Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Saat Minyak Jadi Senjata, AS Tak Berkutik

Saat Minyak Jadi Senjata, AS Tak Berkutik

Sabtu, 28 Maret 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud saat memimpin Arab Saudi. Foto: net


DIALEKSIS.COM | Internasional - Hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir dikenal stabil dan saling menguntungkan. Riyadh bahkan kerap dipandang sebagai sekutu strategis Washington di kawasan Timur Tengah. Namun, sejarah mencatat satu momen penting ketika hubungan itu sempat memanas yakni saat embargo minyak tahun 1973 yang mengguncang ekonomi global.

Peristiwa tersebut dipimpin oleh Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud, sosok pemimpin yang dikenal tegas dalam memperjuangkan kepentingan dunia Arab. Kebijakan embargo minyak diambil sebagai respons atas dukungan AS terhadap Israel dalam Perang Yom Kippur 1973.

Perang itu pecah pada 6 Oktober 1973, ketika Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel. Konflik ini merupakan upaya negara-negara Arab untuk merebut kembali wilayah yang hilang dalam Perang Enam Hari 1967.

Sebagai bentuk tekanan politik, pada 17 Oktober 1973 negara-negara anggota OPEC yang didominasi negara Arab memutuskan mengurangi produksi minyak dan menghentikan ekspor ke negara-negara pendukung Israel, termasuk Amerika Serikat. Kebijakan ini langsung mengguncang pasar energi global.

Produksi minyak Arab Saudi anjlok drastis dari sekitar 10,5 juta barel per hari menjadi 5,5 juta barel. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dari sekitar USD3 menjadi USD12 per barel—kenaikan hingga 300 persen dalam waktu singkat.

Krisis energi pun tak terelakkan. Di Amerika Serikat, dampaknya terasa nyata: antrean panjang di SPBU, lonjakan harga bahan bakar, hingga inflasi yang menembus sekitar 12 persen. Pertumbuhan ekonomi pun melambat signifikan, menjadikan embargo ini sebagai salah satu krisis ekonomi paling serius pada era tersebut.

Di sisi lain, embargo justru membawa keuntungan besar bagi Arab Saudi. Pendapatan minyak melonjak dari USD2,6 miliar pada 1972 menjadi USD8,3 miliar pada 1973. Lonjakan ini membuka jalan bagi pembangunan besar-besaran, modernisasi ekonomi, serta penguatan cadangan devisa negara.

Embargo berlangsung hingga Maret 1974 sebelum dicabut secara bertahap. Namun dampaknya bertahan lama. Amerika Serikat mulai mengubah strategi energinya mulai dari diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis melalui pembentukan Strategic Petroleum Reserve (SPR) pada 1975, hingga peningkatan efisiensi energi nasional.

Selain itu, Washington juga meningkatkan diplomasi dengan negara-negara penghasil minyak Arab. Perlahan, hubungan kedua negara kembali membaik. Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, kerja sama ekonomi dan keamanan kembali diperkuat, termasuk dalam sektor energi dan penjualan alat pertahanan.

Di balik keberaniannya, Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud harus menghadapi akhir hidup yang tragis. Ia wafat pada 25 Maret 1975 setelah ditembak oleh keponakannya sendiri, Faisal bin Musaid al-Saud, di istana Riyadh.

Motif pembunuhan ini hingga kini tidak sepenuhnya jelas. Versi resmi menyebut adanya dendam pribadi terkait kematian saudara pelaku pada 1965. Sementara itu, sejumlah spekulasi lain menyebut faktor psikologis hingga kemungkinan motif politik, meski tidak pernah terbukti secara kuat.

Kisah embargo minyak 1973 menjadi bukti bagaimana kekuatan energi dapat digunakan sebagai alat geopolitik yang sangat efektif. Warisan kebijakan Raja Faisal tidak hanya mengubah arah ekonomi global, tetapi juga membentuk ulang hubungan antara negara-negara besar hingga hari ini.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI