Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Gencatan Senjata AS–Iran Disorot, Investigasi Serangan UNIFIL Jadi Perhatian

Gencatan Senjata AS–Iran Disorot, Investigasi Serangan UNIFIL Jadi Perhatian

Kamis, 09 April 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

PM Israel Benjamin Netanyahu Foto:dok. Ohad Zwigenberg/Pool via Reuters


DIALEKSIS.COM | Dunia - Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama internasional. Langkah ini dinilai mampu meredam sementara konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata tersebut pada Selasa (7/4). Keputusan itu diambil setelah Washington menunda rencana serangan terhadap situs energi Iran, menyusul meningkatnya ketegangan akibat penutupan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut angkat bicara terkait kesepakatan mendadak tersebut. Pada Rabu (8/4), Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan dukungan terhadap langkah Trump dalam menyepakati gencatan senjata dengan Iran.

Meski demikian, sebelumnya Israel dilaporkan terkejut atas keputusan tersebut. Tidak hanya menyepakati penghentian sementara konflik, Trump juga disebut menerima sepuluh poin tuntutan yang diajukan Iran.

Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada hasil investigasi awal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL). Serangan tersebut menewaskan tiga prajurit TNI pada 29“30 Maret.

Dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, New York, Selasa (7/4), juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengungkapkan temuan awal terkait insiden tersebut.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan bukti yang ada, termasuk analisis lokasi dan fragmen proyektil, serangan pada 29 Maret berasal dari peluru utama tank kaliber 120 mm.

“Proyektil tersebut ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur menuju Ett Taibe,” ujar Dujarric.

Perkembangan ini menambah kompleksitas situasi di kawasan Timur Tengah, di tengah upaya meredakan konflik melalui jalur diplomasi.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI