DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar tentang kondisi kesehatan Risman Rachman dengan penanganan di rumah sakit akibat masalah jantung pada 24 Januari 2026 membuat dada saya sesak. Ketika pemberitahuan itu muncul di dinding Facebook Shaivan Nur, seketika rasa takberdaya menyergap saya sedang berada di Jakarta begitulah saya sampaikan kepada Shaivan. Jarak fisik terasa seperti tembok yang menahan satu sapaan, satu pelukan, atau setidaknya kehadiran di samping ranjang.
Saya langsung menghubungi istri Bang Risman untuk memastikan kabar dan menanyakan apa yang bisa saya bantu dari jauh. Suara di ujung telepon menenangkan sekaligus menguatkan; ia menjelaskan perkembangan terkini dan berharap doa dari semua yang mengenal Bang RR panggilan akrab kami padanya.
Menulis tentang sosok yang dekat dengan hati selalu berisiko menyingkap emosi yang belum sempat ditata. Tanpa sadar mata ini menjadi basah ketika tangan ini menulis namanya. Risman bukan sekadar kawan ngopi; ia adalah mentor, teman diskusi, dan guru yang mengajarkan ketangguhan.
Ada banyak pelajaran yang saya petik dari kebersamaan kami. Di warung kopi Cut Nun Ule, di tengah gelas kopi dan canda, Bang Ris pernah berpesan yang hingga kini saya simpan disanubari terdalam jadi pedoman hidup: "Jadilah emas di mana pun berada; jadilah diri sendiri dengan cara yang membuat orang kagum dan menghormati." Pesan sederhana itu menjadi pemantik, sekaligus tenaga yang menempa langkah saya hingga hari ini.
Bang Ris bukan tipe yang diam ketika melihat keadaan. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap produktif menulis menuangkan ide, gagasan, dan kritik yang lahir dari pengalamannya. Sikapnya yang terus berkarya bukan hanya menunjukkan semangat personal, tetapi menjadi suri teladan bagi generasi muda, bahwa berkarya tidak mengenal usia, dan komitmen pada masyarakat adalah panggilan yang tak boleh padam.
Percakapan dengan Bang Ris selalu menyisakan kehangatan dan semangat. Kami sering berdialektika saling menguatkan, saling menantang gagasan hingga tak heran banyak orang ingin menghabiskan waktu ngopi dan berdiskusi bersamanya. Dari percakapan itu, saya belajar seni berpikir kritis yang tak kehilangan empati.
Ada pula kebiasaan yang selalu membuat saya risau: kebiasaan merokoknya yang begitu kencang. Sebagai sahabat sekaligus murid, saya tak henti mengingatkan agar berhenti. Ia menjawab setengah bercanda, setengah serius: "Tanpa rokok, mati gagasan, dek; inilah asupan ide agar bisa menghasilkan karya." Sebuah alasan yang lucu sekaligus mengiris hati -- karena kami tahu betapa rokok itu menempel pada ritme hidupnya.
Bang RR adalah sosok yang telah hidup melewati berbagai era: konflik, bencana, hingga masa damai. Ia tumbuh dan ditempa oleh sejarah dan kondisi yang memaksa dirinya menjadi pengorban dan pengubah. Sepanjang hayatnya, ia mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk Aceh. Tak heran banyak yang kagum dan memberi penghormatan kepadanya sebuah pengakuan yang tak mudah diraih.
Kegigihan dan keteguhannya bukan semata soal ketegaran pribadi, tetapi tentang rasa tanggung jawab pada masyarakat. Ia tak pernah puas hanya menjadi pengamat; ia lebih memilih turun tangan, menulis, berdiskusi, dan menggerakkan orang lain melalui gagasan.
Berada jauh saat kabar buruk datang membuat penyesalan menjadi teman terdekat. Banyak hal yang ingin saya katakan langsung: agar ia berhenti merokok, agar ia menjaga diri, agar ia tahu betapa besar pengaruhnya bagi kami semua. Namun penyesalan harus segera berubah menjadi tindakan menghubungi keluarga, menyampaikan doa, dan mengajak komunitas menjaga serta mendoakan kesembuhannya.
