Logo Dialeksis - Masker
utu pangdam
Beranda / Liputan Khusus / Dialetika / Corona Telah Mengubah Kampus dari Tatap Muka Menjadi PJJ

Corona Telah Mengubah Kampus dari Tatap Muka Menjadi PJJ

Minggu, 15 Maret 2020 08:35 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM - Setiap manusia tidak menginginkan sakit. Bila diserang penyakit akan ada perlawanan dan upaya membentengi. Apalagi kini seluruh penjuru bumi digempur dengan wabah corona. Seranganya tidak kelihatan, namun dapat mematikan.

World Health Organization (WHO) sudah mengubah status infeksi Covid-19 dari public health emergency of International concern menjadi Pandemi (Wabah yang berjangkit serempak dimana mana). Wabah yang berasal dari Wuhan, China ini sudah menjadikan manusia di muka bumi “panik”.

Tidak terkecuali di Indonesia, wabah ini sudah ada menyerang pejabat negara. Menteri Sekretaris negara, Pratikno secara resmi mengumumkan bahwa Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, sudah positif terkena corona (Covid -19).

Menurut Pratikno, kepastian tersebut sudah atas izin keluarga Menhub Budi, terlebih tugas Menhub memang sangat terdepan dan aktif dalam penanganan covid-19 di Indonesia. Kondisinya sudah membaik dan dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

Penjelasan juru bicara negara sudah mengisyaratkan, serangan gelap yang tak kasat mata ini akan menerpa siapapun dia. Pandemi telah membuat manusia di dunia panik. Berbagai upaya mengantisipasi serangan gelap ini dilakukan.

Tidak terkecuali dengan kampus, tempat manusia menempa diri mendapatkan ilmu. Kampus tempat manusia berkumpul, berinteraksi, juga dipengaruhi oleh Covid-19. Banyak kegiatan di kampus “terpaksa” dibatalkan.

Kampus kampus ternama di bumi Pertiwi ini sudah mengambil langkah mengantisipasi corona. Dari sejumlah kampus itu, seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM), misalnya, sudah mengubah kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam bentuk kuliah tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). 

Demikian dengan sejumlah kampus  lainya sudah melakukan  “pemagaran” dalam pencegahan penyebaran Infeksi virus corona., khususnya di lingkungan kampus.

Dari berbagai sumber yang berhasil Dialeksis.com dapatkan, aktifitas di kampus di negeri ini “benar-benar” mengantisipasi serangan corona.

UI misalnya, direkturnya Profesor Ari Kuncoro telah menetapkan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran infeksi Covid-19 di lingkungan UI. Mengantisipasi berbagai keadaan yang mungkin terjadi.

Ari Kuncoro berkomitmen, UI punya kewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan segenap warganya, serta sebagai partisipasi dalam upaya pengendalian penyebaran infeksi Covid-19.

UI sudah melakukan kajian yang komprehensif dan mendalam, berdasarkan data dan informasi yang relevan. Termasuk, perkembangan global infeksi Covid-19. Pengalaman berbagai negara dalam menghadapinya, serta petunjuk dan pedoman yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

UI sudah mengeluarkan surat edaran nomor: SE-703/UN2.R/OTL.09/2020. UI sudah mengingatkan dan mendorong seluruh dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan, untuk mempraktikkan dan membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia guna meningkatkan kesehatan dan daya tahan terhadap penyakit, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat terdekat.

Ari Kuncoro meminta seluruh dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan UI untuk secara konsisten menerapkan berbagai tindakan pencegahan penularan penyakit. Terlebih khususnya infeksi Covid-19.

Selama masa pandemi infeksi Covid-19, UI sudah menganjurkan dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan UI untuk tidak datang ke Kampus, apabila mengalami sakit atau kondisi badan sedang tidak bugar.

Bila dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan UI yang mengalami gejala infeksi Covid-19, atau memiliki anggota keluarga serumah yang mengalami gejala tersebut, pihak UI meminta untuk melaporkan diri pada Sistem Surveilens Covid-19 Universitas Indonesia melalui tautan http://bit.ly/surveilanscoronaFKMUI.

Soal KBM UI menerapkan kebijakan tidak ada lagi kuliah tatap muka. Sejak 18 Maret 2020, hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020, tatap muka diubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

UI sudah menyiapkan format PJJ. Pimpinan Fakultas dan Program Studi diminta untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan para dosen untuk dapat menyelenggarakan PJJ.

Namun, UI juga masih tetap melakukan KBM tatap muka dalam bentuk praktik. Seperti praktik laboratorium, praktik klinik, praktik di industri, dan praktik di berbagai institusi. Ada catatanya, dimana terlebih dahulu memastikan bahwa tempat-tempat praktik tersebut menerapkan upaya pencegahan penularan infeksi Covid-19.

UI juga tidak kaku dalam menerapkanya dilapangan. UI memberikan kebijakan pada para pimpinan Fakultas dan Program Studi. Praktik “praktik itu dapat dijadwal ulang disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

Praktik lapangan seperti kuliah kerja nyata dan praktik belajar lapangan dapat ditunda atau dijadwal ulang. Namun dalam praktik lapangan di masyarakat tidak dapat dijadwal ulang dan tidak dapat diganti dengan metode lain.

