Beranda / Berita / Dunia / Longsor di Filipina, Mengubur Bus Pekerja Tambang dan Sebuah Desa

Longsor di Filipina, Mengubur Bus Pekerja Tambang dan Sebuah Desa

Rabu, 07 Februari 2024 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Relawan membantu warga mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah tanah longsor di Maco, Provinsi Davao de Oro, Filipina selatan, Rabu (7/2/2024). [Foto: Philippine Red Cross via AP]


DIALEKSIS.COM | Dunia - Tim penyelamat sedang berjuang untuk menemukan puluhan orang hilang setelah tanah longsor mengubur bus dan rumah di sebuah desa pertambangan emas di Filipina selatan.

Tanah longsor, yang dipicu oleh hujan lebat, membawa sebagian lereng gunung mengalir ke sebuah desa terpencil di Provinsi Davao de Oro di pulau Mindanao pada Selasa (6/2/2024) malam, menewaskan sedikitnya lima orang, dengan 31 orang terluka dan tiga orang dievakuasi dengan helikopter.

“Jalanan tetap tidak dapat dilalui, dan tidak ada sinyal ponsel di daerah tersebut,” kata militer melalui Facebook pada hari Rabu (7/2/2024).

Juru bicara pemerintah provinsi Edward Macapili mengatakan tidak jelas berapa banyak orang yang terjebak di rumah mereka ketika tanah longsor melanda Desa Masara.

Lima jenazah berhasil dikeluarkan dari lumpur, kata Macapili, namun tidak jelas apakah mereka berada di dalam bus.

Dia mengatakan dua bus yang diparkir di luar tambang, yang dioperasikan oleh perusahaan Filipina Apex Mining, hendak membawa 28 orang pulang kerja, kantor berita AFP melaporkan. Delapan penambang melompat keluar dari jendela bus atau lari sebelum lumpur menelan mereka.

Pasukan tentara, polisi dan penduduk setempat terpaksa menghentikan pencarian mereka pada Selasa malam karena kegelapan dan kekhawatiran akan terjadinya lebih banyak tanah longsor. Upaya penyelamatan dilanjutkan pada Rabu pagi.

“Pekerjaan penyelamatan terhambat oleh jarak pandang yang terbatas dan longsor yang terputus-putus,” kata Apex Mining dalam sebuah pernyataan.

Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di sebagian besar negara kepulauan ini karena wilayahnya yang bergunung-gunung, curah hujan yang tinggi, dan penggundulan hutan yang meluas.

Sekitar 600 penduduk desa yang tinggal di dekat daerah yang terkena longsor telah dievakuasi ke komunitas yang lebih aman.

Dalam beberapa minggu terakhir, lebih dari selusin penduduk desa tewas akibat banjir dan tanah longsor, menurut pejabat tanggap bencana. Hujan deras telah memaksa puluhan ribu orang mengungsi ke tempat penampungan darurat.

Filipina juga sering dilanda badai, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa badai tersebut akan semakin kuat seiring dengan semakin panasnya dunia akibat perubahan iklim. [Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda