Minggu, 01 November 2026
Beranda / Berita / Dunia / Serangan Rusia-Ukraina Saling Sasar Infrastruktur Energi, 350 Ribu Warga Terdampak

Serangan Rusia-Ukraina Saling Sasar Infrastruktur Energi, 350 Ribu Warga Terdampak

Sabtu, 31 Oktober 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Warga berjalan di dekat mobil-mobil yang rusak setelah serangan pesawat nirawak (drone) Rusia pada 27 Oktober 2026 di Shakhtarske, Oblast Dnipropetrovsk, Ukraina. Setidaknya empat gedung apartemen dan sekitar belasan mobil mengalami kerusakan akibat serangan Rusia di Shakhtarske pada malam hari tanggal 26 Oktober. [Foto: Yurii Tynnyi/Suspilne Ukraine/Global Images Ukraine via Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Moskow - Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi. Akibat serangan tersebut, lebih dari 350.000 warga di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina, kehilangan akses listrik. Sementara itu, sebuah kilang minyak di Rusia bagian barat dilaporkan terbakar setelah dihantam drone Ukraina.

Perusahaan energi swasta Ukraina, DTEK, menyebut pemadaman listrik darurat diberlakukan di Kota Dnipro dan wilayah Oblast Dnipropetrovsk pada Jumat pagi. Gangguan tersebut terjadi akibat kerusakan fasilitas energi setelah serangan Rusia.

Kepala Administrasi Militer Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, mengatakan lebih dari 350.000 orang terdampak pemadaman. Melalui pernyataan di Telegram, ia menyebut petugas masih berupaya memulihkan pasokan listrik.

Di pihak Rusia, kilang minyak di Novokuibyshevsk, Oblast Samara, terbakar setelah menjadi sasaran serangan drone Ukraina. Fasilitas tersebut diketahui memproduksi bahan bakar jet untuk kebutuhan militer Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengklaim pasukannya berhasil menghancurkan dua jet tempur Su-34 Rusia dan menyerang peluncur rudal Iskander. Ia juga memperingatkan adanya persiapan serangan rudal balistik baru oleh Moskow.

Dalam pidato malam dari Kyiv, Kamis (29/10/2026), Zelenskyy mendesak negara-negara sekutu mempercepat pengiriman rudal pencegat, terutama untuk sistem pertahanan udara Patriot. Ukraina disebut masih menghadapi kekurangan serius amunisi pencegat untuk menghadapi rudal balistik Rusia.

Eskalasi serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. Negosiasi baru yang dimediasi Amerika Serikat diperkirakan berlangsung bulan depan di Abu Dhabi.

Namun, harapan perdamaian masih dibayangi ketegangan politik dan belum tercapainya kesepakatan mengenai jaminan keamanan. Sementara itu, gencatan senjata energi yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 11 Oktober dilaporkan belum menghasilkan perkembangan berarti. [eo-cnbc]

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI