Senin, 08 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Beijing Berupaya Perkuat Pengaruh di Pyongyang

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Beijing Berupaya Perkuat Pengaruh di Pyongyang

Senin, 08 Juni 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Xi Jinping, sekretaris jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dan presiden Tiongkok, mengadakan pembicaraan dengan Kim Jong Un, sekretaris jenderal Partai Buruh Korea dan presiden Urusan Negara Republik Demokratik Rakyat Korea, di Balai Besar Rakyat di Beijing, ibu kota Tiongkok, 4 September 2025. [Foto:  dok/Huang Jingwen/Xinhua News Agency/Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Beijing - Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan memulai kunjungan dua hari ke Korea Utara pada Senin (8/6/2026), dalam lawatan pertamanya ke Pyongyang dalam hampir tujuh tahun. Kunjungan tersebut dinilai sebagai upaya Beijing untuk memperkuat hubungan dengan negara tetangganya yang belakangan semakin mendekat ke Rusia.

Xi diperkirakan akan menggelar pembicaraan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Menjelang kunjungan itu, media pemerintah Korea Utara memuat komentar Xi yang menegaskan komitmen kedua negara untuk menjaga persahabatan yang disebutnya “tak tergoyahkan” serta memperdalam kerja sama di berbagai bidang, termasuk militer.

Sejumlah analis menilai posisi Korea Utara kini lebih kuat dibanding saat Xi terakhir berkunjung pada 2019. Peneliti senior Program Korea di Stimson Center, Rachel Minyoung Lee, mengatakan hubungan militer Pyongyang dengan Moskow yang semakin erat, kemajuan program nuklir, dan kondisi ekonomi yang membaik telah meningkatkan pengaruh Korea Utara dalam hubungan bilateral.

Menurut Lee, Korea Utara kemungkinan akan memanfaatkan pertemuan tersebut untuk mendorong konsesi ekonomi dari Beijing dan mencari kejelasan sikap China terkait statusnya sebagai negara bersenjata nuklir. China sebelumnya secara terbuka menentang uji coba nuklir Korea Utara, tetapi sikap Beijing saat ini dinilai kurang tegas dibanding masa lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un mempererat hubungan dengan Rusia melalui kerja sama militer dan perdagangan. Langkah itu, menurut para analis, memberi Pyongyang posisi tawar yang lebih besar dalam hubungan dengan Beijing.

Victor Cha dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan China tidak ingin kehilangan pengaruhnya di Korea Utara akibat meningkatnya peran Rusia. Menurutnya, Beijing berupaya memastikan bahwa hubungan dekat Moskow dan Pyongyang tidak mengurangi pengaruh tradisional China di negara tersebut.

Xi dan Kim terakhir bertemu pada September tahun lalu ketika Kim menghadiri parade militer di Beijing bersama sejumlah pemimpin dunia lainnya, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Selain membahas hubungan bilateral, Beijing diperkirakan akan mencari dukungan Pyongyang terkait isu Taiwan serta mendorong koordinasi menghadapi dinamika keamanan di kawasan Asia Timur. China juga disebut berkepentingan menjaga stabilitas di Semenanjung Korea guna menghindari meningkatnya ketegangan regional.

Kunjungan Xi berlangsung setelah Korea Utara mengumumkan fasilitas baru pengayaan uranium dan menegaskan rencana memperkuat kemampuan nuklirnya. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Pyongyang tetap berupaya memperkokoh posisinya sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Analis Crisis Group untuk Asia Timur Laut, William Yang, mengatakan keputusan Xi menjadikan Korea Utara sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya pada 2026 menunjukkan pentingnya hubungan tersebut bagi Beijing.

Sejumlah pengamat juga memperkirakan Xi dapat membawa pesan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang beberapa kali menyatakan terbuka untuk melanjutkan diplomasi dengan Kim Jong Un. Namun, Korea Utara tetap menuntut agar Washington mencabut prasyarat denuklirisasi sebelum pembicaraan baru dapat dimulai.

Pemerintah Korea Selatan menyatakan harapan agar kunjungan Xi dapat berkontribusi secara konstruktif terhadap penyelesaian berbagai isu di Semenanjung Korea, termasuk kemungkinan pembukaan kembali jalur dialog antara Pyongyang dan Washington. [cnbc]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI