Jum`at, 18 September 2026
Beranda / Berita / Menyeka Tangis Pejuang Thalasemia: Mari Dukung Rumah Singgah PMI Banda Aceh

Menyeka Tangis Pejuang Thalasemia: Mari Dukung Rumah Singgah PMI Banda Aceh

Jum`at, 18 September 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Gedung PMI Kota Banda Aceh. Foto: dok Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Harapan baru kini memancar bagi para pasien Thalasemia dan kanker yang berasal dari berbagai pelosok daerah di Aceh. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh, di bawah kepemimpinan Ahmad Haeqal Asri, S.Ked., M.M., telah mendirikan fasilitas Rumah Singgah gratis yang berlokasi sangat strategis, hanya berjarak jalan kaki dari RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Kehadiran rumah singgah ini seolah menjadi pelita di tengah himpitan ekonomi yang kerap mencekik para pasien rujukan dari daerah luar kota.

Kisah di balik berdirinya rumah singgah ini bermula dari keprihatinan yang mendalam. Dalam wawancara eksklusif bersama Dialeksis, Ahmad Haeqal Asri menceritakan pengalaman pahit yang ia saksikan sekitar dua tahun lalu. Saat berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk anak-anak pengidap Thalasemia, ia menemukan pemandangan yang menyayat hati banyak pasien dan keluarganya terpaksa tidur bergelimpangan di lantai bawah tangga rumah sakit. Sebelumnya, para penyintas memang kerap lebih memilih tidur di bawah tangga Gedung Onkologi lantaran keterbatasan biaya untuk menyewa penginapan.

"Saya bertanya kepada seorang ibu asal Aceh Barat Daya (Abdya) yang sedang tertidur di sana. Jawabannya sungguh memukul nurani kami. Untuk makan saja susah, apalagi menyewa tempat tinggal," kenang Haeqal bercerita kepada Dialeksis. Uang yang dibawa dari kampung halaman seringkali hanya pas-pasan untuk ongkos transportasi, membuat mereka terpaksa hidup dari bantuan dan belas kasihan orang sekitar selama masa pengobatan di rumah sakit.

Ketika disinggung perihal mekanisme dan akses layanan. Haikal menjelaskan pengelolaan rumah singgah ini dirancang seringkas mungkin untuk meringankan beban pasien. Sistem transfusi di rumah sakit umumnya memakan waktu sekurang-kurangnya dua hari. 

“Hari pertama digunakan untuk proses pendaftaran, dan transfusi darah baru dilakukan pada keesokan harinya. Oleh karena itu, PMI menyediakan fasilitas menginap selama 1 hingga 2 malam tersebut secara cuma-cuma alias 100% gratis,” jelasnya.

Mengenai siapa saja yang berhak mengakses fasilitas ini, Haeqal menyebutkan bahwa sasaran utamanya adalah pasien kurang mampu yang menempuh perjalanan dari luar daerah (selain Kota Banda Aceh dan Aceh Besar-red). Mengingat bangunan rumah singgah yang saat ini masih terbatas tanpa sekat kamar yang tertutup penuh, untuk sementara waktu PMI Kota Banda Aceh berfokus melayani pasien anak-anak dan wanita, beserta pendamping yang juga diwajibkan seorang wanita agar kenyamanan dan privasi tetap terjaga dengan aman.

Haeqal lanjut menerangkan layanan yang diberikan PMI Kota Banda Aceh ternyata tidak berhenti pada penyediaan kasur semata. Mereka juga menyiagakan ambulans gratis bagi pasien yang membutuhkan mobilitas untuk antar-jemput ke rumah sakit. Lebih istimewa lagi, rumah singgah ini dilengkapi dengan fasilitas dapur kecil bagi para keluarga pasien.

"Kami sadar, biaya makan harian di luar adalah beban tersendiri. Karena itu, kami menyediakan dapur beserta bahan makanan pokok sumbangan dari PMI dan para dermawan. Keluarga pasien bisa memasak sendiri di sana, sehingga dana yang tadinya untuk makan atau ongkos transportasi bisa diselamatkan," ungkap Haeqal.

Perjalanan rumah singgah ini berawal dari inisiatif mulia merenovasi gudang kosong yang tak terpakai dengan bantuan dari kolega dan donatur. Awalnya, rumah singgah digagas pada Januari 2025 dengan kapasitas hanya 8 tempat tidur. Karena tingginya kebutuhan, tak jarang tempat ini menampung pasien melebihi kapasitasnya. Namun, berkat bantuan dana rehabilitasi kantor dari pemerintah pada tahun ini, PMI mengalihkan dana tersebut secara khusus untuk memperluas bangunan rumah singgah menjadi kapasitas 10 hingga 12 tempat tidur.

Kehadiran fasilitas menginap ini beriringan erat dengan layanan suplai darah dari PMI. Bagi penyintas Thalasemia, penggunaan stok darah baru dari donor sangat membantu menaikkan kadar hemoglobin secara lebih signifikan dan bertahan lebih lama. PMI Banda Aceh saat ini dengan tangguh rutin menyuplai 3000 hingga 4500 kantong darah setiap bulannya guna melayani 26 rumah sakit. Di RSUD dr. Zainoel Abidin sendiri, rata-rata terdapat 20 - 30 pasien yang melakukan transfusi setiap harinya.

Meski langkah kecil telah dimulai oleh PMI, Haeqal menegaskan bahwa penderitaan para pasien ini bukanlah beban yang patut mereka pikul sendirian. Kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali adalah sebuah panggilan kemanusiaan yang mendesak. "Penyakit yang mengharuskan mereka melakukan transfusi seumur hidup sudah menjadi penderitaan yang luar biasa berat. Jangan biarkan mereka semakin menderita hanya karena kita menutup mata dan enggan mengulurkan tangan untuk menyediakan tempat berteduh sementara," tegasnya.

Di akhir perbincangannya, Ahmad Haeqal Asri menitipkan pesan emosional yang sangat menggugah nurani. Ia mengajak seluruh multistakeholder baik pemerintah daerah dan pusat, sektor swasta melalui dana CSR, instansi perbankan, BUMN/BUMD, hingga masyarakat luas untuk peduli terhadap kepedihan mereka dan ikut ambil bagian.

"Rumah singgah ini bukan sekadar bangunan bata dan semen, ini adalah pelukan hangat dari kita semua untuk mereka yang sedang bertaruh nyawa demi kesembuhan. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan, semua pihak harus peduli terhadap penderitaan mereka. Kebaikan dan sedekah Anda sekecil apa pun adalah napas kehidupan bagi anak-anak ini. Mari jadikan Aceh sebagai ladang amal, di mana tidak ada lagi air mata keputusasaan dari pasien miskin yang tak punya tempat bernaung." - Ahmad Haeqal Asri, S.Ked., M.M.

Dukungan nyata yang berkelanjutan dari berbagai pihak amat krusial agar denyut operasional rumah singgah ini terus hidup. Kepedulian kita adalah kekuatan bagi para pejuang Thalasemia untuk terus merajut masa depan mereka tanpa harus dihantui rasa putus asa.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI