DIALEKSIS.COM | Internasional - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terbaru yang menargetkan sejumlah wilayah di Israel, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu (22/3/2026). Dalam pernyataannya, IRGC menyebut serangan tersebut menewaskan lebih dari 200 orang.
Media Al Jazeera melaporkan bahwa target di Israel meliputi instalasi militer dan pusat keamanan di sejumlah kota, seperti Arad, Dimona, Eilat, Beersheba, dan Kiryat Gat.
Selain itu, serangan juga diarahkan ke pangkalan militer di kawasan Teluk, yakni Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait serta Pangkalan Al Minhad dan Al Dhafra di UEA.
Namun, laporan media The Times of Israel menyebutkan bahwa lebih dari 100 orang mengalami luka-luka akibat serangan rudal Iran, tanpa adanya laporan korban jiwa di wilayah Israel hingga saat ini.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan sistem pertahanan udara telah diaktifkan saat serangan berlangsung, namun gagal sepenuhnya mencegat rudal yang masuk.
Sebagai langkah darurat, pemerintah Israel menutup sekolah dan melarang pertemuan dengan jumlah lebih dari 50 orang hingga Selasa. Di sisi lain, Israel juga dilaporkan melancarkan serangan balasan yang menargetkan infrastruktur pemerintah di Teheran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggambarkan situasi tersebut sebagai “malam yang sangat sulit dalam kampanye untuk masa depan kita.”
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini semakin memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan AS dan Israel turut menjadi sasaran serangan Iran.
Arab Saudi dilaporkan menetapkan status persona non grata terhadap atase militer dan staf Kedutaan Iran, serta memberikan waktu 24 jam untuk meninggalkan wilayahnya. Langkah serupa sebelumnya juga telah diambil oleh Qatar.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 24 jam. Ia mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Situasi keamanan di kawasan hingga kini terus memanas, dengan potensi eskalasi konflik yang semakin meluas dan berdampak signifikan terhadap stabilitas global.