DIALEKSIS.COM | Helsinki - Proyek pusat data Google di Finlandia memasuki penyelidikan pidana setelah pembukaan ratusan hektare hutan dilakukan ketika penilaian dampak lingkungan belum rampung. Kepolisian Oulu menyelidiki dugaan kerusakan lingkungan pada lokasi proyek di Muhos, Finlandia utara.
Menurut laporan Yle, Kamis (29/10/2026), penyelidikan menyasar kegiatan persiapan pembangunan oleh Tuike Finland Oy, anak usaha Google. Informasi awal kepolisian menunjukkan adanya ketidakjelasan dan kekurangan dalam pekerjaan drainase serta pengelolaan air di lokasi tersebut.
Kepolisian telah menerima lima permintaan penyelidikan terkait proyek Muhos dan menggabungkannya dalam satu pemeriksaan. Dugaan pelanggaran lain masih dapat ditentukan seiring perkembangan penyelidikan.
Skala pembukaan hutan menjadi salah satu sumber kontroversi. Yle melaporkan sekitar 330 hektare hutan telah dibuka di Muhos dan hampir 200 hektare di Kajaani. Kedua lokasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur pusat data Google di Finlandia.
Badan Perizinan dan Pengawasan Finlandia, Lupa- ja valvontavirasto (LVV), sebelumnya telah meminta penghentian kegiatan persiapan yang mengubah lingkungan di kedua lokasi. Instruksi tertanggal 6 Oktober 2026 itu berlaku sampai proses penilaian dampak lingkungan diselesaikan.
Dalam keterangan resminya, LVV menyebut pekerjaan yang telah berlangsung mencakup penebangan pohon, pengupasan lapisan tanah atas, pembangunan jalan dan area penyimpanan, serta perubahan saluran air. Kegiatan tersebut dinilai menimbulkan dampak yang semestinya diperiksa melalui kajian lingkungan.
Kepala Departemen Lingkungan LVV, Tommi Muilu, menjelaskan bahwa perubahan besar sebelum kajian selesai dapat mempersempit pilihan alternatif proyek dan peluang mencegah dampak buruk. Karena itu, penilaian lingkungan perlu dilakukan sebelum keputusan pelaksanaan dan pekerjaan persiapan yang substansial.
Persoalan di Muhos juga menyangkut pengelolaan air. Dalam pembaruan resmi pada 22 Oktober 2026, LVV mengungkapkan rencana pembangunan sekitar sembilan kilometer saluran drainase baru. Sebagian besar telah dikerjakan ketika pemberitahuan drainase disampaikan pada 18 September, padahal pemberitahuan seharusnya diajukan sedikitnya 60 hari sebelum pekerjaan dimulai.
Otoritas turut menyoroti batuan serpih hitam dan material tanah yang dapat menghasilkan keasaman. Penggalian serta pengeringan berisiko meningkatkan keasaman dan kandungan logam dalam air. Hasil pemantauan yang diserahkan perusahaan telah menunjukkan perubahan yang mengarah pada pengasaman.
LVV meminta perusahaan menyerahkan rencana pengelolaan air secara terperinci paling lambat 5 November 2026, termasuk pemantauan independen serta antisipasi limpasan akibat hujan deras dan pencairan salju. Regulator juga menyatakan pekerjaan drainase membutuhkan izin berdasarkan undang-undang tentang air. Tuike telah mengonfirmasi pada 14 Oktober bahwa pekerjaan persiapan di kedua lokasi dihentikan.
Di tengah sorotan tersebut, pimpinan Google Finlandia, Antti Järvinen, menyampaikan permintaan maaf. Dalam pemberitaan Yle pada 14 Oktober, ia mengatakan perusahaan bertindak berdasarkan pemahamannya atas aturan yang berlaku saat itu dan mengembangkan proyek bersama otoritas serta para ahli.
“Saya sangat menyesal kami berada dalam situasi ini. Saya ingin meminta maaf atas hal itu,” kata Järvinen.
Proyek tersebut merupakan bagian dari investasi Google senilai 13 miliar euro yang diumumkan pada 9 September 2026. Dalam pengumuman resminya, Google menyebut dana itu untuk pengembangan infrastruktur digital, energi bersih, dan kemitraan ekonomi di Finlandia selama dua tahun berikutnya, sekaligus menjadi investasi tunggal terbesarnya di Eropa.
Google juga menyatakan akan mendanai pemulihan hutan asli dan lahan basah di sekitar lokasi proyek. Program investasinya mencakup dukungan bagi pembangkit nuklir Loviisa, tambahan kapasitas tenaga angin, serta sistem baterai berkapasitas 94 megawatt.
Sementara itu, penyelidikan kepolisian masih berlangsung. Karena cakupan perkara yang luas, pemeriksaan ditargetkan selesai pada 2027, dengan pembaruan informasi direncanakan pada Desember 2026.