Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / BSI Catat Penjualan Emas 2,18 Ton di Tengah Tren Investasi Digital

BSI Catat Penjualan Emas 2,18 Ton di Tengah Tren Investasi Digital

Kamis, 15 Januari 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penjualan Emas BSI Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga. Foto: for Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Lonjakan harga emas sepanjang satu tahun terakhir kian mendorong minat masyarakat berinvestasi pada instrumen logam mulia. Tren ini turut diperkuat kebijakan pemerintah yang memaksimalkan potensi emas nasional melalui moneterisasi investasi emas lewat skema bank emas (bullion bank) yang semakin mudah diakses publik.

Sebagai bank emas pertama di Indonesia, Bank Syariah Indonesia (BSI) telah mengantongi izin perdagangan emas, penjualan emas, serta penitipan emas. Tiga izin tersebut membuat layanan bullion BSI dinilai lengkap dan komprehensif bagi masyarakat.

Sejak diluncurkan pada 26 Februari 2025, harga emas bullion tercatat melonjak hingga 56,22 persen secara year to date. Investasi emas di BSI dilakukan secara digital melalui layanan Bank Emas pada superapps BYOND by BSI, yang memungkinkan nasabah bertransaksi secara realtime selama 24 jam.

Dengan investasi awal terjangkau, mulai dari kisaran Rp50 ribuan, nasabah dapat membeli, menjual, mentransfer, hingga mencetak emas yang dimiliki langsung melalui aplikasi. Nilai investasi dapat dipantau secara langsung, sementara keamanan kepemilikan terjamin karena emas fisik disimpan di smart vault bank, sehingga nasabah tidak perlu khawatir risiko kehilangan.

Selain pembelian emas, BYOND by BSI juga menyediakan fasilitas cicil emas dan gadai emas. Skema cicil emas memungkinkan nasabah membeli emas dengan harga hari ini dan melunasinya secara bertahap, sehingga lebih fleksibel dalam perencanaan keuangan.

Direktur Distribution and Sales BSI, Anton Sukarna, mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025 penjualan emas BSI melalui BYOND telah menembus 2,18 ton.

 “Alhamdulillah, jumlah nasabah khusus bullion bank juga telah melampaui 500 ribu orang, yang didominasi rentang usia 20-40 tahun atau kategori Gen Z dan milenial,” ujarnya.

Menurut Anton, layanan bullion tidak hanya meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memperluas jangkauan nasabah karena investasi emas bersifat inklusif dan dapat diterima semua kalangan. 

BYOND sendiri dirancang bukan sekadar aplikasi perbankan digital, melainkan ekosistem layanan keuangan dan gaya hidup islami yang terintegrasi dalam satu platform.

Saat ini, BSI terus mengintensifkan sosialisasi ajakan investasi emas dengan nominal terjangkau guna meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya investasi jangka menengah dan panjang. 

“Emas cocok untuk kebutuhan seperti perencanaan haji, pendidikan, maupun dana darurat yang memerlukan likuiditas cepat,” kata Anton.

Ke depan, akselerasi digital tetap menjadi fokus jangka panjang BSI. Inovasi pada superapps BYOND akan terus dikembangkan untuk memperkuat daya saing dan menjadikan BSI sebagai pilihan utama masyarakat dalam layanan keuangan syariah dan investasi emas digital.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI