DIALEKSIS.COM | Aceh - Hampir dua bulan lebih setelah bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, dampak psikologis pada anak-anak korban terus menjadi perhatian serius. Sejumlah perubahan emosional dan perilaku masih tampak pada kelompok usia ini, menunjukkan bahwa luka tak hanya pada fisik tetapi juga pada ranah mental dan sosial.
Observasi di beberapa pos pengungsian menunjukkan anak-anak yang semula ceria kini tampak lebih pendiam, sering menempel pada orang tua, atau mengalami kesulitan tidur dan konsentrasi. Kejadian banjir setinggi beberapa meter dan longsor yang merusak rumah serta sekolah telah mengubah rutinitas mereka secara drastis, sehingga memicu kecemasan dan ketakutan yang muncul berulang kali hampir dua bulan setelah peristiwa itu.
Penelitian psikologi bencana menunjukkan bahwa pengalaman traumatis seperti ini dapat memicu stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, dan perubahan perilaku yang bertahan dalam jangka panjang, apalagi pada anak yang masih dalam tahap perkembangan emosional dan kognitif.
Menyikapi terhadap kondisi itu, Menurut Dr. Barmawi, S.Ag., M.Si., Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh, anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak psikologis pascabencana.
“Sudah hampir dua bulan berlalu, tapi banyak anak masih menyimpan ketakutan yang tidak hilang begitu saja. Trauma yang tidak ditangani sejak dini berpotensi berkembang menjadi gangguan psikologis jangka panjang,” ujarnya kepada Dialeksis, Minggu (8/2/2026).
Dr. Barmawi menuturkan, seiring berjalannya waktu, gejala trauma yang muncul dapat berubah bentuk. Di awal, banyak anak menunjukkan reaksi kecemasan akut, mimpi buruk, atau ritual mengulang cerita buruk, namun beberapa minggu kemudian bisa muncul sebagai perilaku menarik diri, gangguan konsentrasi, bahkan regresi emosional seperti kembali takut gelap atau takut hujan. Ia menekankan bahwa perkembangan ini perlu diantisipasi melalui layanan dukungan psikososial kontinu yang melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas.
Pakar psikologi ini menegaskan bencana juga memperingatkan bahwa efek psikologis tidak selalu tampak pada fase awal pascabencana, namun dapat muncul atau berlanjut berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami bencana memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan perilaku jika tidak mendapatkan dukungan mental yang memadai.
Kondisi ini juga berdampak pada kehidupan sehari-hari anak. Beberapa orang tua dan pendidik melaporkan fenomena keengganan untuk kembali ke sekolah, lebih sering menangis tanpa sebab jelas, atau penurunan prestasi belajar, indikasi yang kerap muncul ketika trauma masih membebani psikologis anak. Ahli kesehatan mental menekankan pentingnya ruang aman dan dukungan emosional sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.
HIMPSI Aceh bersama relawan kesehatan mental terus memperluas ‘program psikososial’, konseling kelompok, serta pendekatan bermain terapeutik yang dirancang untuk membantu anak mengekspresikan emosi dan membangun rasa aman kembali. Dr. Barmawi menambahkan bahwa pemulihan mental tak boleh berhenti setelah fase tanggap darurat, tetapi harus menjadi agenda jangka panjang yang terintegrasi dengan pendidikan serta kegiatan komunitas.
“Tantangan terbesar bukan hanya mengatasi trauma saat ini, tetapi mencegah efek psikologis yang muncul di masa mendatang termasuk kecemasan berulang ketika terjadi hujan lebat, atau kekhawatiran tentang keselamatan rumah dan sekolah,” ujar Dr. Barmawi.
Pemulihan psikologis anak pascabencana menjadi salah satu penanda penting bagi kembalinya kehidupan normal di Aceh. Selain itu, dukungan terhadap orang tua dan guru juga diakui sebagai kunci penting agar anak dapat pulih secara mental dan sosial di masa yang akan datang. [arn]