DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Koordinator Komunitas Sahabat Hijau (SAHI) Aceh, Muhammad Fathan Mubina, mendorong masyarakat Aceh untuk lebih serius memanfaatkan tanaman kelor sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan keluarga sekaligus peluang ekonomi desa.
Menurutnya, kelor merupakan tanaman yang mudah ditanam, kaya manfaat, dan berpotensi dikembangkan lebih luas apabila mendapat dukungan dari masyarakat.
Dalam sebuah diskusi terkait pengembangan pangan lokal dan pemberdayaan masyarakat, Fathan menyebut tanaman kelor sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh.
Namun hingga kini pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi rumah tangga dan belum berkembang menjadi gerakan ekonomi yang lebih besar.
“tanaman kelor harus ada di rumah, dua batang saja sudah sangat bagus manfaatnya. Biasanya dipakai juga untuk masakan keluarga,” kata Fathan kepada media dialeksis.com, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, kelor memiliki potensi besar karena dapat tumbuh dengan mudah di pekarangan rumah warga. Selain bermanfaat untuk kesehatan, tanaman ini juga bisa menjadi sumber pangan lokal yang murah dan berkelanjutan.
“Nah itu kalau ditanam di rumah-rumah bagus sekali. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan langsung untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Meski demikian, Fathan menilai pengembangan kelor dalam skala industri membutuhkan dukungan yang lebih serius, terutama terkait penyediaan lahan, pembinaan masyarakat, hingga akses pemasaran produk.
“Kalau untuk skala industri memang harus besar. Harus punya lahan dan sistem yang lebih kuat,” katanya.
Menurutnya, tantangan utama dalam pengembangan pangan lokal selama ini bukan hanya pada produksi, tetapi juga bagaimana memastikan hasil pertanian masyarakat benar-benar dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi.
“Ayo makan apa yang petani kita tanam. Kalau seandainya masyarakat menanam tapi tidak ada yang konsumsi, sama saja. Tidak ada perputaran ekonomi di situ,” ucap Fathan.
Karena itu, ia mendorong adanya kampanye pangan lokal yang lebih masif agar masyarakat mulai terbiasa mengonsumsi produk hasil pertanian sendiri, termasuk kelor. Ia juga berharap ada kolaborasi lintas sektor untuk memperluas pemasaran produk berbasis kelor di Aceh.
“Mungkin perlu ada gerakan yang langsung bisa membantu pemasaran produk. Selain edukasi dan sosialisasi, juga harus ada akses penjualannya,” katanya.
Fathan menilai program pemberdayaan perempuan desa juga bisa diarahkan pada pengembangan tanaman kelor dan produk turunannya.
Dengan begitu, ibu-ibu rumah tangga tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga, tetapi juga dapat memperoleh tambahan penghasilan.
“PKK desa itu supaya ibu-ibu punya pendapatan dari hasil mereka berdaya di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, kelor tidak hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan memperkuat kemandirian pangan desa di Aceh. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mulai menanam dan mengonsumsi kelor sebagai bagian dari gerakan pangan lokal yang berkelanjutan. [nh]