Sabtu, 13 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / UNHCR: Jumlah Pengungsi Global Turun pada 2025, Tapi Masih Capai 117,8 Juta Orang

UNHCR: Jumlah Pengungsi Global Turun pada 2025, Tapi Masih Capai 117,8 Juta Orang

Jum`at, 12 Juni 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Liga Muslim Dunia bersama UNHCR untuk mendukung respons kemanusiaan terhadap kebutuhan mendesak para pengungsi di dunia pada tahun 2022. [Foto: themwl.org]


DIALEKSIS.COM | Dunia - Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan bahwa jumlah orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik, kekerasan, dan penganiayaan mengalami penurunan pada 2025 untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Meski demikian, lembaga tersebut menegaskan bahwa krisis pengungsian global masih berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Dalam laporan tahunan Global Trends 2025 yang dirilis Kamis (11/6/2026), UNHCR mencatat sebanyak 117,8 juta orang di seluruh dunia hidup dalam kondisi pengungsian paksa pada akhir tahun lalu. Angka itu mencakup pengungsi lintas negara, pencari suaka, pengungsi internal, serta kelompok lain yang membutuhkan perlindungan internasional.

Kepala statistik UNHCR, Tarek Abou Chabake, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pengungsi yang berhasil kembali ke daerah asal mereka serta sebagian lainnya memperoleh kewarganegaraan di negara tempat mereka menetap.

Namun, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Barham Salih, mengingatkan bahwa jumlah pengungsi global masih berada pada tingkat yang tidak dapat diterima. Menurut laporan itu, terdapat 41,6 juta pengungsi pada 2025 dan sekitar 40 persen di antaranya merupakan anak-anak.

Mayoritas pengungsi dunia tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, meskipun Kolombia, Jerman, dan Turki masing-masing menampung lebih dari dua juta pengungsi. Sepanjang 2025, sekitar 5,4 juta orang melintasi perbatasan internasional untuk mencari perlindungan, turun 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

UNHCR juga mencatat bahwa tujuh dari setiap 10 pengungsi telah hidup dalam pengasingan selama lima tahun atau lebih. Banyak di antara mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian dalam jangka panjang dan bergantung pada bantuan kemanusiaan.

“Bantuan kemanusiaan telah menyelamatkan nyawa, tetapi tidak pernah dimaksudkan untuk menopang generasi demi generasi secara terus-menerus,” kata Salih.

Di dalam negeri masing-masing, sebanyak 68,7 juta orang tercatat mengungsi sepanjang 2025. Konflik di Sudan menjadi penyebab pengungsian internal terbesar di dunia dengan 9,1 juta orang meninggalkan rumah mereka. Kolombia, Suriah, Yaman, dan Afghanistan juga mencatat jumlah pengungsi internal yang besar.

Sementara itu, sebanyak 4,4 juta pengungsi berhasil kembali ke negara asal mereka pada 2025, angka tertinggi kedua sejak UNHCR mulai mendokumentasikan data pengungsian enam dekade lalu. Sekitar 90 persen dari mereka berasal dari Suriah, Afghanistan, dan Sudan. Selain itu, 10,3 juta pengungsi internal juga kembali ke wilayah asal mereka.

Meski demikian, Salih memperingatkan bahwa banyak kepulangan terjadi dalam kondisi yang belum sepenuhnya aman dan tanpa dukungan infrastruktur dasar yang memadai.

Laporan tersebut juga menyoroti jutaan orang yang masih hidup tanpa kewarganegaraan. Kelompok Rohingya dari Myanmar tetap menjadi populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. Sebagian besar orang tanpa kewarganegaraan tinggal di Bangladesh, Pantai Gading, Thailand, dan Myanmar, sementara hanya sekitar 46.000 orang yang berhasil memperoleh kewarganegaraan pada 2025.

UNHCR juga mencatat penurunan tajam program pemukiman kembali pengungsi. Jumlah pengungsi yang direlokasi ke negara ketiga turun menjadi 116.000 orang pada 2025, dibandingkan 188.000 pada tahun sebelumnya.

Menghadapi 2026, UNHCR memperingatkan bahwa situasi global belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Konflik baru di Iran menyebabkan sekitar 3,2 juta orang mengungsi di dalam negeri pada Maret, sementara lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi di Lebanon hingga pertengahan Mei.

“Setiap penyeberangan laut yang berbahaya dan setiap kematian di gurun adalah kegagalan komunitas internasional,” kata Salih. “Biaya kemanusiaan dari kegagalan itu tidak hanya tercermin dalam statistik, tetapi dalam nyawa manusia.” [rb-AP/abc news]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI