajak berdialog. Ketika warga menyentuh kembali lumpur bekas banjir dan mengubahnya menjadi kebun produktif, itu adalah bentuk pemulihan ekologis sekaligus pemulihan batin,” katanya.

Kebun ini menjadi ruang temu antara manusia, tanah, tanaman, dan ingatan. Sebuah komposisi hidup di mana tubuh, alat kerja, dan lanskap desa membentuk pengalaman estetik sehari-hari.

Selain aspek psikososial, proyek ini tetap berorientasi pragmatis, pemulihan dan penyediaan pangan sehat berbasis pertanian organik. Tanaman sayur, rempah, dan komoditas pangan cepat panen mulai tumbuh di lahan tersebut.

“Bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa dikurangi. Salah satu caranya adalah memastikan desa memiliki sumber pangan yang cukup dan berkelanjutan,” tuturnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI