Beranda / Advertorial / Pelestarian Alat Musik Tradisional Dinilai Perlu Masuk Kurikulum Sekolah

Pelestarian Alat Musik Tradisional Dinilai Perlu Masuk Kurikulum Sekolah

Minggu, 21 Agustus 2022 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nora
Peserta pelatihan seni tradisi Aceh 2022 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Sabtu (20/8/2022) di Banda Aceh.[Foto: Nora/Dialeksis] 

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kesenian adalah ekspresi budaya yang bisa dimunculkan dari tarian, sastra, dan alat musik. Indonesia memiliki beragam seni dan kebudayaan beragam. Salah satunya provinsi Aceh yang memiliki alat musik tradisional. 

Alat musik dari Aceh ini digunakan untuk pengiring tari, hiburan, acara kebudayaan, sampai upacara adat. Contoh alat musik dari Aceh yaitu Arbab, Rapai, Geundrang (gendang), Serunee Kalee (Serunai), dan masih banyak lagi. Alat musik tradisional ini menghasilkan suara yang indah dan merdu. 

Praktisi Kesenian Aceh, Zulkifli mengatakan cara menjaga tradisi alat musik Geundrang itu perlu pengembangan dan pengajaran di bangku sekolah, agar pelajar dan anak muda bisa lebih mengenal tentang tradisi di daerahnya.

"Salah satu caranya, diadakan kegiatan pelatihan kesenian untuk mewadahi minat anak-anak muda Aceh ini," kata Zulkifli saat diwawancarai Dialeksis.com pada pelatihan seni tradisi Aceh 2022 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Sabtu (20/8/2022) di Banda Aceh.

Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu pemukul. Geundrang dijumpai di daerah Aceh Besar dan juga dijumpai di daerah pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara.

Para peserta sedang mengikuti latihan alat musik Geundrang dan dipandu oleh pelatih yang ahli dibidangnya. [Foto: Nora/Dialeksis]

Pria kelahiran Banda Aceh itu mengatakan, selama 20 tahun terakhir eksistensi alat musik pukul Geundrang ini cenderung sangat menurun. Salah satu faktornya, kata Zulkifli, ketidaksediaan alat atau harga alat musik itu cenderung mahal bagi generasi muda.

"Menurut saya kalau sudah difasilitasi oleh pemerintah otomatis pasti bisa membantu, kemudian perlu juga keseriusan kita dalam menjaganya tradisi ini bagaimana," ujar Zulkifli yang juga akrab dipanggil Jol Kande.

Menurutnya, untuk menjadikan alat musik Geundrang sebagai warisan budaya itu perlu keseriusan bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dari pelaku seni, termasuk juga penerapan di kurikulum sekolah.

"Kalau kita merasa ini penting, maka dibutuhkan langkah konkret. Secara pendidikan formal maupun non formal, maka di sekolah itu dimasukkan ke dalam suatu kurikulum yang pasti gitu. Bukan hanya seni yang dibanggakan tetapu dibutuhkan untuk dipelajari secara konsisten," jelasnya lagi.

Jol Kande menyebutkan, dari 23 kabupaten kota di Aceh, Kota Banda Aceh menjadi daerah yang paling sering menampilkan dan melestarikan alat musik Geundrang ini. Karena, di Banda Aceh terdapat banyak alat dan komunitas seni pun lebih banyak dibandingkan di daerah lainnya.

"Apalagi Banda Aceh ibukota provinsi Aceh maka lebih sering digelar acara yang berkaitan dengan kesenian. Pemerintah sangat mendukung untuk eksistensi alat musik seni ini," ungkapnya.

Sebagai pelaku seni, ia mengharapkan adanya keseriusan dari semua pihak untuk memastikan kesenian tradisional ini bisa menghasilkan dan dijadikan menu utama dalam membangun karakter dan memperkuat identitas keacehan.

Kemudian kepada pemerintah, ia berharap agar alat musik kesenian ini dijadikan sebagai salah satu ujung tombak bentuk dari suatu hal yang harus diupayakan bukan hanya pelestariannya, tapi juga kemajuannya untuk bisa menghasilkan produk-produk yang bisa menyesuaikan perkembangan zaman.

"Kalau melihat daerah lain itu, mereka sangat serius dalam melakukan upaya pelestarian warisan daerah masing-masing, baik dari individu atau komunitas maupun pemerintah. Kita serius tapi kualitas dan kuantitasnya juga harus dikembangkan," pungkasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, S.S0s, M.M, mengatakan pelatihan kesenian tradisi ini bertujuan untuk mendorong bakat minat anak-anak sekolah dan pegiat seni yang bergabung di sanggar seni.

Hal itu, kata Nurlaila, agar mereka bisa mempelajari dan mencintai kesenian tradisi Aceh, dan diharapkan mereka mampu mewariskannya dengan baik, apalagi selama pelatihan itu mereka menerima transfer pengetahuan dari narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing.

"Kami berharap mereka bisa mewariskan ilmu itu dengan baik, selanjutnya bisa menjadi penerus bagi warisan seni itu sendiri, kita ajak mereka untuk bisa menjaga seni tradisi Aceh," kata Nurlaila.

Pelatihan Seni Tradisi Aceh 2022 merupakan kegiatan perdana Disbudpar yang berbasis praktik langsung dengan segmen khusus alat musik. Namun, sebelum pandemi Disbudpar Aceh pernah mengadakan pelatihan kesenian secara umum.

"Baru pertama kali ini, kita mengambil pelatihan khusus alat musik itu dan mengundang narasumber kompeten, mahir dan memang berkecimpung di bidang itu dan peserta itu langsung diajak praktik," terangnya.

Lebih lanjutnya, ia mengatakan, dari 3 kelompok seni yang sudah terbentuk diharapkan kedepan bisa membuka kelas yang sama tapi dengan kelas peningkatan kapasitas peserta.

Disbudpar mengajak anak muda agar menjadikan seni tradisi ini sebagai salah satu pengembangan bakat seni di era digitalisasi. Kemudian pihaknya juga mengarahkan anak-anak itu untuk menggali potensi berkesenian.

Selain itu, diharapkan peserta bisa mentransfer pengetahuan mereka kepada rekan-rekan lainnya di sekolah, dan lingkungannya.

"Kami juga ingin membangun kepedulian anak-anak sekolah dan sanggar untuk menyukai seni tradisi Aceh ini," pungkasnya.  

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
distanbun 12
Komentar Anda