Beranda / Berita / Dunia / Keamanan Laut Merah: Resolusi DK PBB Tak Mampu Redam Ancaman

Keamanan Laut Merah: Resolusi DK PBB Tak Mampu Redam Ancaman

Kamis, 11 Januari 2024 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Foto: AFP


DIALEKSIS.COM | Dunia- Resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB untuk meredam ancaman terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah belum manjur. Serangan terhadap kapal-kapal yang melintas justru kian gencar.

Pada Kamis (11/1/2024), Aljazirah melaporkan bahwa orang-orang bersenjata yang mengenakan seragam militer dan masker hitam telah menaiki sebuah kapal tanker minyak di dekat Oman. Informasi itu merujuk sebuah perusahaan keamanan maritim Inggris dan otoritas Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

Yang terbaru dalam rentetan insiden pelayaran di wilayah tersebut, sekitar empat atau lima orang menaiki kapal St Nikolas yang berbendera Kepulauan Marshall sekitar pukul 07.30 waktu setempat pada Kamis, sekitar 50 mil laut sebelah timur Sohar di Oman dan kemudian menuju Bandar-e-Jask di Iran, menurut Ambrey, perusahaan keamanan maritim.

Tankertrackers.com, yang melacak dan melaporkan pengiriman minyak mentah global, mengidentifikasi kapal tersebut sebagai St Nikolas dan mengatakan kapal tersebut membawa “minyak Irak”. Dikatakan bahwa kapal tanker itu sebelumnya bernama Suez Rajan dan telah disita oleh Pemerintah Amerika Serikat karena mengangkut minyak Iran yang dikenai sanksi.

Ambrey juga mengatakan kapal tanker yang baru diganti namanya itu sebelumnya dituntut dan didenda karena membawa minyak Iran yang dikenai sanksi, yang disita oleh otoritas AS. Perselisihan selama setahun berakhir dengan Departemen Kehakiman AS menyita satu juta barel minyak mentah Iran.

Perusahaan pelayaran Yunani Empire Navigation, yang mengoperasikan kapal tersebut, mengakui kehilangan kontak dengannya. Dikatakan bahwa awak kapal tersebut terdiri dari 18 warga Filipina dan satu warga negara Yunani.

Perusahaan juga mengatakan kapal tersebut membawa 145 ribu ton minyak dari Basra ke Aliaga di Turki. Pengiriman di wilayah tersebut telah ditingkatkan kewaspadaannya setelah berminggu-minggu terjadi serangan pesawat tak berawak dan rudal oleh pemberontak Houthi Yaman di Laut Merah.

Kelompok Houthi telah menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah untuk menunjukkan dukungan kepada kelompok bersenjata Palestina Hamas dan menentang serangan Israel di Gaza. Insiden-insiden tersebut terkonsentrasi di Selat Bab al-Mandab, di barat daya Jazirah Arab. Insiden pada Kamis terjadi di dekat Selat Hormuz, antara Oman dan Iran.

Pada Rabu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi yang menuntut agar Houthi yang bersekutu dengan Iran mengakhiri serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan membebaskan Galaxy Leader yang dioperasikan Jepang yang ditangkap tahun lalu.

DK PBB secara implisit mendukung satuan tugas pimpinan AS yang membela kapal-kapal di tengah meningkatnya ketegangan akibat serangan di salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia. Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield mengatakan kepada dewan tersebut, “Jika serangan Houthi terus berlanjut, akan ada konsekuensinya.”

Kelompok Houthi di Yaman sejauh ini telah melakukan 26 serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah sejak menyita Galaxy Leader dan 25 awak multinasionalnya pada 19 November.

Mohammed Ali al-Houthi, ketua komite revolusioner tertinggi Houthi Yaman, bereaksi setelah DK PBB menuntut kelompok bersenjata tersebut segera mengakhiri serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. “Kami menyerukan Dewan Keamanan untuk segera membebaskan 2,3 juta orang dari pengepungan Israel-Amerika di Gaza,” ujarnya.

Mohammed Abdulsalam, negosiator utama Houthi mengatakan kepada Reuters bahwa tindakan Houthi di Laut Merah tak akan mengganggu proses damai dengan Arab Saudi. Menurutnya, kedua perkembangan tersebut “tidak ada hubungannya” satu sama lain.

Abdulsalam malah menyalahkan AS dan Israel karena mengobarkan api kekerasan di wilayah tersebut, dan mengatakan serangan Houthi bertujuan untuk mendesak gencatan senjata di Gaza yang dilanda perang. “Pihak yang menyeret kawasan ini ke dalam perang yang lebih luas adalah pihak yang membiarkan berlanjutnya agresi dan pengepungan yang berlangsung lebih dari 100 hari di Jalur Gaza,” kata Abdulsalam.

Kepala eksekutif perusahaan pelayaran raksasa AP Møller-Maersk memperingatkan potensi dampak besar terhadap perekonomian global karena berlanjutnya serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah.

“Hal ini berpotensi menimbulkan konsekuensi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan global,” kata Vincent Clerc kepada Financial Times.

“Kami mendesak komunitas internasional untuk memobilisasi dan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk membuka kembali Selat [Bab al-Mandab]. Ini adalah salah satu arteri utama perekonomian global dan saat ini sedang tersumbat.” [republika.id]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda