DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebanyak 3.463 ton Minyak Kita resmi masuk ke Aceh melalui distribusi yang dilakukan Perum Bulog Kantor Wilayah Aceh. Langkah ini menjadi bagian dari strategi penguatan pasokan sekaligus pengawasan ketat terhadap harga eceran tertinggi (HET) di tingkat konsumen.
Distribusi dilakukan secara bertahap ke sejumlah kabupaten/kota dengan menyasar pasar tradisional dan titik penjualan strategis. Pola penyaluran ini dirancang untuk memastikan minyak goreng tersedia secara merata, terutama di wilayah yang memiliki tingkat konsumsi tinggi.
Pimpinan Wilayah Bulog Aceh, Ihsan, menyatakan bahwa masuknya ribuan ton Minyak Kita tersebut bertujuan menjaga keseimbangan pasar agar tidak terjadi lonjakan harga.
“Kami memastikan pasokan tersedia dan harga di tingkat konsumen tetap sesuai ketentuan pemerintah. Distribusi ini sekaligus menjadi langkah pengawasan agar tidak ada penyimpangan harga di lapangan,” ujar Ihsan kepada media dialeksis.com, Kamis (19/2/2026).
Seiring masuknya 3.463 ton Minyak Kita, Bulog Aceh juga memperkuat pengawasan terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan harga Rp15.700 perliter. Setiap pedagang mitra diwajibkan memasang spanduk HET sebagai bentuk transparansi harga kepada masyarakat.
Pengawasan difokuskan pada toko-toko yang terdaftar dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Jika ditemukan pelanggaran harga, Bulog akan memberikan teguran hingga sanksi tegas berupa pencabutan status kemitraan.
“Kami tidak mentolerir praktik yang merugikan masyarakat. Jika ada pedagang menjual di atas HET, akan kami tindak sesuai aturan,” tegas Ihsan.
Pemerintah sendiri telah menetapkan harga tebus Minyak Kita dan harga jual kepada pengecer. Karena itu, Bulog mengimbau pedagang agar menjadi mitra resmi guna memperoleh pasokan langsung dengan harga yang telah diatur.
Bulog Aceh memastikan stok Minyak Kita dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Distribusi lanjutan akan disesuaikan dengan perkembangan permintaan serta dinamika harga di pasar.
Secara ekonomi, masuknya tambahan pasokan dalam jumlah besar bertujuan menekan potensi inflasi komoditas pangan. Ketika suplai meningkat, tekanan harga cenderung mereda sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi.
“Kami akan terus memantau distribusi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Ihsan. [nh]