Selasa, 09 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Ekspor Minyak Tertekan, Irak dan UEA Cari Rute Baru di Luar Selat Hormuz

Ekspor Minyak Tertekan, Irak dan UEA Cari Rute Baru di Luar Selat Hormuz

Selasa, 09 Juni 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Seorang karyawan Perusahaan Minyak Basra, bekerja di Ladang Minyak dan Gas Nahr Bin Umar di pinggiran kota Basra, Irak selatan, pada 29 April 2026. [Foto: Hussein Faleh/AFP/Getty Images]


DIALEKSIS. COM | Bagdad - Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat pembangunan serta perluasan jalur pipa minyak alternatif guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik kawasan.

Pemerintah Irak pekan lalu menyetujui percepatan ekspor minyak melalui jaringan pipa Kurdistan-Turki. Kapasitas pengiriman ditargetkan meningkat dari sekitar 220 ribu barel per hari menjadi 770 ribu barel per hari melalui pelabuhan Ceyhan di Turki.

Langkah itu diambil setelah data QuantCube Technology menunjukkan ekspor Irak merosot tajam karena sebagian besar minyak negara itu selama ini bergantung pada jalur Hormuz. Irak tercatat mengekspor sekitar 10 juta barel minyak melalui selat tersebut pada April, jauh di bawah sekitar 93 juta barel sebelum konflik.

Sementara itu, UEA juga mempercepat pembangunan pipa minyak baru menuju Fujairah di pantai timur negara itu. Proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2027 tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ekspor Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) sekaligus mengurangi ketergantungan pada Hormuz.

Meski memiliki alternatif melalui Fujairah, para analis menilai Irak berada dalam posisi yang lebih rentan dibandingkan UEA maupun Arab Saudi karena pilihan jalur ekspornya lebih terbatas.

Namun, kapasitas pipa alternatif di kawasan Teluk masih jauh di bawah volume sekitar 20 juta barel minyak dan produk petroleum yang setiap hari melintasi Selat Hormuz sebelum konflik. Selain membutuhkan investasi besar, pembangunan jalur ekspor baru juga memerlukan waktu panjang dan kerja sama lintas negara.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih berada jauh di bawah tingkat normal, mencerminkan berlanjutnya dampak konflik terhadap perdagangan energi global. [jw-cnbc]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI