DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Kesehatan Aceh menegaskan bahwa perempuan memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan akibat paparan rokok, baik sebagai perokok aktif maupun perokok pasif.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya paparan asap rokok di ruang publik, termasuk warung kopi yang kini semakin banyak dikunjungi perempuan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, menyebutkan bahwa paparan asap rokok dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan serius pada perempuan, mulai dari iritasi mata dan paru-paru, asma, hingga penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
“Asap rokok mengandung zat berbahaya seperti karbon monoksida, tar, dan nikotin. Paparan zat-zat ini dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, memperberat asma, hingga menyebabkan obstruksi paru,” ujar dr. Iman kepada media dialeksis.com, Rabu, 14 Januari 2026.
Menurut dr. Iman, di Aceh sebagian besar perempuan yang terdampak rokok justru merupakan perokok pasif. Mereka terpapar asap rokok dari lingkungan sekitar, terutama di ruang publik seperti warung kopi, rumah tangga, maupun tempat kerja.
“Perokok pasif pengaruhnya sangat besar. Banyak perempuan yang tidak merokok, tetapi setiap hari menghirup asap rokok dari orang lain. Jika duduk di warung kopi, sekarang sudah banyak perempuan yang terpapar asap rokok,” jelasnya.
Paparan asap rokok secara terus-menerus, kata dia, menyebabkan perempuan menghirup karbon monoksida yang dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah, serta tar dan nikotin yang bersifat karsinogenik.
Dampak paling serius dari kebiasaan merokok dan paparan asap rokok adalah meningkatnya risiko kanker pada perempuan.
Dr. Iman menyebutkan bahwa kasus kanker pada perempuan, seperti kanker paru, kanker serviks, hingga kanker payudara, memiliki keterkaitan dengan paparan zat berbahaya dari rokok.
“Zat karsinogen dalam rokok menjadi salah satu penyebab kanker. Kita melihat cukup banyak perempuan yang akhirnya terkena kanker, padahal mereka bukan perokok aktif. Ini menunjukkan besarnya bahaya perokok pasif,” katanya.
Dr. Iman menjelaskan, secara biologis perempuan memiliki sistem hormonal dan struktur paru yang berbeda dengan laki-laki, sehingga lebih sensitif terhadap zat beracun dalam rokok. Selain itu, perempuan cenderung terpapar dalam jangka waktu panjang di lingkungan tertutup, seperti rumah dan tempat usaha.
“Kerentanan ini bukan hanya soal kebiasaan merokok, tetapi juga faktor biologis dan lingkungan. Karena itu, dampak rokok pada perempuan sering kali lebih berat,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Aceh mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya asap rokok, terutama di ruang publik dan lingkungan keluarga. Perlindungan terhadap perempuan dan anak dari paparan asap rokok dinilai sangat penting sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.
“Mengurangi kebiasaan merokok dan menciptakan lingkungan bebas asap rokok adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan perempuan,” pungkas dr. Iman Murahman.