Penyelenggaraan tetap dilakukan disertai dengan tindakan kewaspadaan dan pencegahan penularan infeksi Covid-19 dengan sebaik mungkin. Sehubungan dengan penerapan PJJ, pihak UI meminta mahasiswa tidak lagi mendiami kost, namun untuk sesegera mungkin kembali ke keluarga.

UI juga sudah meminta seluruh dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, untuk membatalkan berbagai kegiatan. Kegiatan dimaksud dapat mengundang kerumunan banyak orang. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan dan pencegahan penularan infeksi Covid-19.

Namun, untuk kegiatan yang tidak dapat ditunda, misalnya ujian seleksi masuk UI, uji kompetensi nasional, angkat sumpah, kegiatanya dilaksanakan dengan menerapkan tindakan kewaspadaan dan pencegahan penularan infeksi Covid-19 sebaik mungkin.

Demikian dengan Rektor UGM, Panut Mulyono, juga sudah mengeluarkan surat edaran, sehubungan dengan perkembangan Covid-19. UGM lebih cepat dua hari dari UGM dalam menerapkan PJJ. Bila UI dimulai pada 18 Maret, UGM pada 16 Maret 2020.

UGM juga sudah menyiapkan konten pembelajaran dari berbagai sumber melalui sistem manajemen pembelajaran yang dikembangkan melalui https://elok.ugm.ac.id atau sistem lain yang digunakan dosen dan mahasiswa,” jelas Panut.

Dosen juga akan menggunakan platform seperti youtube, email, grup sosial media, diskusi online untuk KBM. Pihak UGM meminta mahasiswa untuk aktif di sumber-sumber belajar berbasis daring. Dosen menerapkan bland learning dalam pembelajaran dengan bobot yang dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan dan perkembangan kondisi kegawatdaruratan.

UGM juga telah menyiapkan fasilitas interaksi secara daring melalui Webex https://ugm-spark.webex.com. Dengan aplikasi itu dosen bisa berinteraksi dengan mahasiswa seperti kegiatan bimbingan, konsultasi, dan ujian. Mereka juga diperkenankan menggunakan aplikasi lain seperti skype, zoom meeting, dan lain-lain.

UGM juga menerapkan kebijakan untuk kegiatan ujian dan pendadaran dengan peserta terbatas dapat dilakukan di dalam ruang ujian. Status kelulusan seseorang ditentukan pada rapat yudisium. Ijazah tetap diberikan kepada mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus dalam rapat yudisium.

Soal kegiatan yang mengundang kerumunan orang, UGM juga menerapkan kebijakan sama seperti UI. Ada yang ditunda (workshop, pengabdian masyarakat dan lainya), namun dapat dijadwal ulang. Kebijakan UGM nyaris sama dengan UI.

Selian itu pihak UGM menegaskan, membatasi mobilitas ke ke dalam dan luar negeri. Termasuk menutup kedatangan maupun pergi ke China, Italia, Korsel, dan Iran sampai Mei 2020. Termasuk pula menutup mobilitas ke dan dari negara-negara yang masuk ke dalam list WHO sebagai negara yang memiliki penularan lokal.

Bagaimana dengan Aceh?

Corona telah membuat semua pihak waspada dan berusaha mencegahnya. Tidak ketinggalan di Bumi Serambi Mekkah. Plt Gubernur, para SKPA, Bupati, Camat dan berbagai pihak, sudah memberikan himbauan untuk hidup sehat dan upaya mencegah serangan pandemi ini.

Himbauan, pembahasan corona untuk saat ini bagaikan tak lekang dari bibir manusia. Ada kekhawatiran dan berharap, agar serangan gelap yang tidak mengenal pangkat dan jabatan ini segera hilang dari muka bumi.

Untuk kampus, apa yang sudah diterapkan oleh UI dan UGM dan sejumlah kampus lainya, apakah juga akan diterapkan sejumlah kampus yang ada di Aceh? Provinsi paling ujung barat Sumatra ini juga sudah  menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pihak kampus sudah melakukan antisipasi. Apalagi melihat perkembangan corona yang senantiasa menjadi pembahasan. Terlibih lagi, ketika Mensesneg Pratikno sudah mengumumkan Menteri Perhubungan terkena corona. Namun bila ada kampus yang belum menerapkan PJJ, sudah saatnya menyediakan payung sebelum hujan.

Corona gempuranya di dunia ini memang menakutkan. Manusia menghadapi “lawan” yang tak kasat mata. Namun tidak perlu panik. Tantangan itu harus dihadapi. Manusia bukan hanya berupaya mencegahnya. Akan tetapi manusia harus punya sandaran yang kuat, kepada sang pencipta penyakit. 

Pencipta yang maha segala galanya menciptakan penyakit untuk menguji ketangguhan manusia dan harus  berupaya untuk mendapatkan penawarnya. Corona merupakan tantangan, bagaimana manusia menyikapinya? (Bahtiar Gayo)

Editor :
Redaksi

BPMA pangdam
riset-JSI
Komentar Anda
syamsul rizal hari guru