Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ustad Masrul Aidi Kritik Bahaya Sampah Plastik dan Rokok Dalam Kehidupan Masyarakat

Ustad Masrul Aidi Kritik Bahaya Sampah Plastik dan Rokok Dalam Kehidupan Masyarakat

Selasa, 20 Januari 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ulama Muda Aceh, Ustad Masrul Aidi. Foto istimewa. 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ulama Muda Aceh, Ustad Masrul Aidi, mengkritik persoalan serius sampah plastik, rokok dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang semakin masif dalam kehidupan masyarakat, khususnya melalui kebiasaan sehari-hari di warung dan ruang publik. 

Hal itu disampaikan Ustad Masrul Aidi sebagaimana dilansir media Dialeksis.com dari unggahan akun Instagram resminya, @masrulaidi, pada Selasa, 20 Januari 2026.

Menurut Ustad Masrul, penggunaan plastik dalam penyajian makanan sering kali didasari niat baik, yakni menjaga penganan agar tetap steril dari banyaknya sentuhan tangan.

“Niat baik ini patut diapresiasi, tetapi kita sering lupa dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan. Plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai,” ujar Ustad Masrul Aidi.

Ia bahkan menyindir bahwa plastik tersebut mungkin baru terurai setelah berbagai kerusakan lingkungan terjadi.

“Bisa jadi plastik itu baru selesai terurai setelah konsesi lahan IKN dikembalikan investor dan Kalimantan tenggelam dalam banjir,” katanya.

Ustad Masrul Aidi menilai, prinsip menjaga kebersihan makanan sejatinya dapat dijalankan tanpa bergantung pada plastik, yakni melalui penerapan transaksi syariah yang sederhana: bayar terlebih dahulu, baru makanan disajikan.

“Kalau tidak habis, tentu dibawa pulang. Bukan dihidang dulu, dipegang-pegang, tidak jadi beli, lalu masuk rak lagi dan disajikan ke pelanggan berikutnya,” tegasnya.

Ia mengibaratkan praktik tersebut seperti berharap mendapatkan sesuatu yang suci dan berkualitas, namun justru berakhir pada kondisi sebaliknya.

Lebih jauh, Ustad Masrul Aidi mengaitkan pola transaksi di warung dengan fenomena sosial yang lebih luas, termasuk dalam urusan pernikahan.

“Dari kebiasaan transaksi di warung, berpindah ke transaksi pernikahan. Dipegang-pegang dulu, tidak jadi ‘beli’, lalu disajikan lagi kepada calon berikutnya. Ini transaksi beracun jangka panjang yang berdampak pada generasi,” ungkapnya.

Dalam kritiknya, Ustad Masrul juga menyinggung penerapan syariat Islam yang menurutnya kerap berhenti pada slogan dan formalitas.

“Syariat hanya jadi bahan kampanye dan alokasi anggaran, bukan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia turut mengkritisi budaya merokok yang begitu dimuliakan di ruang publik, mulai dari warung kopi hingga acara keagamaan.

“Asbak dimuliakan di atas meja warkop. Bungkus rokok bahkan disimpan di kantong baju terdepan seperti iklan,” ujarnya.

Ia menyindir ironi modernitas dengan mencontohkan teknologi kendaraan yang telah beralih ke standar ramah lingkungan, namun asap justru berpindah dari knalpot ke mulut manusia melalui rokok.

Ia juga menyoroti perubahan tradisi dalam acara keagamaan.

“Dulu tahlilan diawali dengan asap kemenyan yang wangi. Sekarang ditutup dengan asap rokok agar doa cepat naik ke hadirat Ilahi,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat mulut yang seharusnya basah dengan zikir justru kering oleh asap rokok.

"Aceh seolah telah berubah menjadi “negeri seribu asbak, syariat? Nanti kita urus di akhirat,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI