Rabu, 21 Oktober 2026
Beranda / Ekonomi / Kacang Koro Dikembangkan Jadi Tempe dan Keripik di Simeulue

Kacang Koro Dikembangkan Jadi Tempe dan Keripik di Simeulue

Rabu, 21 Oktober 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kacang Koro Dikembangkan Jadi Tempe dan Keripik di Simeulue. [Foto: dok. RPA]


DIALEKSIS.COM | Sinabang - Kacang koro mulai dikembangkan sebagai pangan lokal yang berpotensi mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pertanian di Kabupaten Simeulue, Aceh.

Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan budidaya kacang koro dan pengolahan produk turunannya di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, pada 15-19 Oktober 2026.

Kegiatan yang diinisiasi The Long Tailed Macaque Project itu bekerja sama dengan Rumoh Pangan Aceh dan Rumoh Tempe Nusa. 

Masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan teknik budidaya, tetapi juga dilatih mengolah kacang koro menjadi tempe dan keripik tempe.

Fauzi Arja, yang mewakili Rumoh Pangan Aceh dan Rumoh Tempe Nusa sebagai pemateri sekaligus pelatih, mengatakan pengembangan kacang koro perlu dilakukan dari budidaya hingga pengolahan agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Kacang koro memiliki potensi yang cukup lengkap. Tidak hanya dapat diolah menjadi pangan bernilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga memiliki manfaat bagi ekosistem pertanian,” kata Fauzi.

Menurut dia, kacang koro tidak seharusnya hanya dipandang sebagai komoditas pertanian. Tanaman tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Sebagai tanaman kelompok legum, kacang koro berpotensi membantu menjaga kesuburan tanah dan mendukung ketersediaan unsur hara. Penanamannya juga dapat menjadi bagian dari diversifikasi tanaman di kebun.

Selama lima hari pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai teknik dasar budidaya kacang koro dan mengikuti praktik pengolahan hasil panen menjadi produk pangan.

Dalam sesi praktik, masyarakat belajar membuat tempe berbahan kacang koro, kemudian mengolahnya menjadi keripik tempe. Kegiatan ini diharapkan membuka wawasan masyarakat mengenai beragam produk yang dapat dihasilkan dari komoditas lokal tersebut.

Fauzi mengatakan, pengolahan hasil pertanian menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai ekonomi suatu komoditas.

Dengan keterampilan yang memadai, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan produk yang lebih beragam.

Pengalaman Rumoh Pangan Aceh dalam pendampingan pengembangan kacang koro dan Rumoh Tempe Nusa dalam pengolahan tempe koro turut dibagikan kepada peserta selama kegiatan berlangsung.

Selain aspek ekonomi, pelatihan ini juga memperkenalkan potensi kacang koro dalam mendukung pertanian yang lebih beragam. Pemanfaatan tanaman legum di kebun dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga kualitas tanah dan mendukung keberlanjutan lingkungan pertanian.

The Long Tailed Macaque Project, yang diketuai Kurnia Ilham, menggandeng kedua mitra tersebut untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat Desa Batu Ralang.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman antara praktisi dan masyarakat mengenai pemanfaatan kacang koro, mulai dari proses budidaya hingga pengolahan menjadi produk pangan.

Fauzi berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga kacang koro tidak hanya menjadi tanaman alternatif, tetapi juga sumber bahan baku bagi usaha pangan lokal.

“Dari budidaya, kita menghasilkan bahan baku. Dari pengolahan, kita menciptakan nilai tambah. Dan dari nilai tambah itulah masyarakat memiliki lebih banyak peluang untuk berkembang,” tutupnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI