Beranda / Berita / Aceh / Wantannas Paparkan Strategi Emas Biru dan Hijau di Aceh

Wantannas Paparkan Strategi Emas Biru dan Hijau di Aceh

Sabtu, 24 November 2018 08:17 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh – Sekjen Dewan Ketahanan Nasional Indonesia Letjen TNI. Doni Monardo, memaparkan konsep ketahanan pangan dengan strategi Emas Hijau dan Emas Biru di hadapan para pelaku usasa, perwakilan pemerintah Aceh, pimpinan SKPA dan SKPK, di Ruang Serbaguna Setda Aceh, Jumat 23/11/2018.

Dalam paparannya, Doni mengajak serta seluruh peserta memanfaatkan program tersebut dengan tujuan pemberdayaan perekonomian daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sekretaris Daerah Aceh, Dermawan.MM memberikan sambutan pada saat pertemuan dengan Dewan Ketahanan Nasional Republik Indonesia Bapak Lenjet. TNI. Doni Monardo di Gedung Serbaguna Setda Aceh, Jumat, 23-11-2018.

"Untuk menjalankannya perlu metode pentahelik yaitu kerjasama terpadu antara semua komonen yang ada, mulai dari pemerintah dibantu unsur akademis serta TNI-POLRI," kata Doni. Selain itu dunia usaha hingga komunitas juga harus dilibatkan sehingga program tersebut bisa maksimal.

Program Emas Biru dan Emas Hijau merupakan program Wantannas untuk ketahanan pangan di Indonesia. Emas Biru merupakan aktifitas perekonomian kelautan, di mana masyarakat diajak serta untuk memanfaatkan potensi alam laut hingga geografis lautan di Indonesia. Aceh sendiri, kata Doni, punya peluang untuk besar untuk mendukung ketahanan nasional lewat potensi alam laut. Lagi pula, laut Aceh sangat cocok karena letaknya yang sangat strategis. Sementara Emas Hijau berarti pemanfaatan perekomian dengan cara peningkatan produksi pertanian, perkebunan dan kehutanan.

"Posisi Aceh sangat strategis. Kita dekat dengan Timur Tengah juga dengan India dan Thailand. Artinya pasar untuk kita sangat terbuka dan masyarakat Aceh menjadi yang paling diuntungkan dengan situasi itu," kata Doni.

Doni menyebutkan, pemerintah harus melihat potensi tersebut sehingga program peningkatan kapasitas pertanian dan kelautan bisa dilakukan. Ia memaparkan gambaran data International Trade Center, di mana disebutkan bahwa 1 triliun USD perdagangan global merupakan komuditi yang hampir semuanya ada di Aceh. Misal saja kayu yang perdagangan global mencapai 141 miliar USD. Aceh, sebut Doni merupakan salah satu penghasil kayu terbaik. Jika di Eropa masa panen kayu mencapai 40 tahun, maka di Aceh hanya butuh waktu 10 tahun saja. Doni meminta agar pemerintah bisa memikirkan pengadaan bibit kayu berkualitas yang bisa dibagikan kepada masyarakat sehingga dengan demikian mereka punya jaminan masa depan.

"Kalau komuditi padi saya tidak perlu cerita, di sini memang lumbungnya," kata Doni.

Selain itu, lanjut Doni, komuditi lain yang diketahui banyak di Aceh adalah bahan baku pembuatan parfum dan kosmetik, yaitu nilam. Komuditi ini bantak dikespor ke Perancis dan nilai perdagangan globalnya mencapai 127 miliar USD. Segala bahan komuditi pendukung seperti cendana, gaharu, pinang, serai wangi, kayu manis hingga kemenyan disebut banyak terdapat di Aceh. Karena itu, ia meminta agar masyarakat dan pemerintah memanfaatkan peluang sehingga komuditi yang ada di Aceh itu tidak sia-sia.

"Sayang jika kita membiarkan tanah kita tidak ditanami dengan tanaman yang berpotensi ekonomi bagi masyarakat,"  kata Doni. (rel)

Keyword:


Editor :
Sammy

riset-JSI
Komentar Anda