Senin, 25 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / BSI Siapkan UMKM Jadi Penggerak Besar Ekonomi Halal Indonesia

BSI Siapkan UMKM Jadi Penggerak Besar Ekonomi Halal Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo. Foto: Humas BSI


DIALEKSIS.COM | Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI menegaskan komitmennya untuk memperkuat dan menaikkan kelas ekosistem halal di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi besar pasar halal lifestyle nasional yang nilainya diperkirakan mencapai Rp5.000 triliun.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, saat menjadi pembicara dalam sesi Business Talks pada ajang Financial Festival 2026 di Yogyakarta.

Dalam paparannya, Anggoro mengatakan peran perbankan syariah kini tidak lagi sebatas penyedia layanan transaksi keuangan. Lebih dari itu, bank syariah memiliki posisi strategis sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis nilai, keberlanjutan, dan kebermanfaatan.

“BSI tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan transaksional. Lebih dari itu, perbankan syariah kini ikut menentukan arah dan menjadi penggerak utama pertumbuhan arus baru ekonomi nasional,” ujar Anggoro dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Untuk mencapai target tersebut, BSI menyiapkan sejumlah strategi penguatan atau enablers, salah satunya melalui akselerasi pembiayaan yang agresif, namun tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan di berbagai sektor produktif.

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM menjadi salah satu fokus utama BSI. Anggoro menyebut, UMKM harus terus didorong agar mampu naik kelas, memiliki daya saing, serta dapat terhubung dengan ekosistem halal nasional maupun global.

“Kami serius memastikan pertumbuhan UMKM berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Menurut Anggoro, BSI hadir melalui ekosistem yang komprehensif di BSI UMKM Centre. Di dalam ekosistem tersebut, pelaku usaha mendapatkan berbagai pendampingan, mulai dari pembinaan bagi usaha yang belum bankable, pelatihan, penguatan kapasitas bisnis, hingga pembukaan akses pasar.

BSI juga mendorong pelaku UMKM masuk ke skema business matching dengan pembeli skala nasional maupun internasional. Dengan cara itu, UMKM tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga peluang memperluas pasar dan meningkatkan kualitas usaha.

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI juga memanfaatkan kekuatan jejaringnya dalam ekosistem halal. Perseroan secara aktif masuk ke berbagai simpul strategis, seperti pondok pesantren, sekolah Islam, komunitas, industri halal, hingga sektor haji dan umrah.

Melalui jejaring tersebut, BSI ingin mengintegrasikan berbagai potensi ekonomi yang selama ini tersebar agar dapat menjadi kekuatan bisnis yang lebih besar dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Saat ini, Indonesia berada di posisi ketiga terbesar dalam pasar halal lifestyle global. Anggoro optimistis potensi Rp5.000 triliun tersebut masih dapat terus tumbuh apabila seluruh ekosistem industri halal dan UMKM mampu terintegrasi secara penuh dengan dukungan perbankan syariah.

“Tantangan besar kita adalah bagaimana bank syariah memimpin dan mengeksplorasi potensi raksasa ini secara optimal, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia,” ujarnya.

Anggoro menegaskan, prinsip ekonomi syariah tidak hanya berbicara tentang keuntungan bisnis. Lebih jauh, ekonomi syariah harus mampu menghadirkan tata kelola ekonomi yang adil, transparan, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Prinsip syariah itu sejak lama adalah membangun ekonomi yang adil, transparan, berkelanjutan, dan bermanfaat, sesuai dengan maqashid syariah. Ekonomi itu tidak hanya untuk profit, tapi ekonomi itu untuk kemanfaatan dan keberlanjutan,” kata Anggoro.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI