Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / F-15E AS Ditembak Jatuh di Iran, Rekor “Tak Terkalahkan” Akhirnya Patah

F-15E AS Ditembak Jatuh di Iran, Rekor “Tak Terkalahkan” Akhirnya Patah

Minggu, 05 April 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Pesawat tempur AS F-15E. Foto: Ist/net


DIALEKSIS.COM | Teheran - Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Iran pada 3 April malam waktu Vietnam. Insiden ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya pesawat tempur AS jatuh di wilayah udara Iran sejak konflik berlangsung.

Pejabat Amerika Serikat yang mengetahui kejadian tersebut secara tidak resmi mengonfirmasi kepada Reuters bahwa pesawat yang jatuh merupakan F-15E dengan dua awak di dalamnya. Kedua pilot dilaporkan berhasil melontarkan diri menggunakan parasut.

Pada pagi hari 4 April, satu pilot telah ditemukan, sementara kondisi pilot lainnya belum dijelaskan lebih lanjut.

Jet “Tak Terkalahkan” yang Akhirnya Tumbang

F-15 selama ini dikenal sebagai salah satu jet tempur paling tangguh milik AS. Sejak dioperasikan pada akhir 1970-an, pesawat ini menjadi tulang punggung superioritas udara Amerika, terutama dalam menghadapi jet tempur Soviet seperti MiG-29 dan Su-27.

Reputasinya semakin menguat setelah tampil dominan dalam Operasi Badai Gurun 1991, di mana varian F-15C mencatat 34 kemenangan udara dari 37 pertempuran. Bahkan, sebelum insiden di Iran, F-15 belum pernah kehilangan pesawat akibat tembakan musuh dalam berbagai operasi militer AS.

Rekor inilah yang membuat F-15 dijuluki sebagai “jet tempur tak terkalahkan”.

Kekuatan dan Keunggulan F-15E

Varian F-15E Strike Eagle dikenal sebagai pesawat tempur multiperan dengan kemampuan serangan darat dan udara sekaligus. Pesawat ini mampu membawa muatan senjata hingga 10,4 ton melalui lebih dari 25 titik pemasangan.

Persenjataannya meliputi rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM, rudal anti-kapal AGM-84 Harpoon, bom berpemandu presisi GBU-31, hingga bom nuklir B61.

Keunggulan lainnya terletak pada radar AESA APG-82(V)1 yang memungkinkan pesawat memetakan medan sekaligus mengunci target secara bersamaan. Sistem kokpit ganda juga membuat pembagian tugas lebih efektif antara pilot dan perwira sistem senjata (WSO).

Meski memiliki kemampuan tempur tinggi, F-15E memiliki satu kelemahan utama: tidak dilengkapi teknologi siluman.

Desainnya yang berasal dari era 1980-an membuat pesawat ini memiliki penampang radar (RCS) besar, sehingga mudah terdeteksi oleh sistem pertahanan udara modern.

Di wilayah dengan sistem pertahanan berlapis seperti Iran, F-15E berpotensi terkunci radar dari jarak ratusan kilometer oleh sistem seperti S-300 atau Bavar-373.

Selain itu, dua mesin jet F100 yang bertenaga juga menghasilkan jejak inframerah besar, membuatnya rentan terhadap rudal pencari panas, termasuk MANPADS.

Mantan Kolonel Angkatan Darat AS, Myles Caggins, menyebut insiden ini sebagai “peristiwa penting”.

Menurutnya, meskipun sebagian sistem pertahanan udara Iran telah dilemahkan melalui serangan sebelumnya, ancaman dari rudal portabel seperti MANPADS tetap tinggi terhadap jet non-siluman seperti F-15.

Jatuhnya F-15E ini tidak hanya menjadi pukulan simbolis bagi AS, tetapi juga menandai perubahan dinamika pertempuran udara di kawasan tersebut.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI