DIALEKSIS.COM | Diaspora - Terlepas dari banyaknya guru besar di kampus Aceh, rangking universitas yang semakin tinggi, kualitas literasi mahasiswa justru sangat memperhatikan. Saya menulis hal ini karena tidak ada yang angkat. Padahal begitu penting.
Sebelum studi PhD di Singapura, saya sempat mengajar di dua kampus. Setiap pertemuan pertama, saya bertanya "Siapa yang seminggu terakhir ada yang membaca buku?"
Tidak ada yang menjawab
Saya tanya lagi, "siapa yang dua minggu terakhir ada membaca satu buku?"
Hening
"Siapa dalam sebulan terakhir ada membaca satu buku saja?"
Juga tidak ada.
Saya bertanya "Jadi kalian ngapain aja?"
Jawabannya: main game, buka tik-tok, nonton podcast, dan semacamnya.
Dalam kelas, saya pun bertanya: Ada yang pernah dengar nama Perang Cumbok?
Hening.
"Oke, Snouck Hurgronje?"
Hening juga.
Demikianlah, mereka pun tak tahu nama Sjahrir, Tan Malaka, bahkan Daud Beureueh... Hasan Tiro ada yang tahu, lalu saya tanya siapa dia, jawabannya "pendiri PA (Partai Aceh)"
Dalam hati, saya menggerutu "kok bisa mereka masuk ke kelas saya..." Masalahnya, ini bukan mahasiswa tahun pertama, tapi tahun ketiga dan keempat. Yang paling lucu "Kalian tahu siapa Soekarno?"
Jawabannya "kalau tidak salah Pak, yang memberikan proklamasi".
Begitulah potret literasi dan wawasan mahasiswa Aceh. Tidak semuanya seperti ini, tentu saja.
Karena pertemuan pertama adalah sesi perkenalan, saya mulai bertanya tentang hal-hal pribadi, termasuk asal kampung dan pekerjaan orang tua. Saya ingin tahu latar belakang ekonomi mereka.
Ternyata, banyak dari mereka dari keluarga yang tidak mampu (Yes, Aceh is the poorest province in Sumatra since 2001) dan orang tua mereka tidak memiliki tradisi membeli buku atau membaca di dalam rumah. Ternyata pula pendidikan mereka sebelumnya dari SD, SMP, dan SMA juga tidak menanamkan tradisi membaca. Dan guru-guru sekolah pun tidak banyak yang gemar membaca.
Jadi ketimbang menjajali mahasiswa dengan teori-teori yang abstrak. Saran saya, jadikan kelas sebagai tempat membedah buku. Beri mahasiwa PDF bacaan, topik terserah mereka, seminggu sekali mereka membahas apa yang dibaca.
Tugas pendidik, untuk situasi begini, adalah menjadikan mahasiswa pembaca yang baik dan (semoga) kritis. [mma]