Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Milisi Pro-Iran Mulai Bergerak, Serangan Sporadis ke Target AS-Israel Meningkat

Milisi Pro-Iran Mulai Bergerak, Serangan Sporadis ke Target AS-Israel Meningkat

Rabu, 04 Maret 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Para petempur kelompok Houthi. Foto: AP/Osamah Abdulrahman


DIALEKSIS.COM | Internasional - Sejumlah kelompok dan milisi pro-Iran mulai melancarkan serangan sporadis di berbagai titik kawasan Timur Tengah sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.

Aksi-aksi ini terjadi setelah Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat tinggi lainnya.

Sejak itu, satu per satu kelompok yang berafiliasi atau bersekutu dengan Iran menyatakan sikap dan bergerak melakukan serangan terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan.


Kataib Hizbullah

Milisi Syiah Irak ini bersumpah akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “agresi Amerika” terhadap Iran.

Sebelumnya, Komando Operasi Gabungan Irak mengonfirmasi adanya serangan udara yang menghantam markas Pasukan Mobilisasi Populer di Jurf Al Shakr, utara Provinsi Babil. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dua personel dan melukai tiga lainnya.

Sejumlah sumber keamanan menyebut serangan balasan kemungkinan dilancarkan oleh unsur-unsur yang berafiliasi dengan Kataib Hizbullah.


Hizbullah

Kelompok yang berbasis di Lebanon ini turut terlibat dalam eskalasi konflik dengan meluncurkan serangan udara dari wilayah Lebanon ke arah Israel utara. Hizbullah mengklaim serangannya menghantam pangkalan udara Israel sebagai balasan atas tewasnya Khamenei.

Serangan tersebut disebut telah dimulai sejak 1 Maret dan masih berlanjut dalam beberapa hari terakhir, menambah ketegangan di perbatasan Lebanon“Israel.


Houthi

Milisi penguasa sebagian wilayah Yaman ini menyatakan kesiapan mereka untuk mengganggu lalu lintas di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.

Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, menegaskan bahwa pihaknya akan “melawan tirani Amerika dan Israel.” Ia bahkan menyebut pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai target yang sah.

Selain itu, Houthi juga menyerukan demonstrasi massal di seluruh Yaman guna menunjukkan dukungan terhadap Iran.


Saraya Awliya Al-Dam


Kelompok milisi Irak ini mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas di Bandara Internasional Erbil pada 1 Maret.

Dalam pernyataannya, mereka menyebut aksi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam Iran dan sebagai pembelaan atas kedaulatan Irak dari apa yang mereka sebut sebagai agresi “Zionis-Amerika.”


Kataib Sayyid Al-Shuhada


Melalui juru bicaranya, Kadhem Habib Al-Fartousi, kelompok ini menyatakan kesiapan untuk merespons setiap pelanggaran Amerika Serikat terhadap kedaulatan Irak. Kataib Sayyid Al-Shuhada dikenal sebagai salah satu milisi proksi Iran yang aktif di Irak dan Suriah.


Harakat Al-Nujaba

Kelompok milisi Irak lainnya, Harakat Al-Nujaba, juga menyatakan keterlibatan dalam perlawanan terhadap AS dan Israel. Mereka menyerukan para pejuangnya untuk bersiap membantu Iran.

Platform yang berafiliasi dengan kelompok ini bahkan mengindikasikan bahwa kepentingan energi dan fasilitas milik AS di Timur Tengah berpotensi menjadi sasaran berikutnya.


Shanghai Cooperation Organization

Berbeda dengan kelompok milisi bersenjata, Shanghai Cooperation Organization (SCO) menyatakan dukungan politik terhadap Iran. Organisasi yang diprakarsai China dan Rusia itu mengutuk keras serangan AS-Israel terhadap Teheran.

Meski demikian, SCO tidak menyatakan keterlibatan militer. Dalam pernyataannya, organisasi tersebut menegaskan bahwa penggunaan kekerasan tidak dapat diterima dan penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog serta saling menghormati kepentingan masing-masing pihak.

Eskalasi ini menandai meluasnya konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat ke berbagai front kawasan, dengan risiko ketidakstabilan yang semakin besar di Timur Tengah.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI