DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aksi balap liar yang melibatkan puluhan remaja kembali meresahkan masyarakat di kawasan Ulee Lheue menuju Alue Deah, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Aktivitas berbahaya tersebut kerap terjadi pada waktu menjelang subuh hingga pagi hari selama bulan Ramadan.
Pantauan media Dialeksis.com di kawasan Jalan Rama Setia 1, Gampong Deah Baro, Kecamatan Meuraxa, pada sekitar pukul 06.00 WIB atau setelah salat Subuh, Senin (16/3/2026), sejumlah pemuda terlihat berkumpul dengan sepeda motor mereka di ruas jalan Ulee Lheue menuju Alue Deah. Mereka membentuk beberapa kelompok dan melakukan aksi balap ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi.
Selain memacu kendaraan melebihi batas kecepatan, para pelaku juga melakukan manuver berbahaya yang dapat mengancam keselamatan pengguna jalan lain. Suara knalpot brong yang memekakkan telinga semakin memperparah situasi dan mengganggu ketenangan warga sekitar.
Kondisi tersebut membuat masyarakat setempat merasa resah, terlebih aktivitas balap liar itu kerap terjadi saat masyarakat mulai beraktivitas pada pagi hari.
Para pelaku tidak hanya memacu kendaraan melebihi batas kecepatan, tetapi juga melakukan manuver berbahaya di jalan umum. Suara knalpot brong yang memekakkan telinga menambah kegaduhan dan mengganggu ketenangan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Sejumlah petugas kepolisian juga terlihat berada di lokasi untuk melakukan pengawasan dan penertiban. Polisi tampak membubarkan kerumunan pemuda serta menertibkan kendaraan yang dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi standar.
Meski demikian, warga mengaku aktivitas tersebut masih sering terjadi dan tetap menimbulkan keresahan di lingkungan mereka. Rauhul, salah seorang warga Ulee Lheue, Banda Aceh, mengaku sering terganggu oleh suara bising kendaraan yang digunakan para pelaku balap liar.
“Kami sering terganggu karena suara knalpot yang sangat bising, apalagi kalau ada balap liar seperti ini. Sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak yang mungkin keluar rumah secara tidak sengaja setelah subuh,” ujar Rauhul kepada Dialeksis.com.
Ia berharap aparat terkait dapat mengambil langkah tegas untuk menghentikan aktivitas tersebut karena selain meresahkan warga, balap liar juga berpotensi menimbulkan kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.
Menurutnya, pengawasan dari orang tua juga sangat penting agar anak-anak tidak terlibat dalam kegiatan berisiko tersebut, terlebih di bulan Ramadan yang seharusnya diisi dengan kegiatan positif.
“Hal ini juga harus menjadi tanggung jawab orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka pada malam hari. Jangan sampai mereka terlibat dalam aksi balap liar yang risikonya sangat besar,” tutupnya. [nh]