DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Bagi sebagian orang, jalan pagi hanya menjadi rutinitas untuk menjaga kebugaran. Namun, bagi T. Muhammad Jafar, setiap langkah justru menjadi cara menikmati keindahan alam, mengenang perjalanan sejarah Aceh, sekaligus merefleksikan pentingnya belajar dari bencana masa lalu.
Kepada media Dialeksis, Jafar menceritakan pengalaman jalan paginya di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Perjalanan yang awalnya sekadar olahraga itu justru membawanya kembali mengenang perubahan wajah Lhoong pascatsunami hingga keberadaan Gua Ek Lantie (Ek Leuntie) yang menyimpan jejak tsunami purba ribuan tahun silam.
"Kadang-kadang kita terlalu jauh mencari tempat yang indah. Padahal, hanya dengan berjalan kaki di kampung sendiri, kita bisa menemukan begitu banyak cerita, sejarah, dan pelajaran hidup," ujar Jafar.
Ia bercerita, subuh itu hujan deras mengguyur Lhoong sehingga rencana jalan pagi sempat tertunda. Setelah menunggu hampir satu jam, hujan memang belum sepenuhnya reda. Gerimis masih turun, tetapi ia memilih tetap melangkah.
Keputusan itu ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Udara terasa jauh lebih segar. Kabut tipis menyelimuti pegunungan, sementara pohon-pohon durian, manggis, dan rambutan di kiri-kanan jalan tampak semakin hijau setelah diguyur hujan.
"Gerimis tidak mengurangi semangat. Justru suasananya lebih tenang, lebih sejuk, dan membuat kita benar-benar menikmati setiap langkah," katanya.
Pagi itu ia berjalan lebih dari satu jam dengan jarak tempuh sekitar 5,12 kilometer atau 6.604 langkah.
Rutenya melewati jalan nasional menuju Gunong Geurutee, melintasi jembatan yang menghubungkan kawasan sekitar. Di sisi kiri terdapat Gampong Lamjuhang yang dikenal sebagai sentra durian di Lhoong, sementara di sisi kanan terbentang Gampong Keutapang.
Jafar sengaja memilih memasuki Gampong Keutapang menuju Pasar Lhoong, jalur yang sudah lama tidak ia lewati.
Menurutnya, sebelum tsunami 26 Desember 2004, jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat menuju wilayah Barat Selatan Aceh. Setelah tsunami, pemerintah membangun jalan nasional baru yang lebih lebar dan lurus sehingga arus kendaraan berpindah ke jalur tersebut.
"Begitu melewati jalan lama itu, kenangan seolah datang satu per satu. Saya teringat bagaimana ramainya pasar, kendaraan yang melintas, hingga suasana Lhoong sebelum tsunami mengubah semuanya," kenangnya.
Lhoong, kata Jafar, menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Aceh Besar yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami 2004. Hampir seluruh gampong diterjang gelombang besar, kecuali sebagian kawasan Lamjuhang yang relatif selamat.
Namun, di balik sejarah kelam itu, Lhoong tetap menyimpan panorama alam yang memikat.
Ada Pantai Pasie Jantang yang menjadi lokasi favorit menyaksikan nelayan menarik pukat, terutama saat musim ikan tiba. Ada pula Pemandian Humaira, Air Terjun Suhom, hamparan kebun buah, hingga bentang pegunungan yang membuat kawasan ini selalu menarik untuk dikunjungi.
Jafar juga mengenang masa sebelum tsunami ketika dirinya sering mandi di Sungai Lamsujen. Saat itu, ia bahkan beberapa kali berpapasan dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang masih membawa senjata secara terbuka sambil memikul durian hasil kebun.
"Itu semua adalah bagian dari sejarah Aceh. Sekarang suasananya sudah jauh berbeda. Aceh jauh lebih damai dan masyarakat bisa menikmati alam tanpa rasa khawatir," tuturnya.
Di antara seluruh pesona Lhoong, ada satu lokasi yang menurutnya wajib dikenal masyarakat, yakni **Gua Ek Lantie** di Desa Meunasah Lhok.
Gua yang berada sekitar 50 hingga 60 kilometer dari Banda Aceh itu dikenal para peneliti sebagai **gua tsunami purba** karena menyimpan rekaman geologi mengenai bencana besar yang pernah melanda Aceh sejak ribuan tahun lalu.
Jafar menjelaskan, penelitian para ilmuwan dari Indonesia dan mancanegara menemukan sekitar **14 lapisan endapan** di dalam gua tersebut. Setiap lapisan berasal dari periode tsunami yang berbeda.
"Berdasarkan penelitian, tsunami pernah terjadi sekitar 7.400 tahun lalu, kemudian sekitar 5.400 tahun lalu, 3.300 tahun lalu, hingga sekitar 2.800 tahun lalu. Gua Ek Leuntie merekam sedikitnya 12 kejadian tsunami besar, termasuk tsunami 26 Desember 2004. Ini bukti bahwa alam selalu menyimpan catatan yang bisa kita pelajari," jelasnya.
Menurut Jafar, keberadaan Gua Ek Lantie seharusnya tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga menjadi laboratorium alam yang penting bagi pendidikan, penelitian, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana.
"Kalau kita memahami sejarah alam, kita akan lebih menghargai lingkungan dan lebih siap menghadapi masa depan. Alam selalu memberi tanda, tinggal bagaimana manusia mau belajar darinya," ujarnya.
Ia berharap pemerintah bersama masyarakat terus menjaga situs bersejarah tersebut agar tetap lestari dan semakin dikenal, baik oleh masyarakat Aceh maupun wisatawan.
Menutup ceritanya, Jafar mengajak masyarakat untuk membiasakan berjalan kaki atau berlari ketika berkunjung ke suatu daerah.
Menurutnya, berjalan kaki membuat seseorang lebih mudah menikmati keindahan alam, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menemukan cerita-cerita yang sering terlewat ketika hanya melintas menggunakan kendaraan.
"Setiap tempat memiliki sejarah, setiap jalan menyimpan kenangan, dan setiap langkah selalu memberi pelajaran. Karena itu, jangan hanya datang untuk melihat, tetapi datanglah untuk merasakan. Mulailah dengan berjalan kaki. Dari sana kita akan lebih mengenal alam, sejarah, dan bahkan mengenal diri sendiri," pungkasnya.