Kepada pembaca Dialeksis, ini bukan sekadar curahan rasa personal. Ini panggilan untuk menghargai mereka yang telah menjadi pilar pemikiran dan tindakan di masyarakat. Mari kita jaga, dukung, dan beri ruang bagi mereka untuk beristirahat dan pulih.
Semoga obat dan perawatan membantu menguatkan tubuhnya. Semoga napasnya kembali tenang dan hari-hari yang penuh ide itu bisa ia jalani lagi. Bagi yang mengenal Bang RR kirimkan doa, kirimkan salam, dan bila memungkinkan, ulurkan tangan.
Saya menutup kata dengan harapan sederhana bahwa sosok yang selalu menebar gagasan itu masih diberi kesempatan untuk menuliskan bab-bab berikutnya. Apapun kondisi yang berlangsung, jejaknya telah terpatri: sebagai mentor, penggerak, dan insan yang cinta Aceh.
"Jadilah emas di mana pun berada." Pesan yang terus menuntun langkah kami.
Bagi banyak orang, Bang Risman bukan sekadar nama atau penulis opini yang kerap muncul di ruang publik. Ia adalah ingatan hidup tentang keberanian bersikap dan konsistensi berpikir. Dalam banyak kesempatan, ia selalu berdiri pada posisi yang mungkin tidak populer, tetapi jujur dan berangkat dari nurani.
Ia mengajarkan bahwa berpikir kritis tidak harus bising, dan berbeda pendapat tidak mesti bermusuhan. Dalam forum-forum diskusi, Bang Ris kerap menenangkan suasana dengan humor tipis dan argumentasi yang tajam. Ia memberi contoh bahwa intelektualitas sejati justru lahir dari kerendahan hati untuk mendengar dan kesabaran untuk menjelaskan.
Tulisan-tulisan Bang Risman adalah rekam jejak kegelisahan sosial. Ia menulis bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan untuk menggugah kesadaran. Dari isu konflik, keadilan, hingga arah pembangunan Aceh, gagasannya selalu berpijak pada keberpihakan kepada rakyat kecil.
Ia percaya bahwa tulisan adalah bentuk paling jujur dari perlawanan yang beradab. Melalui paragraf-paragrafnya, ia menantang kekuasaan yang abai, mengkritik kebijakan yang timpang, sekaligus memberi harapan bahwa perubahan selalu mungkin diperjuangkan.
Ada satu pelajaran penting yang sering luput kami sadari yakni Bang Risman tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengikuti jalan pikirannya. Ia membiarkan kami bertumbuh dengan cara masing-masing, sembari mengingatkan agar tidak kehilangan integritas.
Keteladanannya justru hadir dalam hal-hal sunyi kedisiplinan membaca, ketekunan menulis, dan keberanian menjaga sikap. Ia menunjukkan bahwa militansi sejati bukan tentang kemarahan, melainkan tentang keteguhan menjaga nilai, bahkan ketika keadaan tidak berpihak.
Kabar sakitnya Bang Risman menjadi pengingat keras bagi kami semua, bahwa para pejuang gagasan pun memiliki batas fisik. Karena itu, saat ini yang paling ia butuhkan bukan hanya kekaguman, tetapi dukungan nyata dan doa bersama.
Mari kita jaga ruang-ruang diskusi yang telah ia hidupkan. Mari kita rawat api gagasan yang telah ia nyalakan. Dan mari kita doakan agar Bang Risman diberi kekuatan, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali menyapa kita dengan senyum tenang dan pikiran yang tetap menyala.
Bang RR, di banyak warung kopi, namamu masih disebut. Di banyak meja diskusi, pandanganmu masih menjadi rujukan. Dan di banyak hati, doamu kini mengalir bersamaan dengan harapan.
Kami menunggu pulihmu. Kami menunggu ceritamu. Kami menunggu gagasan-gagasanmu kembali mengetuk ruang publik. Aceh masih membutuhkan suara jernihmu. [**]
Penulis: Aryos Nivada (Murid dan Sahabat Risman Rachman)